Santet Masuk KUHP = Menuju Era Kegelapan Hukum di Indonesia


sumber: http://hukum.kompasiana.com/2013/04/10/santet-masuk-kuhp-menuju-era-kegelapan-hukum-549933.html

Rancangan Undang-Undang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Tepatnya, pasal 292.

(ay 1), “Setiap orang yang menyatakan dirinya mempunyai kekuatan gaib, memberitahukan, menimbulkan harapan, menawarkan atau memberikan bantuan jasa kepada orang lain bahwa karena perbuatannya dapat menimbulkan penyakit, kematian, penderitaan mental atau fisik seseorang dipidana dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau denda paling banyak kategori IV.”

(ay 2),  “jika pelaku tindak pidana tadi melakukan perbuatan tersebut untuk mencari keuntungan atau menjadikan sebagai mata pencaharian atau kebiasaan, maka pidananya ditambah sepertiga.”

————————————————————————-

Seorang wanita Arab Saudi akhirnya dihukum pancung, setelah dinyatakan bersalah telah mempraktikkan sihir yang dilarang di negara kerajaan yang berhaluan keras itu, kata kementerian dalam negeri negara setempat. Amina binti Abdulhalim Nassar dieksekusi di provinsi wilayah utara, Jawf, karena “mempraktikkan ilmu gaib dan sihir” [Arab Saudi].

Penggalan news di atas, hanya satu dari ratusan ribu berita tentang santet, perdukunan, sihir,  magic , dan sejenisnya yangt terarsip oleh Mas dan Mba Google. Belum lagi, jika ditambah dengan (jika mau membuka buku-buku Sejarah Eropa terbitan lama) Isejarah Era Kegelapan di Eropa pada abad pertengahan, Ketika itu, agama (dhi Katolik) begitu berkuasa di sana, sehingga semua yang beda dengan Teks Kitab Suci (secara harfiah) diangap hasil karya Setan dan dunia kegelapan; akibatnya atas nama undang-undang (yang dibumbui agama), semua yang beda itu dihukum mati.

1365608769381277973

Bagaimana di Indonesia? Mungkin tidak sama persis dengan di Eropa, Arab, ataupun Afrika, tapi biasa saja nuansanya sama. Misalnya, ada orang yang tertimpa penyakit aneh, keluar paku dari dalam tubuh, perut kembung/bengkak, atau tiba-tiba linglung berhari-hari, bicara sendiri dan terus menerus, serta mengalami gejala-gejala atau pun sesuatu yang tak normal lainnya, langsung dikatakan sebagai terjena santet, sihir, magic, dan sejenisnya.

Setelah itu, mulai mencari-cari (kira-kira) siapa yang melakukannya; dan jika ada yang dicurigai, kemudian dibumbui dnegan sentimen, ketidaksukaan, atau dendam, maka dalam tempo yang tak lama, yang dicurigai itu akan mengalami sanksi dan hukuman massa.

Kini, jika itu mau dimasukan ke dalam KUHP; maka bisakah membuktikan bahwa SI A, B, C, yang melaukan santet, sihir, dan seterusnya; atau hanya merupakan tuduhan yang berdasar asumsi, tuduhan, asal menuduh, sentimen, dan dendam. Hal sperti itu, justru akan membawa pada kegelapan peradilan dan peradilan yang berdasar bukan bukti nyata serta tanpa bukti.

Atau malah, akan muncul ribuan, bahkan ratusan ribu, dan jutaan tertuduh dari dituduh; mereka adalah orang-orang yang dituduh melakukan perdukunan, sihir, santet, dan seterusnya, hanya berdasar apa kata orang dan gejala-gejala. Pengadilan akan penuh dan sangat sibuk dengan hal tersebut.

Juga, jika memang santet harus dimasukan ke KHUP, maka perlu ada mata kuliah yang berhubungan dan menyangkut santet, dukun, sihir, dan lain-lain pada Fakultas-fakultas Hukum di Sekolah Tinggii dan Universitas-unversitas. Dengan demikian, hakim, jaksa, pengacara bisa menuduh, mengadili, dan membela terdakwa serta klien tindak pidana santet berdasar apa-apa yang mereka pelajari sebelumnya. Plus, harus ada upaya mengilmiahkan Santet, Sihir, Dukun dan seterus sebagai Ilmu yang terstruktur dan imliah, bahkan harus ada pula guru besar Santetilogi, Sihirilogi, Dukunilogi dan dan sejenisnya.

1365609030434159353

2 thoughts on “Santet Masuk KUHP = Menuju Era Kegelapan Hukum di Indonesia

  1. Heran banget…mengapa keputusan tetap dari MK yang memiliki kekuatan hukum menghapus pasal 134. 136 bis dan 137 KUHPidana pada tahun 2006 itu, ternyata bisa dibuat hidup kembali oleh tim revisi. Kan pasal2 itu sdh dihapus karena pasal terbut menyebutkan “siapa yang menghina Gubernur Jendral” jadi bukan yang menghina Presiden RI. Lagian Gubernur Jendral itu kan adanya ketika jaman kolonialisme.

    Heran kok bisa pasal yg sudah dihapus dihidupkan kembali, atas izin siapa? 🙄

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s