Dunia Semakin Modern, Generasi Jenius Berkurang


Albert Einstein pernah berkata; “I fear the day that technology will surpass our human interaction. The world will have a generation of idiots.”

Dari berita kompas, Dean Keith Simonton, peneliti dari University of California menyatakan bahwa dunia modern miskin orang jenius seperto Galileo yang pertama kali mempelajari langit atau Charles Darwin yang mebuahkan teori evolusi.  “Kemajuan di masa depan akan dibangun pada apa yang sudah diketahui daripada berdasarkan dasar pengetahuan yang baru,” demikian dinyatakan Simonton dalam tulisannya di jurnal Nature, Kamis (31/1/2013).

Simonton mengungkapkan, dalam beberapa abad lalu, disiplin ilmu baru ditegakkan, ada fisika, biologi dan kimia. Pada masa kini, disiplin ilmu hanyalah gabungan dari yang sudah ada, seperti astrofisika dan biokimia. Menurutnya, penelitian masa kini juga dilakukan oleh tim dan dana yang besar, memperkecil kesempatan individu untuk menunjukkan dirinya. Tidak ada terobosan baru dalam sains. Sementara, fisika teoretik kini mengalami “krisis”. Banyak akumulasi penemuan yang tidak bisa dijelaskan.

Diberitakan Physorg, Kamis lalu, Simonton mengungkapkan bahwa setelah Einstein, tidak ada lagi orang yang benar-benar bisa dikatakan jenius. Tidak ada orang yang pandangannya masih akan dianut hingga ribuan tahun mendatang. Sains masa kini bukan menerangkan sesuatu tetapi cuma menambah rumit.

Pandangan seperti yang diungkapkan Simonton bukan pertama kalinya. Profesor University of California, Berkeley, Sherrilyn Roush, mengatakan, Sebelum datangnya mekanika kuantum dari Einstein, ilmuwan juga berpandangan bahwa segala hal telah ditemukan.

“Mereka tidak melihat revolusi akan datang, bahkan tidak membutuhkannya. Di atas semuanya, revolusi dan jenius, seperti kecelakaan, tak terduga. Anda bahkan tak tahu akan membutuhkannya sebelumnya mereka muncul,” kata Roush seperti dikutip Livescience, Minggu (3/2/2013).

Menanggapi pandangan Simonton, Roush mengatakan bahwa revolusi pemikiran tidak membutuhkan kecerdasan sangat tinggi. Ia juga mempertanyakan kepentingan dan kaitan disiplin baru dengan pemikiran baru. Namun, baik Simonton maupun Roush setuju bahwa menjadi ilmuwan masa kini berbeda dengan masa lalu. Lebih banyak informasi dan pengalaman yang dibutuhkan untuk menjadi ahli di masa kini. Bagi ilmuwan saat ini, membaca semua literatur di bidang tertentu sangat tidak mungkin.

============================================

Lalu apa jawaban kita sebagai orang Indonesia?

Mungkin kita akan menjawab bahwa tidak terlalu penting di zaman sekarang menjadi orang jenius. Yang lebih dibutuhkan adalah orang yang memberi manfaat bagi masyarakat luas. Untuk mewujudkan satu masyarakat dunia yang humanis. Ada pula yang mungkin menjawab; buat apa jenius, toh Tuhan tidak melihat Anda jenius, atau tidak, yang terpenting adalah takwanya.

Akan tetapi, coba tengok perpustakaan yang berserakan di tengah kita; di kampus, di tepi jalan, di sekolah, di mana pun, cuma terlihat kadang sebagai kuburan dan kadang sarana aman tempat pacaran. Lihat berapa koleksinya, berapa anggaran yang dikeluarkan sebulan untuk membeli buku dan berapa besar jumlah mahasiswa yang mau meminjam buku. Sebagian besar isinya hanya buku-buku teks kuliah, buku pengantar, buku panduan, yang tiap tahun ganti edisi baru. Buku-buku penting yang mengisi peradaban dunia tidak pernah disentuh. Jangan aneh kalau anak jurusan ekonomi tidak pernah menyentuh (jangankan membaca) buku Wealth of Nation-nya Adam Smith, Kapitalisme dan Etika Protestan-nya Max Weber, Das Kapital-nya Karl Marx, demikian pula anak jurusan sosiologi yang tidak pernah menyentuh buku-buku Durkheim, Peter Berger, Ibn Khaldun, Mercuse, dan anak ilmu pasti yang jangankan menyentuh dan membaca, mendengar pun mungkin belum pernah tentang Principia-nya Newton, atau yang lebih modern seperti karya-karya Richard Dawkins, Lawrence Kraus. Anak sastra tidak tahu Sartre, Umberto Eco, Adonis, dan sebagainya. Bahkan, mereka asing dengan kata-kata strukturalisme, positivisme, post-struktur, dan lain-lain.

