Ateis Masa Kini Bukan Komunis, Pak Presiden


Melalui surat sakti bernama supersemar, Pak Harto berhasil membasmi komunis dari bumi Indonesia sekaligus mengantarkan dirinya menuju posisi pemimpin negeri ini. Rezimnya yang sering dijuluki Orde Baru telah meruntuhkan fondasi Nasakom (Nasionalisme, Agama, dan Komunisme) yang katanya digulirkan Soekarno. Akan tetapi, kebijakan politik dalam negeri dari rezim Orde Baru yang menyangkut ketahanan, pertahanan dan keamanan dianggap menggunakan standar ganda. Di satu sisi rezim Orde Baru menghalau gerakan-gerakan yang disinyalir sebagai Islam Politik dengan menampilkan, atau mengangkat wajah Islam yang ramah, pro-status quo, yang berakulturasi dengan budaya lokal. Sementara itu, di sisi lain rezim Orde Baru juga menghalau kebangkitan komunisme dengan mengajak kelompok-kelompok/ormas-ormas keagamaan agar bersama-sama membendung komunisme yang dicap/distempel sebagai ateis, anti-Tuhan, tak beragama, tak bermoral dan sebagainya.

Dalam tulisan saya berjudul Kebebasan Beragama dan Kebebasan Tak Beragama, terlihat bagaimana Orde Baru dan sejumlah institusi “agama” memainkan peranan dalam politik agama resmi dan tidak resmi, agama/kepercayaan yang diakui negara dan yang tidak. Artinya, politisasi perihal agama, relijiusitas, keyakinan masyarakat, bukanlah hal baru di Indonesia ini. Demi alasan stabilitas politik dan keamanan nasional, gerakan radikal keagamaan berupaya disingkirkan karena dianggap pesaing serta perusak tatanan kebangsaan yang berpijak pada Pancasila sebagai dasar negara. Masih terngiang romantisme bunyi Piagam Jakarta di telinga aktivis-aktivis “agama” yang menginginkan agar tujuh kata sakral dikembalikan sebagai dasar dari bunyi sila pertama Pancasila. Namun, komunisme juga dipandang sebagai sayap radikal dari ideologi yang berseberangan dari apa yang diterapkan oleh rezim Orde Baru. Karena itu, keberadaannya sangat berbahaya terutama bagi kelangsungan rezim tersebut.

Tapi itu semua peninggalan/warisan masa lalu ini tidak berhenti di masanya saja. Bagi kalangan ateis yang puluhan tahun dicap sebagai komunis oleh rezim Orde Baru, tak bisa terus bergeming diam menerima stigmatisasi tersebut. Sama saja dengan kalangan aktivis keagamaan yang menampik disebut teroris ketika mereka berusaha menegakkan syariat agama dengan jalan-jalan yang khusus seperti pengeboman, perampokan bank bersenjata dan semacamnya. Belakangan pun muncul gerakan separatis yang juga menggunakan senjata dalam aksi-aksi mereka demi mencapai tujuan-tujuan tertentu.

Demikian pula dengan kalangan ateis yang sudah bosan dengan kebijakan-kebijakan politik yang menimbulkan sikap diskriminatif di masyarakat, atau sengaja diimplementasikan dalam sistem berbangsa dan bernegara di negeri ini. Mereka menjadi suatu komunitas tertutup yang mengejewantahkan ketegasan sikap diam yang majemuk.

“Ateis sekarang bukanlah komunis, Pak Presiden.” kata seorang kawan saya ketika kami sedang berdiskusi mengenai kolom agama pada KTP, Passport, dan tanda pengenal identitas lain yang dikeluarkan oleh institusi/lembaga negara.

Kalau melihat di luar negeri sana, ateis saat ini terdiri dari kalangan saintis; fisikawan, arkeolog, astronom, dan lainnya yang memang lantang menyuarakan bukti-bukti saintifik untuk meruntuhkan fondasi-fondasi keyakinan dan agama apapun, sesuatu yang tidak begitu bebas dilakukan pada abad-abad pertengahan sampai akhir abad 19. Bahkan, masih terbias samar-samar dan hanya sedikit orang berani melakukannya di sekitar abad 20-an. Fenomena bangkitnya ateis ini juga mengimbas masuk ke Indonesia yang kini berada di era reformasi, tapi justru hendak berbalik kembali ke masa Orde Baru yang menitikberatkan pada peran negara dan institusi sosial seperti agama untuk bersatu padu memberantas kebebasan pemikiran yang dianggap bisa menjerumuskan masyarakat kepada ateisme. Sekali lagi, ateis itu komunis–sesuatu yang dilarang baik oleh agama dan negara.

Banyak situs dan blog-blog baru yang mulai menerjemahkan tulisan para ilmuwan Barat yang mempertentangkan antara bukti-bukti saintifik serta dalil-dalil agama. Semua dibedah dari sudut pandang berbeda. Generasi-generasi Indonesia di masa lalu yang hanya mengenal perintah Tuhan sebagai dalil mutlak, ditentang oleh generasi sekarang yang berani berargumen dengan hal-hal semacam mekanika kuantum, prinsip ketidakpastian, string theory hingga partikel Higgs. Generasi masa lalu tak mengenal itu, tapi mereka dihadapkan lawan yang sama dengan wujud berbeda. Sedangkan negara diminta oleh generasi masa lalu, lagi-lagi demi keteraturan masyarakat, stabilitas politik, untuk menangani “penyimpangan” ini dengan memblokir tulisan-tulisan yang beredar di dunia maya serta menyensor buku-buku terjemahan–salah satunya dengan memperbanyak izin beredar buku-buku agama dibandingkan buku-buku saintis Barat.

Tuhan itu berevolusi, dan babi diharamkan lebih disebabkan pada kenyataan bahwa hewan tersebut sangat berat untuk diternakkan oleh masyarakat yang hidup di gurun pasir meski mengandung gizi yang baik karena merupakan hewan pemakan tanaman paling efisien di bumi dan mampu mengubah 35 persen tanaman yang mereka makan menjadi daging, sementara sapi hanya mengubah 7 persen dari makanannya.

Mungkin di masa lalu kita tidak merasa sebebas kini dalam mengatakan hal-hal semacam itu, tapi ancaman divonis sesat oleh sistem civil society dan juga kebijakan politik negara ini–melalui pasal penistaan serta penghinaan agama–masih tetap sama. Dahulu ateisme dicap berasal dari gerakan dan ideologi politik, tapi kini ateisme berasal dari gerakan civitas akademik. Apakah rangkaian episode renaissance belum berkesudahan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s