Melacak Sejarah Muhammad, Membongkar Hagiografi


sumber: http://superkoran.info/?p=3932

Saya ingin kembali menekankan frasa ini “MUHAMMAD BIN ABDULAH SEBAGAIMANA YANG KITA KENAL LEWAT SUMBER-SUMBER ISLAM.” Mengapa saya merasa perlu menekankan frasa tersebut? Sebab adalah fakta bahwa di luar sumber-sumber Islam, kita tidak pernah mendapatkan sumber-sumber yang signifkan dan detil tentang Muhammad dan ajaran Islamnya. Tidak ada satupun pelaporan dari sumber-sumber non-muslim tentang tindak-tanduk seorang tokoh heroik nabi Arab ini sebelum tahun 634 M (24 tahun setelah sang nabi Arab ini memulai karir kenabiaannya sejak tahun 610, dan dua tahun setelah tahun yang disangkakan sebagai kematian Muhammad, 632). Tidakkah anda terheran-heran dengan fakta ini, yakni 22 tahun karir kenabian Muhammad, dengan peperangan yang begitu heboh, tapi tidak ada satupun laporan peperangan yang dibuat oleh musuh-musuhnya yang sampai kepada kita?

Muhammad seperti yang diceritakan kepada kita lewat Sirat, Sunnah dan Hadits baru muncul dari tulisan muslim 150 tahun di masa Abbasid di Irak, di jaman dan tempat yang sama sekali jauh dari tempat kejadian perkara. Dari sudut pandang akademis, bisakah pelaporan sepihak, yang hanya datang dari lingkaran orang-orang dalam, yang ditulis berdasarkan tradisi oral, dibesar-besarkan oleh legenda dan motif politik  dipercaya validitiasnya? TIDAK. Dari awal kita mengenal sosok Muhammad kita telah disajikan sesuatu tulisan yang seakan-akan menyejarah, valid dan kredibel, dan disodorkan pada kita untuk kita percayai dan jadikan dasar iman. Sungguh memilukan.

HISTORICIZING LITERATURE & HAGIOGRAFI 

Penelaahan yang kritis atas kisah-kisah itu memperlihatkan bahwa ada banyak elemen-elemen yang digunakan dalam kisah itu, mulai dari bahasa-bahasa metaforik, simbolisasi, world-view dari si penulis dan si pembaca, begitu pula elemen-elemen kultural, filosofis dan politik yang melatarbelakangi pemunculan kisah-kisah itu. Singkatnya, kisah-kisah itu tidak memuat laporan sejarah tentang apa yang benar-benar terjadi, melainkan memuat idea-idea si penulis tentang apa yang mereka percaya pernah terjadi, yang kemudian ia coba komunikasikan kepada para pembacanya.

Kisah-kisah itu bukanlah tujuan utama, kisah-kisah itu hanya merupakan cangkang dari suatu pesan-pesan moral dan spiritual yang tersembunyi di dalam kisah itu. Dan sadly to say, ada kalanya dalam beberapa kisah pesan moralnya pun jika dibandingkan dengan cara berpikir kita saat ini ternyata masih bersifat primitive, subyektif, dan out of date, bahkan jelas-jelas mengandung pesan-pesan kekejaman, kekerasan, tindakan asusila, immoral, rasisme, dan diskriminasi. Mau tahu contohnya? Ayat-ayat kekerasan di Perjanjian Lama dan juga di Alquran. Misalkan, ayat-ayat dari allah yang menyuruh Muhammad berpoligami, boleh meniduri hamba sahayanya, boleh merampok harta kafir, dll. Apakah anda masih berpikir itu firman allah? Come on, be mature. Sedari awal saya katakan bahwa kitab-kitab itu adalah hasil karya manusia, ada hal yang baik didalamnya, namun ada hal yang tidak baik juga di dalamnya. Itulah nature dari manusia.

Ketika kita membaca kisah tentang tokoh-tokoh sentral dari agama, satu hal yang harus ada pada kita adalah bahwa apa yang kita baca bukan pelaporan sejarah akurat dan berimbang yang datang dari lingkaran luar si pemercaya, melainkan karya sastra yang dijadikan wahana ekspresi iman dari lingkaran dalam komunitas pemercaya. Kisah-kisah tersebut dijalin dari dua lapisan, yakni lapisan sejarah, dan lapisan idea. Beberapa dari kisah ini bisa jadi diambil dari kejadian nyata yang melibatkan tokoh-tokoh nyata, namun kisah itu telah didempul dengan permak-permak idea, iman, harapan dan subyektifitas si penulis dan komunitasnya. Atau bahkan, seringkali kisah itu tidak pernah terjadi dalam sejarah, namun lewat kisah itu si penulis menjadikannya sebagai bahan untuk memuliakan tokoh panutannya. (Ingat cerita tentang Muhammad & Pengemis Yahudi, yang bagi saya sangat mungkin tidak pernah terjadi, itu hanya karya sastra belaka).

