Mengapa Stasiun Televisi Gemar Mengeksploitasi Kematian, Kesedihan, Kesengsaraan Masyarakat?


Judulnya cukup panjang, tapi setidaknya itu yang terlintas dalam benak saya sejak ada kasus kecelakaan yang menyebabkan Uje meninggal dunia. Eksploitasi berita serta embel-embel kematiannya melebihi saat wafatnya Gusdur beberapa tahun silam. Tapi bukan soal membandingkan antara Gusdur dan Uje, ini soal kegemaran media massa semacam televisi dalam mengeksploitasi peristiwa haru biru, mendayu-dayu, lebai, dan akhirnya jadi alay. Tambah menyebalkan ketika dijadikan bahan skenario sinetron kejar tayang. Sekarang giliran Taufiq Kiemas, apa mau dibegitukan juga?

Apakah sebegitu butuh duitnya stasiun-stasiun televisi ini supaya para sponsor berdatangan? Akhirnya, bagi saya tentunya, tayangan-tayangan televisi yang ada cuma sampah. Maaf jika menggunakan kata itu, yang masih mendingan paling acara berita, masak memasak, atau siaran pertandingan olahraga seperti bulutangkis, MotoGP, Sepakbola.

Di sisi lain, masyarakat dijejali ajang kompetisi dengan sms berbayar yang pasti sudah direkayasa oleh pihak stasiun televisi. Apakah cuma itu tontonan alternatif masa kini di samping sinetron-sinetron? Bahkan, talk-talk show sekarang juga sama sekali tak berbobot, meski adalah yang lumayan mengedukasi. Cuma ya itu, lagi-lagi eksploitasi kematian, kesedihan dan kesengsaraan bergentayangan di televisi. Untuk apa? Untuk mengajak pemirsa punya rasa empati?

Ya, kita berempati ketika melihat perempuan lumpuh dengan semangat untuk bertahan hidup yang tinggi dan tidak kenal menyerah. Kemiskinan yang melanda negeri ini dengan penipuan angka-angka statistik pemerintah juga telah membuat rakyat susah payah tegar bertahan. Tapi kita tidak butuh tontonan-tontonan seperti itu, apalagi sampai memperlihatkan pencitraan seorang kepala negara yang memberi santunan sementara jutaan rakyatnya teriak kelaparan, supaya air mata kita keluar. Bah!

Namun televisi tetap menyajikan kita acara-acara yang penuh menye-menye dengan balutan dan lakon menarik. Beragam kisah kesengsaraan dan kesedihan yang dialami masyarakat, baik itu soal rumah tangga, kriminalitas, dan sebagainya benar-benar cuma untuk mencari rating. “There’s No Business Like Show Biz” dan semua Frenzy Biz ini ujungnya cuma rating, rating, money, money. Itukah wujud televisi di negara kita?

Sekarang marilah coba kita pikirkan; televisi–khususnya swasta nasional–bisa berkembang karena adanya sponsor, sementara sponsor selalu menyokong acara-acara yang ratingnya tinggi, dan rating tinggi karena banyak masyarakat yang menonton. Artinya, jika tayangan-tayangan sebagaimana saya sebut di atas itu tetap membanjir di layar kaca kita maka pihak stasiun televisi akan berdalih, “Masyarakat yang menyukai tayangan-tayangan semacam itu,” sehingga mereka terus menggeber tiada henti. Jangan-jangan yang namanya rating itu cuma kamuflase mekanisme pasar an sich.

Siapa sih penguasa stasiun televisi saat ini? Apa itu cara mereka berpolitik seolah mendengar tiap jerit? Tapi saya tahu, mereka yang punya uang, merekalah yang berkuasa, meski kita marah.

Faktanya, sering kali kita bilang “Sudah saatnya masyarakat cerdas untuk mengendalikan arogansi penguasa industri penyiaran dengan belajar untuk mematikan televisi”,  tapi presentasenya ternyata banyak dari “kita” yang dikendalikan mereka, tayangan itu pun tak pernah berhenti meski kita matikan berkali-kali. Mungkin saatnya kita melawan.

Saya kok jadi rindu acara-acara semacam kelompencapir, cerdas cermat, dan talk show seperti yang pernah dibawakan dahulu di masa TVRI (saat ini ada acara dialog bagus di TVRI yang saya sukai bertajuk Quo Vadis Indonesia dan forumnya Soegeng Sarjadi).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s