English Premier League Sebagai Frankenstein


thumbnail

Alex Fynn boleh jadi kini merasa dirinya sebagai Victor Frankenstein. Dalam novel karya Mary Shelley bertajuk “Frankenstein” itu, Victor, seorang ilmuwan yang tergila-gila untuk menciptakan keajaiban, dikisahkan ingin memberi kehidupan pada mahluk yang ia ciptakan dengan tangannya sendiri. Potongan-potongan tubuh manusia ia jahit, kemudian dihidupkan dengan listrik dari petir.

Namun, alih-alih mendapatkan manusia indah yang sesuai dengan bayangan di benaknya, Victor malah menciptakan satu monster buruk rupa. Mata si monster kuning serta bibirnya hitam. Sementara kulitnya yang putih transparan tak bisa menyembunyikan otot dan pembuluh darah yang mengalir dalam tubuh. Jijik akan karyanya tersebut, Victor pun depresi dan lari.

Sebagaimana Victor yang tak bisa menatap mahluk buatannya sendiri, Alex Fynn pun kini seakan menampik keberadaan ciptaannya, yaitu (English) Premier League atau EPL. Alih-alih bercerita dengan bangga tentang bagaimana EPL telah jadi liga terpopuler di dunia, ia malah menyebutnya sebagai monster berkepala 22.

Dua puluh tahun semenjak EPL berdiri, Alex, seorang konsultan bisnis sepakbola yang masih sering diundang untuk memberikan seminar, pun tak pernah luput untuk menunjukkan keburukan liga ini tiap kali ia berbicara di mata publik. “Liga ini sudah salah (konsep) semenjak dibentuk. Dulu seharusnya FA menghentikan langkah mereka yang ingin memisahkan diri dari piramida (sepakbola Inggris). FA punya kuasa untuk mengambil sebagian dari pendapatan mereka dan mengalokasikannya pada pembinaan pemain muda. Tapi FA malah melepas tangan mereka dari kendali dan menciptakan suatu monster, di mana Premier League jadi satu-satunya kompetisi yang paling penting,” ujar Alex dalam wawancaranya dengan koran Telegraph.

Lalu apa sebenarnya “monster” bernama Premier League ini dan bagaimana ia tercipta?

Dalam dokumenternya, “The Men Who Changed Football”, BBC bercerita tentang sebuah jamuan makan malam rahasia yang terjadi pada 1990 antara lima klub terbesar Inggris saat itu. Para petinggi dari klub Liverpool, Manchester United, Arsenal, Tottenham Hotspur, serta Everton menemui seorang petinggi dari ITV (Independent TV), Greg Dyke, yang, bersama dengan BBC, merupakan televisi pemegang hak siar liga Inggris.

Jamuan ini semula ditujukan sebagai ucapan terimakasih pada ITV karena telah meningkatkan jumlah pembayaran hak siar televisi dari semula 6,2 juta poundsterling (untuk 1986-1988) jadi £ 44 juta untuk 4 musim kompetisi (1988-1992). Perjanjian hak siar pertandingan, yang baru ada pada 1983 itu, sedikit banyak membantu klub-klub Inggris dalam menstabilkan keuangannya. Apalagi adanya siaran langsung juga secara tidak langsung menambah pemasukan klub dari sisi sponsorship.

Pada awal periode 1980 klub-klub Inggris memang sedang mengalami krisis finansial, termasuk di antaranya Aston Villa, Chelsea, Nottingham Forest, dan Leeds United. Bahkan Leeds yang notabene tergolong klub besar pun terpaksa menjual aset berupa tanah untuk menutupi utang-utangnya.

Bermula dari ucapan terimakasih, pembicaraan kemudian beralih tentang pengelolaan liga dan tentang beban FA yang terlampau berat dalam menangani sepakbola Inggris. Dari jamuan itulah kemudian proposal “One Game, One Team, One Voice” dirancang untuk kemudian diajukan pada FA. “One team, one voice” di sini merujuk pada keinginan klub-klub untuk mereduksi kekuasaan FA dan agar mereka memiliki suara untuk menentukan nasibnya sendiri.