Inilah yang disebut sebagai Hagiografis. Hagio artinya mulia, suci, grafi artinya tulisan, jadi hagiografis adalah karya tulis yang mengisahkan “sejarah” dan kejadian-kejadian mulia dari tokoh-tokoh suci yang seringkali bersifat hiperbolis (berlebih-lebihan) dan tidak mengakar dalam kejadian keseharian  kita. Hagiografis tidak ditujukan sebagai sebuah pelaporan sejarah, melainkan sebagai kisah inspiratif yang darinya si pembaca digiring pada suatu desakan untuk ikut ambil bagian dalam sifat-sifat mulia sang tokoh. Dan untuk menyampaikan idenya ini, dijalinlah kisah-kisah yang tampaknya seperti sejarah, misalnya melibatkan tempat tertentu, jaman tertentu, orang-orang tertentu, disusunlah jalan cerita dan tanya jawab tertentu yang menyoal ini dan itu, kemudian kisah itu ditutup dengan suatu resolusi tertentu, yang tentu saja, kebanyakan untuk memuliakan sang tokoh.

Genre kesusasteraan ini disebut Historicizing literature. Saya tidak menemukan padanan katanya dalam bahasa Indonesia. Historicizing literature bukanlah sejarah (history) meskipun ia melibatkan tempat, dan tokoh tertentu yang ada pada sejarah, ini adalah sebentuk sastra bergenre relijius yang darinya pembaca diharapkan dapat mengambil pesan moral (sekalipun ada beberapa konten maupun pesan moral dari kisah itu jelas-jelas rendah sekali nilainya, ini bisa kita dapatkan dalam hadist-hadist tentang Muhammad yang memotong tangan seorang pencuri dsb, Allah yang mengutuk Miriam karena mengkritik Musa, Allah yang menyuruh Elia memenggal kepala para imam kaum pagan dll. Saya rasa ini tidak pernah terjadi secara sungguh-sungguh, atau Pangeran Sidharta yang bisa berjalan seketika ia keluar dari liang rahim).

Dengan demikian kita bisa mengatakan bahwa kisah-kisah tersebut dijalin dari dua lapisan besar, lapisan sejarah dan lapisan iman. Dan sayangnya apa yang datang pada kita sudah terlalu kental porsi keimanannya. Sehingga dalam banyak kasus kita tidak bisa mengetahui apa yang benar-benar terjadi, selain hanya bisa memahami apa yang ada dalam pikiran si penulis dan motifnya  ketika menuliskan kitab-kitab/kisah-kisah tersebut. Dengan demikian tidaklah salah bila kita mengatakan ada 2 Muhammad (Muhammad Iman/Idea dengan Muhammad Sejarah), ada 2 Yesus (Yesus Iman/Idea dan Yesus Sejarah), dst terjadi pada Musa, Buddha , Krishna dll.

Karena kita telah memulai note ini dengan cerita pencarian akan ‘roh’ Muhammad, maka saya akan mendahulukun tokoh sentral kita ini.

MUHAMMAD IMAN DAN PROBLEMATIKA LOGISNYA

Menurut sumber-sumber muslim, yakni Sirat, Hadist dan Sunnah, Muhammad lahir di Mekkah tahun 570 tepat pada waktu penyerangan Raja Abraha dari Yaman dengan gajah-gajahnya yang perkasa mencoba menyerang Mekah. Ia meningal ketika ia berumur 62 tahun di tahun 632 M. Seperti yang kita ketahui ia menikah dengan Khadijah pada waktu berumur 25 tahun, ditampaki Jibril dan menerima wahyu pertama kali di gua Hira ketika berumur 40 tahun (yakni 610M). Ia menyebarkan agama Islam di Mekkah namun ia ditolak oleh penduduk kota Mekkah dan pada tahun 622 ia diterima di Madinah. Di kota inilah ia mendirikan konsep ummah, yakni suatu konfederasi suku-suku dengan berlatar belakang agama yang berbeda, Islam, Kristen dan Yahudi. 8 tahun kemudian ia menaklukan Mekkah pada tahun 630, dan tahun 632 ia wafat meninggalkan istri-istri dan pengikutnya. Setelah itu dimulailah penyerangan ke segala penjuru, khususnya utara –Yerusalem, Syria, dan Mesopotamia (Irak) serta Persia (Iran) dan juga Mesir.

