Kesatria Penjaga Keperawanan Muncul Tiap Hari Valentine


59771_487722367932078_119720609_n

Ibarat Superhero yang keluar entah dari mana saat keadaan sekitar dalam keadaan terancam, para kesatria penjaga keperawanan pun muncul tiap menjelang dan ketika hari Valentine. Semua membawa isu beragama, dari agama, budaya, hingga friksi ketimur-timuran dan kebarat-baratan. Akan tetapi, lagi-lagi persamaan antara mereka adalah bahwa Valentine identik dengan seks bebas dan seks bebas adalah merusak moral. Entah dari mana terminologi seks bebas itu berkembang yang kemudian disangkut pautkan dengan merusak moral. Apakah Perdana Menteri Australia Julia Gillard yang tinggal seatap dengan pasangannya dan pernah berkata terus terang bahwa love is not about marriage itu, telah rusak moralnya? Lagipula, mengapa karena saking bijaksananya Anda, sehingga Anda sibuk memusingkan moral dan akhlak orang lain? Belum tentu orang-orang yang Anda anggap bermoral buruk itu akan merugikan saat bergaul dengan Anda, dan justru Anda yang merugikan dan melukai mereka.

Lagi-lagi keperawanan dianggap sebagai barang sekaligus sertifikat tolak ukur keperempuanan perempuan. Ya, perempuan yang tidak perawan sering kali di negara ini tidak dianggap sebagai perempuan dan sepertinya banyak fenomena yang terjadi di masyarakat betapa gampangnya mereka dilecehkan. Berulang kali pula dalam tulisan saya seperti larangan mengangkang, kasus Daming Sunusi, Ketika Perempuan Dibandingkan dengan Hewan, Perempuan Tempatnya di Kasur, Dapur, dan Sumur, menyiratkan bahwa keperawanan adalah bagian dari anatomi tubuh dan juga jiwa perempuan. Kepemilikan atas itu dimiliki oleh masing-masing perempuan, terserah bagi mereka apakah hendak melepaskannya sekarang, nanti, atau kapan saja. Apakah hanya karena keperawanan berbekas saat hilang maka Anda pantas menjustifikasi hilangnya moral perempuan? Lantas bagaimana dengan Anda? Jika Anda para lelaki onani apakah berani mengakui keperjakaan Anda telah hilang? Apakah perempuan-perempuan yang menerima Anda jika Anda misalnya tidak perjaka, akan menanyakan, atau langsung merasa jijik kepada Anda dengan kenyataan ketidakperjakaan Anda? Sedemikian picikkah Anda menyamakan keperawanan dengan barang, atau segel kualitas second, rekondisi, kw selayaknya barang-barang elektronik yang biasa Anda beli di toko?

Dalam salah satu buku Achdiat Mihardja pengarang novel berjudul Ateis, dia mengutip kata-kata Sutan Takdir Alisjahbana dalam bukunya Polemik Kebudayaan. Tulisan Sutan Takdir Alisjahbana tersebut aslinya berjudul Menuju Masyarakat dan Kebudayaan Baru, dia menulis;

“… Masyarakat dan kebudayaan bangsa kita harus tumbuh mengarah ke Barat serupa ini, boleh jadi akan membangkitkan amarah beberapa golongan yang dengan tiada sengaja dan tiada insyaf meninabobokan rakyat yang banyak dengan ucapan yang kosong dan tiada berarti: Timur halus budinya, sedangkan Barat egoistis, materialistis dan intelektualistis. Mereka mempunyai anggapan seakan orang Timur wali yang suci dan segala orang Barat penjahat yang tiada berhati demikian, pasti akan kaget mendengar ucapan yang mengatakan, bahwa orang Timur harus berguru kepada orang Barat.”

Ya, orang Timur terlampau menganggap suci dirinya bak wali-wali, orang-orang kudus, sementara di lain sisi menilai barat sebagai kebalikan, lawan, musuh dari diri mereka. Berkaitan dengan Hari Valentine, sebenarnya dalam ritual dan tradisi masyarakat di belahan dunia timur yang umumnya masuk wilayah Asia, banyak dijumpai fenomena-fenomena hari kasih sayang. Adapun mengapa Valentine yang menjadi terkenal bisa jadi diakibatkan ketundukan akibat kolonialisme, tapi teori ini berlaku juga yang dikemukakan oleh banyak sosiolog/antropolog yang menganalisa negara-negara dunia ketiga seperti Geertz, Francis Fukuyama, Noam Chomsky, bahwa suatu bangsa yang ditaklukkan cenderung mengikuti budaya dan tradisi bangsa yang menaklukkan mereka. Demikian pula bangsa yang tidak maju, atau masih berkembang, akan cenderung mengikuti negara lain yang lebih maju dari mereka. Prinsip ini juga berlaku dalam konsumerisme dan komersialisme. Akan tetapi, apakah di zaman sekarang kita masih berpikiran seperti itu?

