Pelecehan Perempuan di Mesir Makin Gila


Kasus pelecehan seksual yang dialami wanita di jalan-jalan Kairo, Mesir, semakin mengkhawatirkan. Wanita Mesir kerap mendapatkan pelecehan seksual baik dalam bentuk verbal maupun fisik di siang bolong.

Kondisi ini tak berubah dua tahun setelah revolusi, usai jatuhnya rezim Hosni Mubarak. Permusuhan terhadap wanita tetap terjadi dan sudah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan. Sejumlah LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) setempat melaporkan parahnya fenomena pelecehan seksual tersebut.

Pada awal revolusi, Amnesty International melaporkan insiden ketika wanita berdemo di Tahrir Square melawan rezim yang membuat tentara memeriksa demonstran wanita dengan melihat status keperawanan wanita. Ini tentu saja menyebabkan kegemparan di Mesir dan luar negeri.

Dan laporan terbaru Amnesty International menekankan jumlah insiden pelecehan seksual yang dialami kaum wanita di Tahrir Square semakin meningkat. Bahkan beberapa insiden itu diklasifikasikan sebagai perkosaan.

Demonstran lainnya di Tahrir square bahkan mengakui kalau pelecehan seksual ada di tengah-tengah kaum wanita. Menurut Amnesty International, serangan seksual itu memiliki pola yang jelas yang terjadi pada demonstrasi di Tahrir Square.

“Mengerikan, serangan kekerasan terhadap perempuan termasuk pemerkosaan di sekitar Tahrir Square menunjukkan bahwa sekarang penting bagi Presiden Mursi mengambil langkah-langkah drastis untuk mengakhiri budaya impunitas dan diskriminasi berbasis gender, dan untuk semua pemimpin politik harus berbicara,” kata Hassiba Hadj Sahraoui, Wakil Direktur untuk Timur Tengah dan Afrika Utara di Amnesty International seperti dikutip Al Arabiya, Selasa (12/2/2013).

Serangan seksual terhadap perempuan tidak bisa diterima secara terbuka dalam masyarakat konservatif dan karena itulah mengapa solusi termudah untuk masalah ini adalah dengan berpura-pura seperti tidak ada. Namun serangan menjadi terlalu ekstrem untuk diabaikan dan kota menjadi saksi bisu telah terjadinya pelecehan seksual.

Di sisi lain, tren kekerasan seksual telah dibenarkan sejumlah elemen ekstrem dalam masyarakat seperti pengkhotbah Salafi Ahmad Mahmoud Abdullah yang dikenal sebagai “Abu Islam”. Ia mengatakan, perempuan yang berdemonstrasi di Tahrir Square merupakan ‘tak ada garis merah’ karena wanita itu tidak punya malu dan ingin diperkosa.

Pernyataan itu jelas membahayakan masa depan hak-hak wanita agar bisa hidup berdampingan. Meskipun pengorbanan wanita Mesir dengan berdiri di garis depan revolusi dan melawan pertempuran demi kebebasan rekan senegaranya, kebebasan wanita Mesir sekarang terpinggirkan secara sistematis karena terhambat konstitusi baru yang merongrong hak-hak sipil.

sumber: liputan6

mesir-jail130212b

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s