Penerbitan buku di Indonesia juga sama saja. Risalah-risalah penting hampir tidak dapat dijumpai dalam bahasa Indonesia walaupun beruntung ada internet dapat mendownload berbagai macam artikel ilmuan asing. Para penerbit hanya sibuk meraup rupiah dengan menerbitkan buku yang menghibur, atau buku proyek dan buku pelajaran yang mutunya tidak jelas. Untuk membaca tentang sejarah Indonesia saja mungkin kita harus berkunjung ke Leiden Belanda.

Penerjemahan juga sama saja penyakitnya. Karya-karya penting dunia tidak banyak yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Padahal penerjemahan adalah salah satu kunci majunya peradaban. Jepang di masa awal kebangkitannya menerjemahkan semua karya-karya penting ke dalam bahasa Jepang, dan penerjemah mendapatkan posisi yang penting di negara itu. Awal kebangkitan kembali Eropa juga seperti itu. Para sarjana Eropa belajar di Kordoba, Spanyol yang di waktu itu diduduki oleh Islam. Dari sana mereka menerjemahkan kembali karya-karya klasik yang telah hilang dan tidak mereka kenal ke dalam bahasa Latin dari bahasa Arab. Ada pula kisah dari era imperium Abbasiyah di Baghdad ketika penerjemah di zaman itu, seorang Kristen Nestorian bernama Hunayn ibn Ishaq yang dibayar dengan emas seberat naskah yang diterjemahkannya! Dialah yang menerjemahkan teks-teks Plato dan Aristoteles dari bahasa Yunani ke dalam bahasa Arab, dan dengan demikian memicu perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan di Timur Tengah.

Bagi Indonesia saat ini yang katanya dikategorikan sebagai negara berkembang, hal ini juga menjadi relevan. Untuk mengangkat sebuah bangsa dari sebuah keterpurukan dimulai dari mengangkat derajat kemanusiaan bangsa itu, yaitu dengan pendidikan. Sayangnya pendidikan di negeri kita ini sampai sekarang masih menjadi hamba dari pembangunan, dengan fokus untuk menciptakan tenaga ahli sebanyak-banyaknya, dan mengabaikan untuk mencetak pemikir-pemikir, ilmuan-ilmuan, jenius-jenius yang bisa merumuskan mau dibawa ke mana arah bangsa ini.

Pendidikan di negeri ini masih berkutat pada masalah pembiayaan, infrastruktur, buku sekolah, dan ujian nasional. Tak banyak yang berpikir tentang inti dari pendidikan itu sendiri. Jarang muncul ilmuan jenius dan interdisipliner seperti orang-orang masa lalu. Kebanyakan mengendap dalam banalisme spesialisasi. Belum lagi bicara kurikulum yang dari tahun ke tahun semakin terlihat bahwa kurikulum di negeri ini cuma jadi ajang cari duit dan tidak bermutu sama sekali. Sementara itu, kita saksikan ratusan bahkan ribuan generasi muda berjingkrak-jingkrak menghafal dan memuja para penjaja hiburan di atas panggung. Perhatikan baik-baik pola pikir instan yang dicetak dunia hiburan di masa kini.

Di lain sisi, kita menemukan kenyataan, sebuah ungkapan yang seolah membenarkan anggapan kita bahwa orang-orang jenius Indonesia pindah dari negeri ini demi tujuan pragmatis yang bisa didapatkan di luar negeri, seperti penghargaan, gaji tinggi, kehidupan terjamin, bisa melakukan penelitian dengan dana yang tak terbatas dan peluang untuk dikenal oleh dunia lebih besar. Apakah sedemikian itu mental orang jenius Indonesia?

Setiap hari, mungkin lebih dari 20 jam, generasi muda dijejali tayangan sampah. Jika makanan ada istilah junkfood, mengapa tayangan tak boleh dibilang sampah? Sementara orang-orang dewasanya juga disesaki dengan berita intrik politik serta korupsi. Lalu tanyakan pada anak-anak zaman sekarang tentang cita-cita mereka, mungkin baik tua maupun muda, sama-sama kepengin masuk TV (Tell lie Vision).

Jangan-jangan Indonesia persis seperti yang dikatakan Einstein, jika itu tidak bisa dibilang ramalan, generasi bangsa ini menjadi sekumpulan idiot yang konsumtif dan tak punya cita-cita hebat mengenai diri mereka sendiri. Apalagi, bagi bangsa ini.

ps. yang penting masih bisa makan dan bisa masuk surga. Amin. Itulah Indonesia

2 thoughts on “Dunia Semakin Modern, Generasi Jenius Berkurang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s