Jika tidak, apakah kita harus mengkambinghitamkan Hari Valentine sebagai budaya penjajah? Apakah kita pernah mencoba memandang dari perspektif berbeda bahwa kisah Valentine adalah kisah perjuangan? Mengapa? Kebanyakan dari kita lebih suka mengambil isu heboh bahwa Hari Valentine diambil dari hari raya Pagan dan penghormatan kepada Dewa Lupercus (Di Afrika Selatan Hari Valentine disebut Hari Lupercalia), sehingga kita akan langsung bereaksi menyerang sebagai ritual sesat, bidah, atau bertentangan dengan agama yang kita anut. Sebagian lain lebih suka bumbu penjajahan dunia Barat kepada dunia Timur. Sementara itu, kita tak menggali bagaimana perjuangan seorang martir bernama Valentine itu sendiri ketika melawan kekaisaran Romawi walaupun banyak kisah yang mendasari mengapa dirinya disiksa oleh pihak Romawi.

Di China, hari kasih sayang sejenis Valentine’s Day dirayakan setiap tanggal 7 di bulan ke 7 pada kalender China (Chinese Lunar Calendar), Pasangan mengunjungi sebuah pura dan berdoa untuk kebahagiaan dan pernikahan di masa depan. Para lajang juga mengunjungi situs tersebut untuk mendoakan keberuntungan dalam menemukan cinta. Di Jepang dan Korea Selatan juga mempunyai tradisi White Day setiap tanggal 14 Maret. Bahkan, perayaannya lebih meriah. Ada banyak tradisi yang berkembang di Asia dalam rangka merayakan hari kasih sayang. Bagaimana dengan di Nusantara? Apakah tradisi di Nusantara pada zaman baheula dapat dilacak ada perayaan hari kasih sayang? Atau mungkin karena Nusantara dahulu kala rakyatnya berada di bawah tekanan kerajaan-kerajaan, sehingga rakyatnya tidak mengenal apa itu hari kasih sayang? Mungkin kita ada kesamaan dengan India. Dalam sebuah tulisan di Times of India, diakui bahwa hari kasih sayang jika dirunut sejarahnya tak ada dalam kalender mereka, melainkan sesuatu yang diimpor dari Barat. Akan tetapi, mereka punya Hari Ayah, Hari Persahabatan, Hari Perempuan. Bahkan, Hari Bos yang juga hasil impor.

Jadi, mengapa kita sebagai orang Indonesia alergi dengan sesuatu yang impor. Silakan jika Anda ingin berpegang pada hal yang “murni” Indonesia, lantas akan saya tanya apakah yang murni Indonesia sekarang ini jika semuanya mengalami akulturasi, asimilasi, eklektisisme? Bahkan, untuk sesuatu yang kita banggakan seperti Batik pun tidak murni Indonesia-Indonesia amat (coba Anda baca tentang motif Triquetra para bangsa Celtic yang bisa juga dikatakan mereka telah mengenal tradisi “pembatikan” lebih lama dari daerah di Nusantara). Tidak semua orang Indonesia menyikapi hari raya dengan cara melepaskan keperawanan jika Anda terus menggerutu tentang pentingnya keperawanan. Akan tetapi, dari tahun ke tahun setiap tanggal 14 Februari para kesatria penjaga keperawanan ini terus bermunculan. Mungkin regenerasinya selalu berhasil dan mungkin jika salah satu dari mereka tumbuh dewasa akan menjadi seperti Aceng Fikri? Mengapa? Ya, orang yang selalu meributkan keperawanan akan merasa was-was dengan itu, sehingga ketika didapati saat pernikahan istrinya tak sesuai dengan asumsinya tentang keperawanan maka langsung diceraikan begitu saja.

Siapa sih yang membuat perempuan jadi tak perawan jika bukan karena penis laki-laki, lalu mengapa laki-laki tak berpikir apa yang membuat diri mereka tak perjaka? ego atau 1 nafsu yang tidak bisa dikendalikan 99 akal mereka?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s