Muhammad konon selama 22 tahun itu menerima wahyu-wahyu dari Allah via Jibril dan semua wahyu itu dikumpulkan di batu, kulit kayu, kulit binatang, papyrus, dll. Jangan lupa, Muhammad konon tidak bisa baca tulis, sehingga tidak mungkin ia mencontek dari kitab-kitab lain. Selama 22 tahun itu pula ia memberikan contoh hidup yang benar yang dituangkan dalam sunnah-sunnah dan hadist, mulai dari hal-hal sepele seperti mencuci tangan, kaki mana yang harus melangkah duluan ketika keluar dari rumah, doa sebelum makan, doa sebelum melakukan hubungan seks, sampai hak-hak waris. Demikanlah tuturan sahibul hikayat.

SIRAT (BIOGRAFI) NABI

Nah, sekarang tibalah kita pada pertanyaan serius: Dari manakah kita mendapatkan sumber-sumber yang menceritakan tentang kehidupan nabi Arab ini? Sedikit sekali orang yang sadar bahwa kita tidak banyak tahu tentang Muhammad, siapakah dia, keluarganya, karir kenabiannya dll selain dari sumber-sumber muslim sendiri yang ditulis paling tidak 150 tahun setelah wafatnya sang nabi Arab ini. Di luar itu, hanya ada sedikit sekali penyebutan tentang Muhammad. Bahkan sampai akhir abad 7 M orang-orang di kawasan Bulan Sabit Subur (Levante) yang hidup dalam imperialisasi Arab berpikir Muhammad adalah raja Arab pertama, dan tidak pernah terdengar kata Islam dan Muslim! Aneh bukan?

Sumber-sumber sastra yang darinya kita mengenal figur Muhammad, pertama-tama ditulis oleh Ibn Ishaq yg lahir di Medina 704 M (72 tahun setelah kematian Muhammad). Ia meninggal di Baghdad sekitar tahun 761 – 770. Ia diminta oleh Kalifah Al Mansyur untuk menuliskan sejarah para Nabi mulai dari Adam sampai Muhammad. Dan kejadian itu pastinya berlangsung setelah tahun 750 M (120 tahun setelah Muhammmad wafat). Dari manakah Ibn Ishaq mendapatkan sumber-sumber tulisannya? Dari tradisi oral. Dan kita tahu sifat dari tradisi oral sangatlah mudah untuk dibiaskan, dibelokan bahkan dikarang-karang oleh orang-orang yang berkepentingan untuk, misalnya, memuliakan kaum, nenek moyang, tempat asal, atau menghinakan pribadi dan kelompok lain. Dan ini belum selesai. Kita tidak memiliki apapun sisa dari tulisan-tulisan   Ibn Ishaq. Sirat Nabi karya Ibn Ishaq diedit oleh Ibn Hisham di abad ke 9 awal (wafat 833 M – 200 tahun setelah Muhammad). Menurut berita yang polemik, Ibn Hisham sengaja tidak memasukan kisah-kisah nabi yang kontroversial yang akan membuat malu pembacanya sendiri akan tindak-tanduk nabi dan pengikut awalnya.

Kemudian biografi Muhammad juga ditulis oleh Al-Waqidi yang hidup di abad 9 M. Yang menarik dengan karya Waqidi ini adalah kesanggupannya untuk menghadirkan informasi yang mendetil tentang tanggal, tempat bahkan detil percakapan tokoh-tokoh Islam awal bahkan sampai kehidupan kakek Muhammad sendiri, hal mana penulis sirat terdahulu saja (Ibn Ishaq) tidak mampu menghadirkannya. Tidakkah kita layak mencurigai fakta ini? Adalah fakta bahwa apabila seorang menjadi tokoh terkenal, maka setiap orang ingin ikut ambil bagian dalam kesuksesan sang tokoh dan mengait-kaitkan dirinya, sukunya, dengan sang tokoh yang sudah lama meninggal. Toh tidak banyak orang yang akan curiga atau keberatan karena mereka semua sama-sama tidak tahu jelasnya dengan kita!

