Apakah Ada Konspirasi dalam Kasus HIV/AIDS?


Membaca berita di kompas mengenai sembuhnya seorang bayi yang terjangkit virus HIV cukup mengejutkan bagi saya. Selama ini, meski sudah tahunan saya mengubah pandangan dari puritan kepada sekuler, sering kali saya tetap mengamini celotehan di kalangan orang-orang puritan bahwa HIV/AIDS  sengaja disebarkan Tuhan sendiri untuk memberi pelajaran bagi manusia yang doyan seks bebas. Mengapa sya sering mengamini celotehan mereka? Sebab sampai sekarang katanya tak ditemukan  obat dan terapi medis yang dapat menyembuhkan penyakit dan melumpuhkan virus tersebut.

Sebetulnya, saya sendiri kurang paham terhadap apa itu HIV/AIDS, banyak pertanyaan di kepala saya. Apakah HIV dan AIDS itu sama, atau berbeda? di antaranya pertanyaan seperti itu dan termasuk yang juga saya pertanyakan adalah alasan mengapa sampai sekarang tak bisa ditemukan the cure bagi HIV/AIDS ini. Akan tetapi, sebaiknya lebih dulu kita baca berita dari kompas tentang bayi yang bisa disembuhkan dari virus ganas ini;

WASHINGTON, KOMPAS.com — Hasil penelitian mengejutkan diumumkan dalam Konferensi Retrovirus dan Infeksi Oportunistik di Atlanta, Amerika Serikat, Minggu (3/3/2013). Bayi berusia 2,5 tahun dinyatakan sembuh dari HIV dan telah berhenti menjalani perawatan setahun terakhir.

Pertanyaannya kemudian, benarkah dan bagaimana bisa? Virus HIV hingga kini belum bisa dihilangkan dari tubuh orang terinfeksi. Orang yang hidup dengan HIV harus menjalani pengobatan seumur hidup dengan obat Antro Retroviral.

Dalam kasus ini, bayi dinyatakan terinfeksi HIV sejak lahir. Ibu dari bayi adalah seorang HIV positif. Analisis material genetik virus setelah kelahiran menunjukkan adanya 20.000 kopi materi genetik virus per milimeter. Dengan demikian, bayi pun dinyatakan HIV positif.

Setelah diketahui terinfeksi, dr Hannah Gay yang bertanggung jawab pada perawatan bayi tersebut mulai memberikan obat. Obat diberikan 30 jam setelah bayi lahir. Biasanya, bayi yang baru lahir diberikan obat prophylaxis terlebih dahulu. Dalam kasus ini, obat antivirus langsung diberikan.

Setelah pengobatan, jumlah virus dalam darah menurun drastis hingga tak terdeteksi dalam sebulan setelah perawatan. Hal ini bertahan hingga bayi berusia 18 bulan. Ibu dari bayi tersebut sempat menghentikan pemberian obat.

Lima bulan setelah obat berhenti diberikan, ibu bayi tersebut membawa bayinya ke rumah sakit. Dr Gay menduga bahwa jumlah virus akan kembali meningkat. Tetapi, yang terjadi sebaliknya. Tes HIV membuktikan hasil negatif.

Dr Gay sempat mengulangi tes karena menyangka ada kesalahan. Namun, pengulangan tetap menunjukkan bahwa hasil tes HIV negatif. Dr Gay kemudian merasa perlu menyerahkan bayi tersebut ke pihak yang lebih ahli.

Kasus bayi itu dialihkan pada Dr Katherine Luzuriaga, pakar imunologi University of Massachusetts yang bekerja dengan ahli lain bernama Deborah Persaud dari John Hopkins Children Center. Tes selanjutnya menemukan material genetik virus pada bayi. Namun, virus tak bisa bereplikasi.

Tentang kesembuhan bayi yang lahir dengan HIV tersebut, banyak peneliti memandang skeptis. Namun, Joseph McCune dari University of California di San Fransisco mengungkapkan, hal itu bisa menjadi petunjuk adanya sesuatu yang lain dalam kekebalan bayi tersebut.

Salah satu hipotesis di balik sembuhnya bayi tersebut adalah belum sempatnya virus membangun “peradabannya” di tubuh bayi. Salah satu sebab HIV tak bisa disembuhkan adalah bahwa virus “bersembunyi” dalam fase dormansi. Sekali ARV dihentikan, virus bisa berkembang lagi.

“Jika Anda memulai perawatan sebelum virus punya kesempatan membangun peradaban di tubuh dan menghancurkan sistem kekebalan, maka ada peluang Anda berhenti terapi dan tak punya virus,” kata Anthony Fauci dari National Institute for Allergy and Infectious Diseases.

Steven Deeks, profesor kedokteran dari University of California, San Fransisco, berkomentar, jika virus belum sempat membentuk peradabannya, kesembuhan itu “palsu”. Yang terjadi bukan kasus penyembuhan, melainkan pencegahan.

Meski demikian, Deeks seperti dikutip New York Times, Senin (4/3/2013), mengatakan, kasus ini bisa menjadi pelajaran sekaligus harapan. Pelajaran tentang pentingnya perawatan mencegah penularan pada bayi, harapan kesembuhan bagi penderita HIV dan semangat bagi peneliti untuk menemukan obatnya.