Alex Fynn yang kala itu masih menjadi direktur Saatchi & Saatchi, sebuah agensi periklanan raksasa asal London, kemudian ditunjuk oleh David Dein (Arsenal) dan Noel White (Liverpool) untuk merancang proposal. Ia juga diminta untuk jadi perwakilan kelima klub untuk berbicara dan membujuk FA.

“Saya menjelaskan pada para petinggi FA tentang bagaimana sepakbola profesional membutuhkan restrukturisasi dari atas sampai bawah. Bahwa perlu ada satu divisi di level nasional yang menjadi bahan pertunjukan (showcase) sementara divisi regional berada di bawah piramida. Jumlah peserta divisi ini pun tidak perlu terlampau banyak –maksimum 20- untuk meminimalisir pertandingan-pertandingan tidak penting. Arsenal vs Manchester United akan menjadi event skala nasional, sementara Exeter vs Torquay jadi event regional,” ujarnya pada satu majalah bisnis sepakbola.

Alex juga berargumen bahwa exposure pada klub-klub besar akan berpengaruh positif baik pada timnas maupun klub. Ia juga menunjukkan bahwa ada uang yang bisa didapat dari hak siar televisi.

FA pun lalu termakan penjelasan Fynn, walau dengan niatan berbeda. Menurut mereka, dengan jumlah pertandingan yang lebih sedikit, maka FA bisa lebih leluasa menyelipkan pertandingan Piala FA dan pertandingan persahabatan timnas Inggris. Tak akan ada lagi pertandingan liga paruh minggu yang akan bersaing dengan pertandingan Piala FA untuk mendapatkan perhatian fans. Kesempatan untuk menyejajarkan Piala FA, timnas, dan liga di puncak tertinggi sepakbola Inggris jadi godaan yang tak bisa ditolak.

Namun, menyadari perlu adanya perubahan ini tak serta merta membuat FA menyerahkan kekuasaannya pada klub besar dan penyelenggara liga, yang saat itu dipegang Football League. Pada 1991 mereka membuat proposal tandingan, yaitu “The Blueprint for the Future of Football”. Dalam proposal ini mereka malah ingin membentuk suatu “liga super” yang berisikan 18 klub saja.

Idenya adalah ada sebuah liga yang berdiri sendiri dan berhak untuk mencari dan memanfaatkan pemasukannya sendiri, tanpa harus membagi-bagikannya pada klub di kasta bawah. Memang, sebelumnya hak siar televisi masih dibagikan pada divisi 1, 2, 3, dan 4 dengan alokasi proporsi: 50%, 25%, 12,5% dan 12,5%.

Godaan untuk menguasai hak siar televisi, yang jumlahnya diprediksi akan terus meningkat, ini mendorong para klub untuk memisahkan diri dari klub di bawahnya. Di masa ini, memang banyak klub besar yang sudah gerah mensubsidi klub-klub kecil. Mereka menganggap bahwa mereka telah memberikan lebih banyak pada sepakbola Inggris sehingga perlu mengambil lebih banyak juga. Padahal aturan mengenai pembagian penjualan tiket (gate-revenue sharing) juga telah dihapuskan pada 1985.

Pada Juni 1991, 16 klub divisi pertama lalu menyetujui perjanjian adanya liga baru ini. Setelah melalui beberapa waktu, akhirnya tercatat 22 klub yang memisahkan diri dari sistem kompetisi yang sudah ada semenjak 1888. FA English Premier League pun resmi berdiri pada September 1991.

BSkyB dan Revolusi Komersial Sepakbola Inggris

Berdirinya Premier League bertepatan dengan berakhirnya perjanjian hak siar dengan BBC dan ITV. Klub-klub bersiap untuk merenegosiasi nilai kontrak dan mendapatkan jumlah yang lebih besar lagi.

Keinginan ini juga disambut oleh pihak televisi yang juga mencium adanya pasar besar yang bisa dikapitalisasi dari sepakbola. Salah satu di antaranya adalah BSkyB, perusahaan milik taipan media Rupert Murdoch.