HADIST

Hadist adalah kisah riwayat yang berisikan ucapan dan tindak-tanduk Muhammad yang didasari atas untaian tradisi oral (isnad) yang berujung pada orang-orang sejaman dengan Muhammad. Dalam bahasa yang sedikit humor bisa dikatakan hadist biasanya diawali dengan frasa : “ diriwayatkan oleh si A anak dari si B, dimana si B pernah denger-denger dari si C, ketika si C nguping pembicaraan dari si D ketika si D melihat si E sedang berbicara dengan Muhammad perihal suatu hal. Beginilah sabda sang Nabi.”  Nah sekarang tanyakanlah pada diri sendiri, gunakan kejujuran, bukan perasaan. Bisakah kita mempercayai validitas Hadist yang ditulis 250 tahun setelah kematian Muhammad?

Dikatakan ada enam Hadis yang otentik/sahih dan benar yang diterima oleh muslim sunni, yaitu, kumpulan hadis :

1. al-Bukhari (m. 870),

2. Muslim ibn al-Hajjaj (m. 875),

3. Ibn Maja (m. 887),

4. Abu Dawud (m. 889),

5. al-Tirmidhi (m.892) dan

6. al-Nisai (m.915).

Dikatakan bahwa pada akhir abad 9 terdapat lebih dari 29,000 hadist bertebaran, dan masing-masing pihak pendukung hadist itu yang pada faktanya memuat begitu banyak kontroversi, inkonsistensi, kesalahan penyebutan waktu dan tempat, mengaku bahwa hadist mereka sahih ! Logiskah ini? Tentu tidak. Jelas bahwa ada motif tertentu dimana Muhammad dan Para Sahabat dicatut untuk melegalkan pandangan si penulis hadist atau sunnah, atau bahkan melegalkan keputusan politik penguasa yang meng-order hadist.

Cukup sudah dengan Muhammad Iman dan evolusi pemanggungannya di abad 8-10 M. Sekarang mari kita beralih ke rekonstruksi memungkinkan dari Muhammad Sejarah.

MUHAMMAD SEJARAH

Baik, sekarang kita kembali ke tahun 634, ada apa dengan tahun 634? Menurut catatan dari Doctrina Iacobi, dalam sebuah traktat berbau Anti Yahudi   Dikatakan di sana tentang kemunculan seorang nabi dari Saraken/Saracen yang gemar berperang dan menumpahkan darah. Dan Traktat Anti Yahudi ini mengingatkan kepada kaum Kristen agar berhati-hati dengan pemberontakan yang dilakukan oleh kaum Yahudi dan Saraken (tulisan ini menyoal tentang pergerakan kaum Yahudi yang memberontak untuk membebaskan Yerusalem dari Kristen Byzantin. Dalam usahanya kaum Yahudi meminta bantuan dari bangsa Sareken (sebutan bagi kaum Arab di sekitar Sinai), dengan meyakinkan mereka bahwa kaum Ismael (nenek moyang kaum Arab) bersaudara dengan Ishak (nenek moyang kaum Ibrani), untuk itu sudah sepatutnyalah kaum Saraken membantu kaum Yahudi membebaskan Yerusalem dari tangan penjajah Roma). Sayangnya tidak disebutkan siapa nama nabi yang tengah muncul ini. Lagian dari tulisan tersebut tidak ada tanda-tanda kejelasan tentang adanya suatu agama baru, melainkan suatu pergerakan dari lingkungan Yudeo-Kristen, karena menyangkut soal Kunci Kerajaan Allah, hal mana ini sama sekali tidak terdengar Islami. Kedua, tulisan itu ditulis tahun 634 – 635, dua tahun setelah kematian Muhammad tahun 632  (berdasarkan kisah yang diakui umum oleh Muslim). Jika Doctrina Iacobi ini benar, lalu siapa nabi yang tengah muncul itu? Atau mungkin Muhammad masih hidup sampai tahun-tahun itu? Atau ada Muhammad lain?

TAHUN DAN TEMPAT KELAHIRAN MUHAMMAD

Menurut tradisi  bersama, tahun kelahiran Muhammad adalah tahun 570 M di Mekkah, tepat bersamaan dengan invasi Raja Abraha ke Mekkah dengan pasukan gajahnya, di mana raja Abraha lari tunggang langgang karena pertolongan ilahi dimana burung-burung ababil dikirim oleh Allah untuk menghalau gajah-gajah itu. Namun, prasasti yang ditemukan tentang penyerangan Abraha justru memperlihatkan kesuksesan pasukannya dalam invasi tersebut. Dan itu terjadi pada tahun 552 M. Tidak ada gajah disebutkan di sana. Dan tidak pula disebutkan Mekkah yang dianggap “metropolitan” saat itu, induk dari peradaban, padahal tempat-tempat kecil saja disebutkan dalam prasasti tersebut. Mengherankan bukan? Dan tidak pernah dikisahkan bahwa Raja Abraha melakukan invasi berikutnya sekitar tahun 570 M.

