Jika Fanatisme Agama Kuasai Negara


Ditulis oleh: Sutomo Paguci

sumber: Kompasiana

Inilah yang terjadi jika kaum fanatis agama kuasai negara. Akan banyak aturan-aturan tak masuk akal dengan dalih agama. Wajar, karena orang yang masuk kelompok ini akan kehilangan daya kritis di otaknya. Yang ada hanya indoktrinasi, indoktrinasi, dan indoktrinasi.

Di Indonesia ada aturan dilarang ngangkang khusus bagi wanita. Selain itu, ada aturan di mana agama jadi ajang pemaksaan: pemaksaan baca tulis Quran, pemaksaan berjilbab, pemaksaan syahadat ulang bagi sekte agama nonmainstream jika hendak menikah, dsb.

Di Turki, bahkan, pramugari Turkish Airlines dilarang memakai lipstik warna merah. Entah apa dampak lipstik warna merah bagi keselamatan penerbangan. Yang jelas secara akal sehat, tidak ada. Sehingga wajar banyak protes keras atas aturan tak masuk akal demikian. Dalam kaitan ini, ada usulan bernada olok-olok, antara lain mengapa lipstik warna merah tak diganti lipstik warna putih saja biar Islami.

Turki memang negara sekuler. Namun pasca berkuasanya kaum Islam konservatif di sana, warna Islam (versi mereka) mulai diberlakukan dengan tegas. Di samping itu, Turki mulai mengambil posisi konfrontasi dengan negara-negara yang berseberangan dengan ideologi politik Islam konservatifnya. Inilah yang terjadi jika agama dibawa-bawa ke politik. Agama akan dijadikan legitimasi konflik terhadap pihak yang berseberangan kepentingan dan ideologi.

Di Arab Saudi, konon diberitakan, ada razia orang ganteng yang masuk ke negaranya. Ada beberapa orang ganteng terjaring razia dan diusir dari negara itu karena ditakutkan akan membuat wanita Arab tergoda pada kegantengan itu. Wuih. Benar-benar.

Di Lembah Swat, perbatasan Pakistan-Afganistan, seorang bocah perempuan bernama Malala Yousafzai diberondong tembakan mematikan oleh gerilyawan Taliban, organisasi politik islam garis keras. Bukan karena Malala melawan Taliban dengan senjata. Melainkan karena Malala melakukan aktivitas advokasi hak pendidikan bagi perempuan di Lembah Swat.

Di Malaysia, para sempalan garis keras tak berkutik di negara itu, berkat keras dan tegasnya hukum diberlakukan di bawah titel “The Internal Security Act 1960″. Di bawah rezim hukum ini siapapun yang merongrong kedaulatan dan keamanan negara, termasuk kaum garis keras, akan ditangkap dan dijebloskan ke penjara tanpa perlu disidangkan dan tanpa perlu batasan waktu berapa lama penahanan dilakukan.

Akhirnya, kaum garis keras di Malaysia mengungsi ke Indonesia untuk menyalurkan syahwat kecanduan agamanya, terutama yang bersifat desktruktif. Maka berdatanganlah ke Indonesia dari Malaysia orang seperti Abu Bakar Baasyir, Nordin M Top, Dr Azhari, dan entah siapa lagi.

Mereka itu (Nordin M Top cs) adalah Islam garis keras yang diduga kuat berpaham Wahabi, yang bersemboyan di mana langit dipijak di situ harus berdiri Negara Islam dan Khilafah. Di luar prinsip mereka adalah thogut dan harus dihancurkan.

Apa yang terjadi di Turki, Afganistan dll niscaya akan terjadi juga di Indonesia jika kaum fanatis agama menguasai negara. Ideologi negara Pancasila, yang sifatnya menyatukan semua elemen bangsa tanpa sekat SARA, akan diganti dengan ideologi politik agama tertentu saja. Lihatlah, di level daerah sudah mulai marak!

Penulis yakin seribu persen, bahwa jika kaum fanatis agama diberi ruang untuk berkiprah lebih luas di sektor publik, maka dunia akan bergerak menuju abad kegelapan. Wanita akan dikekang habis-habisan. Kekerasan akan merajalela dengan alasan agama. Pembatasan interaksi dengan pihak luar akan diberlakukan dengan ketat. Dst.

Itulah yang terjadi jika kaum fanatis agama kuasai negara.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s