Santa Mereka dan Sunan Kita


Setiap agama dan tradisi yang berkembang dalam agama-agama tersebut pasti mengenal apa yang disebut sebagai orang suci , orang kudus, wali dan semacamnya. Masih berkaitan dengan Hari Valentine, ketika saya berbincang dengan seorang kawan yang berasal dari kristen (biasakanlah Anda berteman dengan beberapa orang yang agamanya berbeda dengan Anda untuk menambah perspektif tentang dunia ini), dia sangat miris sekali ketika setiap tanggal 14 Februari selalu saja nama Valentine dilokalisir menjadi aktifitas seks dan seolah Valentine disimbolkan dengan coklat dan kondom.

Saint, santa, santo adalah istilah orang suci dalam tradisi agamanya, miris jika Santa Valentine dikenal bukan karena kemartirannya, tapi justru diasosiasikan oleh orang-orang dengan atribut seksualitas. Masih mending Santa Klaus yang dirayakan suka cita dan mendapat pamor di hari Natal. Di Irlandia Anda akan mendapati perayaan hari Saint Patrick, yang kemudian karena gambaran beliau dicirikan dengan jubah hijau maka banyak orang sekarang mengkampanyekan gerakan kembali kepada alam, pelestarian lingkungan dan pemeliharaan ekosistem bumi yang mulai rusak.

Di Barat, katanya, di mana tradisi Kristen bertahan diterpa perubahan zaman hingga sekarang, nyatanya orang-orang tak lagi membohongi anak-anak mereka tentang siapa yang memberi hadiah di hari natal. Mungkin film-film Walt Disney yang masih melestarikan itu dengan daya imajinasi mereka, tapi itu sah-sah saja, tapi sekarang ini orang-orang mulai menggunakan logika tanpa harus menyembunyikan siapa yang memberi hadiah kepada anak-anak mereka dengan berlindung di balik jubah merah Santa Klaus. Akan tetapi, mereka tetap menghargai tradisi itu ketika melihat di tempat-tempat terbuka, di pasar swalayan, banyak Santa berkeliaran. Demikian pula dengan hari Saint Valentine, “Jika Anda ingin berhubungan seks, kenapa harus menunggu tiap 14 Februari?” katanya.

Mereka hanya menggali nilai-nilai perjuangan dan kisah di balik sang Santa itu sendiri, tapi kampanye yang digaungkan justru mengatributkan dan melokalisir bahwa sang Santa (Valentine) adalah penganjur seks bebas. “Bagaimana jika Sunan Kalijaga yang diasosiasikan demikian? Bukankah orang suci dalam tradisi agama Anda di negara Anda disebut Sunan, kan?” begitu katanya di media perbincangan jejaring sosial.

Kemudian saya mengeluhkan tentang mengapa di Indonesia banyak orang langsung bereaksi seperti itu menjelang hari Valentine, mungkin disebabkan karena perayaan hari tersebut berasal dari Barat, dari tradisi budaya yang asing dan Indonesia mengalami masa-masa kelam dijajah bangsa Asing sekalipun katanya di zaman VOC tradisi hari Valentine dilarang. Namun, kini kita sering diperdengarkan bahwa perayaan-perayaan seperti itu berasal dari Barat yang berarti budaya penjajah Asing.

“Apakah Anda percaya tradisi ketimuran Anda benar murni berakar jauh kepada orang-orang di kawasan Anda pada masa lalu? Tahukah Anda bahwa tiga agama besar saat ini. Bahkan, Kristen di dunia Barat sekarang juga berkembang dari wilayah nowhere di Timur Tengah sana. Akan tetapi, manusia terus berkembang dan demikian pula agama. Manusia-manusia di tiap kawasan mengisi agama dengan tradisi-tradisi mereka, lantas Anda ingin memutar balik semua itu kepada sesuatu yang Anda sebut murni?” jawabnya.  Jadi, untuk apa saat ini kita bersikap demikian. Tentunya hak Anda merayakan, atau tidak, hari Valentine. Akan tetapi, ketika kita dengan sewenang-wenang mengatributkan sesuatu dengan sesuatu, cobalah berpikir dua kali. Tidak semua hal di dunia dapat disimplifikasi jika Anda hanya peduli dengan yang simple-simpe itu termasuk cara pandang atas dunia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s