Jika memang Muhammad ini lahir bersamaan dengan penyerangan Raja Abraha ke Semenanjung Arab, maka Muhammad disimpulkan lahir tahun 552 M, bukan tahun 570 M. Dengan demikian maka seluruh bangunan hadist salah total ketika merujuk pada tahun-tahun kehidupan Muhammad.

Lewat metodologi penelusuran tertentu Lamens menyimpulkan bahwa Muhammad mungkin lahir bukan sebagai penduduk kota Mekkah, melainkan penduduk dari kota Higra. Ia terlahir pada tahun 552 di Hegra, tanah kaum Midian, jadi ia bukanlah seorang Arab Quraish, melainkan dari kaum Nabatea. Dan karena ada sebuah kejadian besar maka ia dan pengikutnya meninggalkan tempat tersebut, itulah kenapa disebut sebagai Hegra/Hecra/Hijrah (perpisahan). Kisah tentang kelahiran dan karirnya sebagai penduduk kota Mekkah adalah kisah yang dikarang jauh di kemudian hari di mana ini akan menguntungkan para elit politik kaum Quraish.

UMUR 40 TAHUN

Dikatakan bahwa Muhammad berumur 40 tahun ketika ia menerima wahyu pertama di gua Hira. Karena kelahiran Muhammad diyakini terjadi pada tahun 570 M, maka kejadian pewahyuan pertama ini pastilah terjadi sekitar tahun 610 M, demikianlah tradisi muslim memegang klaimnya. Namun, satu hal yang dilupakan bahwa dalam budaya lalu, angka seringkali bukan hanya merujuk pada numerik, melainkan simbol dari suatu idea. Angka 40 dalam dunia berpikir Yudaisme berarti suatu penggenapan, suatu momen dimana rentang waktu (Kairos) dan momen utama (Khronos) bersatu :

– Musa tergerak untuk membebaskan umat Ibrani ketika ia berumur 40 tahun.

– Ketika ia membunuh seorang prajurit Mesir, ia takut dibunuh oleh firaun, ia melarikan diri ke tanah Midian (hmmm Midian … bukankah nabi Muhammad menurut Lamens kemungkinan lahir sebagai seorang Midian–Nabatea?). Di sana ia belajar dari ayah mertuanya, Yitro, dan menjadi penggembala kambing dan domba selama 40 tahun.

– Pada umur 80 tahun ia bertemu dengan Yahwe dan diutus untuk membebaskan bangsa Israel. Ia memimpin bangsa Israel sampai ke dekat Kanaan. Ia menggembalakan umat Israel selepas dari Mesir dan di padang gurun selama 40 tahun.

– Daud memerintah Israel selama 40 tahun (I Raja-raja 1 : 11).

– Salomo memerintah Israel selama 40 tahun. (1 Raja-raja 11:42)

– Yesus berpuasa selama 40 hari 40 malam di padang gurun sebelum memulai pelayanan kenabiannya.

– Setelah kematian dan kebangkitannya Yesus dikabarkan masih masih menemui para muridnya selama 40 hari.

Lihatlah, tidakkah ini suatu insight bahwa angka 40, yakni ketika diaplikasikan pada umur Muhammad waktu pertama kali mendapatkan wahyu tidak seharusnya dianggap sebagai numerik, melainkan suatu tahapan di mana sudah dicapainya masa-masa kedewasaan. Dan ini akan mudah kita pahami ketika mengetahui bahwa kisah-kisah Muhammad adalah  penghadiran kembali Musa dan Yesus dalam budaya berpikir Arab.

  

Mungkinkah Muhammad pernah menghabiskan masa hidupnya di sekitar Median el saleh, sehingga di pagi dan malam hari ia bisa melihat reruntuhan kota itu dan berkontemplasi atasnya sebagaimana disingung dalam QS 37:137-138 ? 

