Premanisme Dibasmi Kapolda; Preman Berjubah Bagaimana?


2010 lalu ketika Inspektur Jenderal Sutarman resmi dilantik menjadi Kapolda Metropolitan Jakarta Raya, janjinya tegas akan membasmi preman. Buntutnya, awal Maret 2013 ini, di sela berita mengenai intrik politik, pilkada dan korupsi, tersiar kabar penangkapan Herkules yang dibilang salah satu gembong preman terbesar di Jakarta. Belum lagi penangkapannya disertai dengan isu politik yang menyambangi partai Gerindra dan sosok Prabowo. Beberapa waktu lalu juga pernah ada kasus pembunuhan yang melibatkan Jhon Kei. Ada yang berpendapat begini; bahwa fenomena Herkules dan kelompoknya atau Jhon Kei dan kelompoknya hanyalah gunung es di permukaan. Gundukan besar di bawah laut sesungguhnya adalah ‘hilangnya kepercayaan publik’ atas ‘jasa pengamanan’ yang bisa diberikan oleh negara. Karena negara dikuasi oleh ‘para preman berdasi’ yang sibuk dengan urusan perutnya sendiri dan kurang memperhatikan bagaimana meciptakan rasa aman/adil bagi segenap warganya.

Lantas bagaimana dengan preman berjubah?

Jika ada yang menganggap bahwa preman seperti Herkules, atau Jhon Kei, adalah pembela rakyat kecil, apakah para preman berjubah juga bisa dibilang pembela rakyat kecil? Misalnya, pembela rakyat kecil dari kebejatan moral dan kemaksiatan, apa bisa dianggap demikian?

Entah siapa yang pertama kali menyebut istilah “preman berjubah” ini, yang jelas istilah itu diatributkan kepada laskar kelompok-kelompok dan ormas-ormas keagamaan yang sering membuat rusuh sembari meneriakkan kalimat Tuhan, terlebih di bulan-bulan tertentu yang dianggap suci dan biasanya menyerang rumah makan yang buka di siang hari ketika bulan puasa, atau warung remang-remang, kafe/niteklub, hotel kelas melati yang menjual miras dan menjadi tempat mangkal praktik prostitusi. Istilah ini juga dilekatkan pada sekelompok orangyang turun ke jalan membawa berbagai perlengkapan mirip anak-anak sekolah yang mau tawuran ketika hendak memboikot sesuatu, institusi, atau perorangan. Bahkan, dalam beberapa kasus, mereka mengusir kelompok-kelompok lain yang minoritas seolah algojo Tuhan di bumi.

Apakah para preman berjubah ini sebagaimana preman “konvensional” lainnya juga berebut lahan parkir, mengamankan aset–biasanya tanah, atau menerima setoran dari pihak-pihak tertentu?

Oke, katakan saja proyek pak Kapolda sukses dalam menangani Herkules dan lain-lain, tapi bagaimana dengan preman “bergenre” yang satu ini? Apakah mereka juga akan “dibasmi” sebagaimana preman jenis ini sering dan bertekad akan membasmi kemaksiatan, Ahmadiyah, kelompok liberal dari bumi Indonesia? Ataukah kepolisian justru masih bimbang? Bukan rahasia dan bukan pula cuma desas-desus saja jika kelompok-kelompok preman berjubah ada “main” juga dengan kepolisian. Mungkin polisi masih pikir-pikir untuk “membasmi” premanisme yang berlindung di balik kredo agama?

Akan tetapi, lihat segi positifnya, kata seorang motivator yang menganjurkan agar selalu melihat the brightside atas segala hal (Mungkin motivator itu sudah menemukan theory of everything, yakni positive thinking), preman dan premanisme tak selalu berkonotasi buruk, seperti halnya “preman berjubah” ini, mereka satuan polisi teranyar selain Pamong Praja yang bertugas mengurusi moral masyarakat, anggap saja begitu.

ps. penutupnya sambil dengerin lagu The Killers- Mr. Brightside

reff:

Jealousy, turning saints into the sea
Swimming through sick lullabies
Choking on your alibis
But it’s just the price I pay
Destiny is calling me
Open up my eager eyes
‘Cause I’m Mr. Brightside

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s