Ketika Jatuhnya Meteorit Dikaitkan Dengan Azab Tuhan


“A meteor streaked across the sky and exploded over Russia’s Ural Mountains with the power of an atomic bomb Friday, its sonic blasts shattering countless windows and injuring about 1,100 people.

The spectacle deeply frightened many Russians, with some elderly women declaring that the world was coming to an end. Many of the injured were cut by flying glass as they flocked to windows, curious about what had produced such a blinding flash of light.

The meteor–estimated to be about 10 tons and 49 feet wide–entered the Earth’s atmosphere at a hypersonic speed of at least 33,000 mph and shattered into pieces about 18-32 miles above the ground, the Russian Academy of Sciences said in a statement. But even small asteroids pack a tremendous punch, explained Andrew Cheng of the Johns Hopkins Applied Physics Laboratory.

“It doesn’t take a very large object. A 10-meter size object already packs the same energy as a nuclear bomb,” Cheng, who led a 2000-2001 mission for NASA to orbit and land on an asteroid, told FoxNews.com…”

Selengkapnya baca; foxnews

=================================================================

Kebanyakan orang mungkin sudah membaca tentang sebuah Meteorit (15 meter) yang melesat di atas langit Russia dan meledak di atas Pegunungan Ural dengan kekuatan setara bom atom pada hari Jum’at kemarin, ledakan gelombang suaranya menghancurkan kaca-kaca jendela dan mencederai 1.100 penduduk.

Akan tetapi, komentar yang muncul dari perbincangan tentang peristiwa ini bukanlah soal keprihatinan kita terhadap jatuhnya korban, melainkan (lagi-lagi) justifikasi agama bahwasannya hal tersebut merupakan azab Tuhan. Setidaknya, itulah yang tergambar di lini masa twitter ketika saya mencari berita tentang kebenaran berita tersebut waktu pertama kali mendengar kabarnya.

Ada beberapa komentar di facebook yang bisa dirangkum kurang lebih intinya bahwa jatuhnya meteor karena azab Allah bagi sistem komunis, sedangkan bagi kapitalisme tinggal tunggu waktu. Kemudian saya bertanya sendiri sekaligus mengomentari balik, “Kalau meteor jatuh di Mekkah bagaimana?”

“Nggak mungkin, rumah Allah akan selalu dijaga oleh pemilikNya.”  tapi mengapa sikap reaktif seperti ini muncul dari kalangan yang notabene bisa jadi beragama Islam. Dalam analisis sederhana saya, saat ini kalangan islamis berpegang teguh pada tesis utama perjuangan mereka bahwa sosalisme, komunisme, dan kapitalisme sebentar lagi akan hancur baik dengan sendirinya, atau tidak, dan kemudian berganti ekonomi syariah yang ditegakkan melalui sistem khilafah. Jadi, ketika ada komet menyerang Rusia, mereka langsung mengacu ke masa perang dingin di mana Rusia yang dulunya pusat kekuasaan Uni Soviet berideologi komunis sehingga keluarlah celotehan mereka, “Meteor jatuh adalah azab Allah bagi sistem komunis, untuk kapitalisme tinggal tunggu waktu…”

Saya langsung teringat tulisan Michio Kaku, “Kembali pada tahun 1910, media dengan benar melaporkan peristiwa yang paling tidak biasa: Bumi akan segera berbenturan dengan benda angkasa di langit—berpapasan dengan ekor komet Halley. Media menyatakan bahwa ekor komet tersebut mengandung gas beracun dan akan memicu sebuah episode dari histeria massa yang tiba-tiba mencengkeram masyarakat. Calon nabi bermunculan di sudut-sudut jalan sambil memperingatkan tentang datangnya hari kiamat. Orang-orang panik dan memborong masker gas dan menjadikan rumah-rumah sedemikian rupa untuk menangkal gas beracun. Desas-desus mengenai bencana semakin liar dan menambah kepanikan di kalangan masyarakat.”

Kejadian yang nyaris sama pun kembali lagi saat ini. Akan tetapi, karena sumber tragedi itu letaknya jauh dari Indonesia. Apalagi, ditutup isu kasus-kasus korupsi sehingga tidak terlalu banter terdengar. Namun, tetap saja komentar-komentar yang mengaitkan jatuhnya meteor dengan azab Tuhan, plus aroma persaingan ideologi mampir sekali lagi. Bahkan, mungkin bisa berulang kali dengan momen-momen peristiwa serupa. Lantas, masihkah cara berpikir kita langsung mengarah ke sesuatu yang divine ketimbang memikirkan dan melihat sejauh mana tragedi semacam itu berdampak pada sisi kemanusiaan kita?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s