GUA HIRA – KOTA  HIRA

Menurut Tradisi Islam Muhammad mendapatkan wahyu pertama, berjumpa dengan Jibril di gua Hira. Namun jauh di utara sana, di Irak selatan, terdapat sebuah kota bernama Al-Hira. Di sana hiduplah suku-suku Arab Kristen Non-Trinitarian. Suku-suku ini disebut ibad–(yang artinya Para hamba). Suku-suku Kristen Arab non-trinitarian ini menggunakan bahasa Aramik dalam liturginya (Dan menurut analisa Luxenberg, 20 % ayat-ayat samar dalam Alquran hanya akan bisa dipahami jika kita memahami bahasa Aramik, lingua franca pada saat itu, di mana nantinya liturgi-liturgi Kristen Arab berbahasa Aramik ini dimasukan dalam kanonisasi Alquran).

Suku-suku Kristen Ibad ini hidup dalam politik keamanan/protektorat di mana kaum-kaum lain berlindung pada mereka dan menyumbangkan pajak. (Tidakkah anda langsung berfikir ini adalah semacam praktek dzimmy dan jizyah dalam Islam juga?) Para pemimpin kaum ini digelari Abdullah (Abdi/ Hamba Allah) sebagai lawan dari gelar para raja Kristen Trinitarian saat itu, servus Christi, hamba Kristus.

Jika kita memakai pendekatan pesimis, tidak mungkinkah kota Al Hira adalah sumber inspirasi dari pergerakan keagamaan yang nantinya akan menjadi agama Islam, mengingat Islam sendiri diformulasikan di Irak? Tidak mungkinkah nama Abdullah itu sendiri bukanlah nama ayah dari Muhammad, melainkan gelar belaka?

Tulisan di Dome of The Rock/Kubah emas di pelataran masjid al-Aqsha di Palestina, Muhammad(un) ‘abd(u) llah(i) wa-rasuluh(u), menurut Cristoph Luxenburg seharusnya tidak dibaca: Muhammad Hamba Allah dan Utusannya, melainkan Terpujilah Hamba Allah dan Utusannya, yakni rujukan kepada Yesus yang sebelumnya sudah disebutkan bukan sebagai Anak Allah melainkan hanya sebagai Hamba Allah dan Utusannya.

622 M – HIJRAH

Menurut tradisi muslim, tahun 622 M dianggap sebagai tahun hijrahnya Muhammad dari Mekkah ke Madinah. Mulai saat itulah kalender Islam dimulai. Namun para sejarawan Barat percaya bahwa Era Arab yang dimulai pada tahun 622 bukanlah penanggalan yang dimulai dari peristiwa hijrahnya Muhammad dari Mekkah ke Madinah, melainkan tahun dimana Kaisar Heraklitus mengalahkan Persia, kemudian memberikan kekuasaan otonomi pada para Penguasa Arab Kristen yakni kaum Laksmid dan Ghasanid yang sebelumnya dijajah oleh Kekaisaran Persia. Ini akan bisa kita pahami melihat prasasti di sekitar Palestina di masa paska penundukan Arab sekalipun, bahasa dan Penanggalan Arab bukan yang pertama, melainkan hanya pelengkap. Ditemukan prasasti pada jaman itu yang pembukaannya masih dibubuhi tanda salib ! Bahkan koin-koin uangpun bertuliskan Muhammad dan bergambar Salib. Ini sukar untuk dijelaskan apabila kita mengambil paradigma tradisi muslim bahwa setelah Muhammad wafat para kalifah sibuk menundukan jazirah Arab dan mensyi’arkan Islam. Penjelasan sederhana namun grounded adalah bahwa setelah kemenangan Kaisar Heraklius atas Persia, ia kembali ke Roma, dan memberikan kekuasaan otonomi pada para penguasa Arab bawahannya (vassal kings). Kemudian para penguasa Arab ini saling bertempur. Tampaknya ada berbagai kelompok dalam pertempuran perebutan kekuasaan ini. Dan yang paling dominan diantaranya adalah kaum Mahgraye/Muhajirun, kelompok dari Arab dari Saraken, dengan kelompok Arab dari Irak.

MUHAMMAD; PENGHADIRAN KEMBALI MUSA DAN YESUS DALAM BUDAYA BERPIKIR ARAB

Beberapa orientalis seperti halnya Volker Popp, Prof Sven Kalisch (mantan Muslim) percaya bahwa pemanggungan “sejarah” Muhammad sebenarnya memakai kisah-kisah biblikal. Tema-tema kehidupan Muhammad nampaknya adalah penghadiran kembali fragmen-fragmen kehidupan Musa dan Yesus dalam budaya berpikir Arab, sehingga dalam Muhammad ada Musa dan Yesus baru. Di sinilah mitos-mitos lama ditumbangkan oleh mitos-mitos baru. Muhammad dijadikan sebagai personifikasi manusia sempurna (dengan meniadakan segala tindak-tanduk kontroversialnya), wujud nyata insan kamil yang darinya setiap muslim terus berkaca dan ditarik untuk menjadi lebih baik. Dengan demikian Muhammad yang kesejarahannya samar, sekarang menjadi Muhammad iman yang gegap gempita dengan kebijaksanaan, kesabaran, kesucian, kepahlawanan dan kemuliaan. Mari kita lihat paralelisme Musa, Yesus dan Muhammad.

