Satu Lagi Gelar Buat SBY: Bapak Prihatin Indonesia


Sepertinya sosok Presiden Indonesia yang satu ini termasuk presiden yang sering mendapatkan gelar dan award dari dalam dan luar negeri. Kurang lebih ada 7 gelar honoris Causa yang diterima SBY. Tahun 2005 Universitas Webster, Inggris, untuk bidang hukum. Di tahun 2006 dia mendapat gelar honoris causa di bidang pembangunan pertanian berkelanjutan dari Universitas Andalas, Padang. Masih di tahun yang sama, SBY mendapatkan lagi gelar tersebut, kali ini dari Universitas Keio, Jepang, karena berkontribusi besar dalam membawa kestabilan politik dan ekonomi di negara yang dia pimpin.

Kemudian dari Universitas Tsinghua, Beijing, China, pada 23 Maret 2013. Gelar honoris causa di bidang ekonomi diberikan atas keberhasilan Presiden dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang impresif. Pada 19 Desember 2012, Universiti Utara Malaysia menganugerahi gelar honoris causa sebagai Pemimpin Perdamaian. Pada 2013, giliran Rajaratnam School of International Studies (RSIS), Nanyang Technological University, Singapura, yang memberikan gelar honoris causa di bidang kepemimpinan dan pelayanan publik.

Selain gelar akademis, SBY juga sering mendapatkan award atau penghargaan dari sejumlah pihak di luar negeri. Seperti Knight Grand Cross in the Order of Bath dari Inggris, Bintang Kehormatan Darjah Kerabat Laila Utama, 2006, oleh Sultan Brunei, Tokoh Berbahasa Lisan Terbaik, 2003, Bintang Asia (Star of Asia), 2005, oleh BusinessWeek, 100 tokoh Berpengaruh Dunia 2009 kategori Pemimpin & Revolusioner Majalah TIME, 2009, oleh TIME. Yang paling mutakhir adalah gelar kontroversial World Statesman Award dari lembaga ACF.

Akan tetapi dari seabrek gelar tersebut, SBY cuma paling bisa bicara “Prihatin” di televisi. Lalu apa sih pengejawantahan yang dirasa rakyat Indonesia dari gelar yang dia dapat? Manfaatnya pun minim sekali. Gelar boleh gelar, semua itu cuma untuk pencitraan dan lucunya mati-matian para staff dan kader partai Demokrat di sekitarnya membela SBY. Seolah mereka sudah gelap mata dan bertujuan cuma “Asal Bapak Senang” saja. Orang-orang yang memang sudah tebal muka meski dicerca oleh rakyat. Nyatanya, SBY tidak butuh apa itu kata rakyat, tapi dia butuh pengakuan dunia. Jadi, suara rakyat sendiri dihantam oleh ajang award-reward dari luar negeri. Sementara itu, di dalam negeri dia cuma bisa bilang, “Prihatin, saya prihatin, saya telah mendengar berita itu dan merasa prihatin… bla bla bla…”

Dulu sebelum menjadi presiden, SBY sudah punya gelar “Yang Terzalimi” sehingga melejitkan perolehan suara partainya dan elektabilitas dirinya. Nah, sekarang saya akan memberikan gelar kepada SBY sebagai Bapak Prihatin Indonesia. Jika di Indonesia pernah ada Bapak Proklamasi dan Bapak Pembangunan, sekarang ini kita telah mendapatkan Bapak Prihatin Indonesia. Selamat, Pak Presiden!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s