Partai Politik Sudah Seperti Tim Sepakbola


Melihat berita perpolitikan tanah air jelang 2014 ini semakin memuakkan, mungkin menjijikkan. Akan tetapi, bagi yang lain mungkin menarik. Ibarat mengikuti jalannya dunia persepakbolaan menjelang memasuki musim di mana masa transfer masih berjalan. Pemain dari satu klub ditransfer, atau dipinjamkan ke klub lain. Bisa juga saling tukar pinjam pemain.

Sebagian orang menyebut kutu loncat, tapi mungkin ungkapan itu tidak tepat sekarang ini. Ya, ibarat pemain dan klubnya, mereka adalah orang-orang profesional yang akan loyak kepada pemilik modal yang berani “menghargai” jasa dan kontribusi mereka. Lihat saja ketika Hary Tanoe mundur dari Nasdem, disusul Akbar Faisal pindah ke Nasdem, tau-tau Hary Tanoe ke Hanura. Sekarang ini ketika Anas mundur–atau dipecat, alias diputus kontraknya jika memakai terminologi sepakbola, maka ribuan kader katanya ikutan keluar dan mencari klub baru yang mau menaungi mereka. Isu terbaru datang lagi bahwa Hanura melirik Anas menjadi bagian dari mereka.

Saya jadi ingat ketika “pertukaran” antara Samuel Eto’o dan Ibrahimovic dianggap sebagai transfer terburuk. Waktu itu Zlatan Ibrahimovic pindah dari Inter Milan ke Barcelona, sementara Samuel Eto’o pindah dari Barcelona ke Inter Milan. Di Barcelona, Zlatan kurang bisa beradaptasi dan kerap dicadangkan, sedangkan di Inter Milan justru Eto’o kerap jadi starter dan juga termasuk di jajaran pahlawan Inter yang bisa memberikan treble winner, selain daripada pengaruh sang Pelatih Jose Mourinho. Jangan-jangan nanti setelah peta perpolitikan tanah air di 2014 mulai terbaca, muncul istilah transfer terburuk itu. Siapa-siapanya kita belum tahu dan hanya bisa menerka.

Namun, kondisi persepakbolaan tanah air tak jauh beda dengan institusi agama/agama otoritas, yakni kerap dipolitisasi sana-sini. Semua saling terkait ke politik. Jika sepakbola saja penuh intrik politik dan tak terlepas dari permainan elit-elit parpol, saya sering menduga mungkin saja nasi yang saya makan di warteg tiap hari juga menyimpan rekaman permainan para elit. Kalau sapi saja bisa, apalagi nasi. Padahal, banyak orang bilang bahwa politik di era modern tak lagi mengandalkan sosok figur kharismatik yang kental nuansanya di abad-abad pertengahan, sekarang ini politik yang sehat berarti mengandalkan kepada sistem karena yang dijadikan sebagai realita adalah praksis politik di negara-negara yang memang sistemnya sudah mapan. Kalaupun terjadi kebocoran, akan secara cepat tertanggulangi. Namun, di Indonesia bagaimana bisa kita mencita-citakan sistem politik yang sehat dan mapan, jika ternyata tingkah laku elit-elit politiknya begini.

Tatkala masyarakat mulai menatap cerah konsepsi ideal itu bisa digenggam dan diraih, tiba-tiba muncul goro-goro lagi; saling sikut, saling rebut mesin politik untuk menjatuhkan lawan. Ujung-ujungnya terpaksa masyarakat balik lagi ke cara-cara politik abad pertengahan yang mengandalkan figur-figur kharismatik, seperti munculnya “dewa”, “satrio piningit”, “ratu adil”, “juru selamat” baru yang dielu-elukan. Jokowi-lah, Ahok-lah, Mahfud-lah, dus media massa pun ikut-ikutan menggiring cara berpolitik patron-klien dengan acara-acara yang bertajuk “pemimpin masa depan”, “pemimpin muda”, dan lain sebagainya. Yang seperti itu yang digemari, lalu ke mana cita-cita pembangunan sistem itu? Alih-alih, justru menguap dan kelak hanya dikenang dengan sesuatu bernama utopis.

Masihkah Anda mengharapkan kondisi sedemikian rupa? Tidak tahu, terserah apakah Anda mau skeptis dan abstain, atau menjadi bagian dari histeria massa. Seorang politikus Amerika Serikat Eugene McCarthy yang hidup dari tahun 1916-2005, mengatakan, “Being in politics is like being a football coach. You have to be smart enough to understand the game, and dumb enough to think it’s important.”

Jadi, kita yang mana?


ps. sebelum jadi coach beneran, main football manager dulu, yuk.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s