Berbeda dengan ITV yang mendapatkan pemasukan dari iklan dan menayangkan sepakbola secara gratis, BSkyB adalah televisi berbayar (pay TV). Sumber pemasukan utama mereka adalah dari iuran berlangganan. Pada waktu itu, televisi berbayar sendiri masih dianggap sebagai barang mewah di Inggris. BSkyB melihat sepakbola, khususnya Premier League, sebagai salah satu alat mereka untuk melakukan penetrasi pasar televisi di Inggris. Karena itu mereka berani untuk mengeluarkan dana gila-gilaan untuk menyaingi BBC dan ITV.

Setelah melewati proses voting, mayoritas klub pun akhirnya memilih BSkyB sebagai pemegang hak siar televisi. Nilai kontraknya pun naik hampir 240%-nya. Pada musim 1988-1992 BBC dan ITV membayar £11 juta per tahun untuk hak siar 92 klub. Untuk musim perdana Premier League, BSkyB berani mengeluarkan hingga £38.3 juta/tahun untuk kontrak 22 klub.

Namun, bukan hanya uang yang diberikan BSkyB, tapi juga cara-cara bagaimana sepakbola dikemas. Saat melakukan negosiasi dengan ke-22 klub Premier League, BSkyB sekaligus memberikan suatu platform revolusi komersial sepakbola. Hal ini dilakukan untuk (lagi-lagi) menarik pelanggan. Pada awal 1990-an, membayar untuk tayangan sepakbola adalah hal asing bagi penduduk Inggris. Karena itu diperlukan strategi khusus agar para penggemar bola mau merogoh kocek untuk menyaksikan pemain kesayangan beraksi di televisi.

Dengan tayangan langsungnya, BSkyB sangat memanjakan para fans yang melihat sepakbola dari televisi. Mulai dari mengatur letak microphone dalam stadion untuk lebih memperdengarkan suara suporter, menempatkan berbagai kamera untuk mendapatkan sudut gambar terbaik, serta meningkatkan teknik replay video dilakukan Sky untuk membuat mata penonton lekat pada televisi. Jadwal pertandingan juga diatur agar big match selalu mendapatkan hari dan jam yang paling baik.

“Olahraga sebagai drama dan olahraga sebagai opera sabun–itu apa yang orang ingin saksikan di televisi,” ujar Dave Hill kepala Sky Sports (bagian dari BSkyB ) pada 1991. Karena itu, tidak heran jika sepakbola yang hanya berlangsung dalam waktu 2 x 45 menit bisa “diperpanjang” oleh BSkyB. Wawancara, diskusi, preview pertandingan, build-up, dan pernak-pernik tayangan televisi lainnya mulai diperkenalkan dengan format yang lebih menarik penonton.

BSkyB pun mulai mengemas brand Premier League. Liga ini ‘dikenalkan’ ke seluruh dunia sebagai kompetisi sepakbola terketat di seluruh dunia.

Salah satu ikon yang sering digunakan oleh BSkyB adalah pertandingan antara Liverpool dan Newcastle United pada 3 April 1996 yang berakhir 4-3. Berulang kali cuplikan pertandingan ini ditayangkan untuk menanamkan “ilusi” bahwa Premier League adalah liga dengan tensi tertinggi dan atmosfer terbaik yang mampu memacu jantung penontonnya. Keinginan Alex Fynn pun tercapai. Ada satu liga yang menjadi showcase sepakbola Inggris.

Perubahan kemasan ini membawa dampak finansial positif bagi klub-klub. Mereka lebih mudah mengikat kerjasama dengan sponsor dan menjual pernak-pernik ke pasar luar negeri. Karena BSkyB-lah maka klub-klub Premier League kini mengalami pertumbuhan yang sangat pesat dalam pendapatan komersial dan pendapatan penjualan tiket.