Sebelumnya, kasus serupa pada bayi ini pernah dijumpai pada bayi lain. Dilaporkan di The New England Journal of Medicine tahun 1995, bayi sembuh dari HIV tanpa perawatan. Sementara pada manusia dewasa, penderita HIV dan leukimia, Timothy Brown, dinyatakan sembuh setelah cangkok sumsum tulang belakang.

==============================================

Nah, kebiasaan saya adalah setiap kali membaca berita yang saya rasa istimewa, saya kerap mengajak diskusi (yang sebenarnya ngobrol biasa saja) beberapa orang teman baik itu di dunia nyata atau maya. Banyak pertanyaan yang saya lontarkan agar kepala saya tidak terlalu penuh dengan pertanyaan-pertanyaan itu. Dalam kasus berita ini, pertanyaan yang pertama kali saya tanyakan adalah; “Mengapa sampai sekarang obatnya belum bisa ditemukan?” Adanya peristiwa satu bayi yang sembuh, belum bisa dikatakan bahwa the cure itu telah benar-benar ditemukan, kejadian ini hanya fenomena.

Jawabannya bermacam-macam, yang normatif hanya menjawab “masih dalam penelitian.”, sementara yang menganggap bahwa bahasan HIV/AIDS tidak menarik untuk dibicarakan ketimbang gelaran politik memberikan jawaban ambigu, “mungkin memang begitu dari sononya.” sononya mana?

Namun, yang menarik adalah jawaban bercorak konspirasi. Seperti yang telah saya ceritakan di awal mula pembuka tulisan ini. Bahwa ada teori konspirasi, jika bisa dibilang demikian, bahwa HIV/AIDS adalah azab Tuhan di bumi agar manusia lekas bertaubat dari perbuatan seks bebas. Mungkin jika baru kali ini Tuhan dari masing-masing agama yang banyak jenisnya itu, sama-sama kompak membiarkan azab HIV/AIDS berlangsung di dunia manusia tanpa ada salah satu dari mereka yang iba.

Anyway, salah satu jawaban kawan saya begini; “Mungkin saja sebenarnya obat, peralatan medis, the cure, atau apapun itu istilahnya, telah ditemukan. Akan tetapi, sengaja disembunyikan dari dunia agar menaikkan harga, atau nilai jual, yang akan dikeluarkan oleh konsumen untuk menyembuhkan penyakit mereka.”

“Bisa saja itu terjadi, seperti halnya kasus flu burung yang dalam teori konspirasi adalah hasil kerjaan militer Amerika untuk mengalihkan perhatian dunia dari rencana invasi mereka ke Afghan dan Irak pada awal-awal booming-nya kasus flu burung. Ada pula yang mengatakan bahwa virus H5N1 (kalau tidak salah) itu merupakan permainan industri-industri farmasi dunia yang ingin meningkatkan penjualan. Ya, bikin virusnya sekaligus penyembuhnya mirip cerita di film Mission Impossible 2.”

“Nah, bisa jadi HIV/AIDS ini juga ada konspirasi di baliknya. Sampai akhirnya, ketika tiba-tiba ada fenomena di luar dugaan bahwa seorang bayi bisa sembuh. Pasti mereka-mereka yang bermain di belakang layar kebingungan juga. Padahal, jika sampai 2020 nanti the cure-nya belum bisa disembuhkan, tambah naik tuh harga. Masuklah barang tuh.”

Ada-ada saja teori konspirasi ini, tapi memang ada. Buktinya teori konspirasi gemar dicari di google. Dari A-Z, 0-10, ada semua. Dan masyarakat mungkin ada yang sangat percaya dengannya. Bahkan, membela habis-habisan teori-teori konspirasi itu tanpa bukti yang benar-benar bisa diuji validitasnya. Saya jadi ingat tulisan seseorang yang membahas bukunya Lawrence M. Krauss, The Universe from Nothing. Why There is Something rather than Nothing.

Mengapa manusia lebih suka mempertanyakan yang tiada ketimbang yang ada? Padahal, alam semesta ini ada seperti apa adanya suka atau tidak suka. Sifat nature manusia yang selalu curious terhadap yang nothing inilah yang membuat manusia selalu mencari tahu bagaimana semua yang ada di alam semesta ini bekerja. Akan tetapi, persoalannya adalah terkadang apa yang dihasilkan oleh manusia hanya gumpalan-gumpalan teori konspirasi, seperti yang marak dijumpai belakangan ini.

Mungkin itu cuma perspektif, opini, pandangan, dan sebagainya. Ada begitu banyak hal yang tidak kita ketahui dan semua itu butuh penelitian tiada henti yang harus dilakukan oleh umat manusia, tapi di sisi lain, yang namanya “perspektif” hanya berlaku pada dunia manusia, bisa jadi semua yang kita saksikan di alam semesta ini hanyalah perspektif dan semua label yang ada dikarenakan kita sendiri yang membuatnya.

One thought on “Apakah Ada Konspirasi dalam Kasus HIV/AIDS?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s