–  Kelahiran Musa didahului dengan kegoncangan politik, bayi-bayi bangsa Ibrani dibunuh, demikian pula dengan kelahiran Yesus, dan kelahiran Muhammad yang berada dalam situasi genting penyerangan raja Abraha.

– Musa membawa bangsa Israel dari Mesir ke Tanah Perjanjian, yang sebelumnya harus melewati laut terbelah. Yesus membawa kemenangan rohani lewat kematiannya dan dalam 3 hari bangkit. Masuknya Yesus ke dalam kubur adalah paralelisme masuknya Musa ke laut terbelah. Sedangkan Muhammad membawa umatnya dari Mekkah ke Madinah.

– Sebagaimana Musa tidak bisa menapakkan kakinya ke tanah Kanaan dan meninggal tak lama sebelum bangsa Israel menduduki Kanaan, maka Muhammadpun tidak bisa menapakkan kakinya ke Yerusalem (ia keburu wafat).

– Setelah wafatnya Musa, maka kedudukannya digantikan oleh Yoshua, maka sejak saaat itu dimulailah peperangan memperebutkan Kanaan. Setelah wafatnya Muhammad maka tampuk kepemimpinan diambil alih oleh Abu Bakar dan imperialismepun dimulai.

– Peperangan bangsa Israel memperebutkan Kanaan sebagaimana tertulis dalam kitab Yosua dan Hakim-hakim, dipakai polanya dalam sastra-sastra Muslim di abad 9, seperti Sira Magazi dan Al Tarikh.

– Roh Musa naik ke surga diangkat oleh Allah. Yesus naik ke surga, dan Muhammadpun naik ke sorga dengan Buraq.

– Musa dikisahkan dalam empat kitab, Yesus dikisahkan dalam empat Injil dan Muhammad ditopang oleh pengajaran empat Mazhab utama.

PENUTUP

Kembali pada kisah tentang para master Reiki yang mencoba men-tracing roh Muhammad. Saya sendiri tidak begitu serius menanggapinya, saya hanya mengambilnya sebagai analogi saja, yakni bahwa ketika kita merujuk pada Muhammad, tanpa sadar kita sebenarnya tidak merujuk pada Muhammad sejarah, melainkan Muhammad Iman, sesosok tokoh yang datang pada kita lewat tulisan-tulisan bergenre relijius di abad 8,9 dan 10 M. Tentu saja tokoh dengan kemegahan dan kemuliaan detil   semacam itu tidaklah pernah hadir dalam sejarah, melainkan hanya dalam sastra dan idea, dalam hagiografis dan historicizing literature.

Adalah sukar bagi siapapun untuk merekonstruksi kehidupan Muhammad secara kritik historis berdasarkan fakta-fakta, apalagi untuk menghadirkannya dalam suatu note yang singkat. Namun tujuan dari note saya bukanlah untuk menghadirkan sejarah faktual Muhammad, sebab dari awal kita harus sadari bahwa kemungkinan kita menjadi korban dari sekedar karya sastra adalah sangat besar, sebagaimana disebutkan oleh Wansbrough:

“Hanya dengan berlandaskan pada bukti sastra dan artefak, para akademisi Islam akan mudah menjadi korban dari sastra.

Tugas saya adalah untuk memperlihatkan betapa naifnya apabila kita menganggap kisah-kisah Muhammad sebagai fakta sejarah yang harus dipercayai begitu saja.