Hanya dalam lima tahun pengaruh BSkyB telah berdampak signifikan. Klub Premier League mampu meningkatkan kemampuan dalam membayar gaji pemain bintang. Akibatnya, pemain-pemain Eropa dan Amerika Selatan yang dulunya lebih memilih Liga Italia atau Spanyol mulai melirik tanah Inggris. Pemain seperti Dennis Bergkamps, Gianfranco Zola, atau Gianluca Vialli pun berdatangan.

Selain itu, perubahan dari sisi komersial ini juga semakin mendorong perubahan motif dalam sepakbola Inggris. Dulu, maksimasi profit dan keuntungan finansial dilihat sebagai hal yang tabu untuk dikejar. Bahkan hal ini secara nyata dilarang melalui peraturan pembatasan pembayaran dividen pemegang saham pemilik klub. Akan tetapi pada 1998, enam tahun setelah adanya Premier League, peraturan ini pun dihapuskan. FA berargumen bahwa klub sepakbola haruslah lebih ramah lagi pada investor.

Bagaimana dengan BSkyB sendiri? Pertaruhan mereka membayar mahal hak siar Premier League dan memasuki pasar olahraga berhasil. Hingga saat ini, sekitar 7 juta dari 10 juta konsumen Sky berlangganan saluran sepakbola.

Perjudian Klub-Klub Kecil

Seiring dengan peningkatan pendapatan klub Premier League, gap antara Premier League dan liga di bawahnya pun semakin besar. Dari seluruh uang yang beredar di sepakbola Inggris, pada 2003 saja Premier League menguasai hampir 74%-nya. Sementara divisi 1, 2, dan 3 hanya 18%, 6%, dan 3%-nya saja. Pada tahun itu, total pendapatan Premier League mencapai £ 1,25 miliar, sementara divisi 1 (Championship) hanya £ 206 juta.

Berlimpahnya uang yang berada di Premier League kemudian mendorong klub-klub di divisi bawah untuk promosi dan kemudian mempertahankan diri di Premier League. Mereka lalu ber-‘investasi’ dengan meningkatkan gaji untuk mendatangkan pemain-pemain berbakat yang bisa membantu klub untuk promosi. Bahkan, pada musim 2001/2002 saja, gaji pemain yang dibayarkan klub-klub divisi 1 hampir setara dengan pendapatan yang diterima.

Tapi tindakan ini memiliki risiko tinggi. Kalaupun klub berhasil promosi ke Premier League, maka tantangan selanjutnya yang harus dihadapi adalah mempertahankan diri di liga ini. Mereka-mereka yang ingin bertahan harus berinvestasi lagi pada pemain berbakat dan kembali meningkatkan gaji pemain. Padahal, jika mereka terdegradasi dan balik ke divisi 1 maka mereka tetap harus menanggung kontrak gaji pemain yang nilainya tak mungkin diturunkan.

Akibatnya, krisis finansial mulai menghampiri klub-klub kecil. Pada periode 1999-2004 tercatat 22 klub dari divisi 1, 2, dan 3 mengalami kebangkrutan. Bahkan, ada 3 klub yang sampai dua kali bangkrut, yaitu Bradford, Luton, dan Swindon. Rata-rata klub ini gagal membayar tumpukan utang sementara mereka kehilangan pemasukan dari hak siar televisi karena terdegradasi.

Kondisi tersebut berbeda dengan klub-klub besar yang notabene memiliki jaring pengaman lebih kuat yang berasal dari penjualan tiket dan sponsorship. Bagi klub-klub kecil, uang dari hak siar televisi ini (hampir) jadi segalanya.

Bak monster ciptaan Victor Frankenstein yang kemudian membunuh orang-orang di sekitarnya, Premier League kini membunuh klub-klub kecil yang mencoba masuk kedalamnya. Alex Fynn kini hanya mampu mengulangi kata-kata “seharusnya dulu…” sebagai pembenaran untuk monster yang dulu ia bantu ciptakan. Sebagaimana Victor menyesali mengapa mata monster berwarna kuning dan berair dan bukan putih dan berbinar bak mata seorang manusia.

sumber: detiksport artikel 1 & artikel 2

* Akun twitter penulis: @andreasmarbun dari @panditfootball

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s