 Ketika kita melihat “sosok” Muhammad, kita sebenarnya tidak sedang melihat sosok seorang nabi Arab, melainkan sebentuk hagiografis, sefigur manusia historis yang dilegendakan, diagung-agungkan melebihi akar kesejarahan dan kemanusiaan, hasil cipta karya kaum Arab, terutama selama Dinasti Abbasid di Irak di pertengahan abad ke 8 dan sesudahnya. Ada layer-layer tertentu dalam hagiografis Muhammad ini. Mungkin memang  “Muhammad” pernah ada, tapi bukan sebagai “Muhammad”  – melainkan sebagai figure-figur pemimpin biasa dalam tradisi monotheisme.  Saya percaya bahwa tokoh yang nantinya disebut/digelari Muhammad ini lahir dari lingkungan Yudeo-Kristen, atau yang disebut sebagai agama Abrahamisme. Pada jaman ia hidup, ia bukanlah sentral dari suatu keimanan, bahkan melihat betapa sedikitnya namanya muncul dalam qur’an memberi indikasi bahwa ia sendiri bukanlah tokoh sentral. Seumur hidupnya ia menyerukan umatnya untuk kembali pada agama Abraham. Dalam keterbatasan pengetahuannya ia memahami agama Yahudi dan Kristen sebagai kaum tidak setia pada agama Abraham. Pengetahuannya sangat sedikit tentang Yudaisme maupun Kristen. Terbukti dengan banyak sekali dengan ketidaksesuaian kisah, sejarah, dan kepercayaan mendasar antara apa yang ia ketahui dengan apa yang tertulis dan menjadi prinsip utama dua agama ini.

Kelak tokoh misterius ini dan ajarannya diambil menjadi agama resmi bagi para penguasa Arab untuk menjadi identitas baru mereka yang tidak bersifat Kristen maupun Persia. Ajaran sang nabi arab ini yang tadinya berupa Abrahamisme, diberi nama Islam, yang diambil dari kata Samarian , salama, yang berarti ketertundukan; suatu agama dan ideologi yang memuat motif-motif politik, budaya dan spiritual Arab padang pasir. Maka dari itu kisah-kisah dikarang, mulai dari Hadist, Sirat dan Sunnah di abad 8, untuk menjembatani apa yang tidak ada dalam Alquran, sekaligus untuk menjadi wacana dan wahana bersama demi penguatan identitas Imperium yang baru. John Wansbrough memberikan istilah “sejarah” islam sebagai Salvation History, Sejarah Penyelamatan. Kata “sejarah” di sini bukan berarti sejarah yang sebenar-benarnya, namun berupa rangkaian-rangkaian kisah yang dihadirkan untuk suatu tujuan community building. Tujuan community building ini adalah untuk menciptakan suatu kawasan dengan tatanan masyarakat yang kuat yang melibatkan keimanan dan identitas sosial sebagai Islam dan Arab di bawah suatu pemerintahan yang kuat. Dengan kata lain islam diformulasikan untuk suatu tujuan politik kemasyarakatan – One God, One Prophet, One Religion, One King, One Identity.

Saya tidak akan heran apabila banyak pembaca yang tidak puas dan tidak setuju dengan apa yang saya tulis ini. Kenyamanan psikologis kita akan terkoyak manakala tokoh pujaan kita ternyata sangat mungkin tidak hadir sesungguh-sungguhnya dalam ranah dunia nyata sebagaimana apa yang dikisahkan pada kita. Malahan tokoh pujaan kita tampaknya hanya hadir dalam sastra belaka, suatu sastra yang ditujukan agar kita para pembacanya mempercayai bahwa itu seakan-akan pernah terjadi seturut dengan keyakinan si penulis. Bagi banyak orang, ini adalah sesuatu yang sukar diterima. Namun dalam dimensi yang lebih bermoral, kisah-kisah agama seharusnya menjadi kisah inspiratif yang memberi kita semangat untuk menjadi diri yang lebih luas, bukan untuk mempercayainya sebagai sejarah faktual yang hanya berujung pada pemuliaan tokoh-tokoh tertentu dan pemelekatan dan ketergantungan kenyamanan psikologis kita kepadanya.

Bacaan yang disarankan :

– The Quest for The Historical Muhammad, Ibn Warraq

– The Hidden Origin of Islam, edited by Karl H. Ohlig & Gert R Puin.

– Why I Am Not A Muslim, by Ibn Warraq

– Sectarian Milieu,  by John Wansbrough

– Hagarism & The Making of Islamic World, by  Crone & Cook.

– Is Qur’an The Word of God, by Jay Smith.

– The Hagarene Messenger : Muhammad,

http://reocities.com/spenta_mainyu_2/Muhammad.htm

–  Islam : The Hagarene Teaching, http://www.reocities.com/spenta_mainyu/Islam.htm

– dll

5 thoughts on “Melacak Sejarah Muhammad, Membongkar Hagiografi

  1. nah, ya. michael cook itu pernah bikin buku tetang kanjeng nabi muhammad dari sumber2 non islam. saya coba cari2 hingga saat ini belum dapet je….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s