Mengapa Sosialisme?


“Kita memerlukan cara berpikir yang baru secara substansial jika umat manusia berkehendak untuk bertahan hidup.”

Why Socialism? adalah kumpulan essay yang ditulis oleh Albert Einstein di tahun 1949. Awalnya berasal dari tulisan kecil di sebuah jurnal Monthly Review, New York. Berseberangan dengan kebiasannya menulis tentang sains, di sini dia melakukan pembacaan terhadap isu-isu ekonomi dan sosial.

“Apakah seseorang yang kepakarannya bukan seputar isu-isu ekonomi dan sosial diperbolehkan untuk mengekspresikan pandangan tentang persoalan sosialisme? Saya percaya ada sejumlah alasan untuk itu.” katanya. Ya, menjadi seorang pakar yang terisolasi dalam spesialisasi keilmuan sebagaimana yang tampak pada hari ini, sepertinya tak terjadi di zaman dulu. Paradigma interteks dan interdisipliner menambah kekayaan intelektualitas para ilmuan. Mereka bicara soal filsuf, sejarah, bahasa, sosial, politik dengan berbagai macam sudut pandang.

Akan tetapi, kritikan juga datang dari berbagai kalangan. Idealisasi Einstein memang patut diapresiasi, persoalannya adalah dia mengabaikan untuk memasukkan unsur keserakahan dan motivasi di mana keduanya merupakan sifat alamiah manusia selain sifat lainnya. Itulah sebabnya mengapa semua negara sosialis akhirnya gagal. Mudah saja jawabannya sebagaimana digambarkan dalam ungkapan, If there is no reward, people usually refuse to perform, or perform at the minimal effort.

Tulisan Einstein menyegarkan kembali tentang kenangan kita akan sosialisme setelah ada upaya labelisasi komunisme di masa-masa perang dunia dan perang dingin. Biarpun banyak yang meramalkan bahwa pemikiran filsafat akan berhenti di abad 21 berganti budaya pop sehingga arah perbincangan filsafat terdorong masuk ke dalam culture pop studies, tapi setidaknya kita masih bisa bernostalgia. Terutama bagi mahasiswa. Dulu ketika saya masih jadi mahasiswa s1, obrolan sehari-hari tak jauh dari pemikiran filsafat dan tokoh-tokohnya, sedangkan sekarang kebanyakan mahasiswa berbicara budaya pop, entah itu K-PoP, … pop, … pop, … pop. Saya tidak menyalahkan, hanya mewajari mungkin memang zaman harus berganti sebagaimana dibilang Einstein di atas sebagai Cara Berpikir Baru untuk bertahan hidup. Mungkin memang cara berpikir baru mahasiswa sekarang begitu. Di sini, saya cuma akan menuliskan beberapa essay Einstein tersebut meski tidak seluruhnya;

==================================================================

Pertama kali marilah kita mempertimbangkan pertanyaan dari sudut pandang ilmu pengetahuan. Ini mungkin tampak bahwa tidak ada perbedaan metodologi yang esensial antara astronomi dan ekonomi; ilmuwan di kedua bidang tersebut mencoba untuk menemukan hukum-hukum umum yang dapat diterima atas sekumpulan fenomena terbatas dalam rangka menjalin interkoneksi atas fenomena-fenomena itu agar dapat sejelas mungkin dimengerti. Namun, dalam kenyataannya perbedaan metodologis tersebut memang selalu mencuat. Penemuan hukum-hukum umum dalam bidang ekonomi disulitkan oleh situasi di mana fenomena ekonomi yang diamati sering dipengaruhi oleh banyak faktor yang sangat rumit untuk dievaluasi secara terpisah. Selain itu, pengalaman yang telah terakumulasi sejak awal periode yang disebut peradaban sejarah manusia, sebagian besar telah dipengaruhi dan dibatasi oleh sebab-sebab yang sesungguhnya dalam ekonomi pun tidaklah terlalu eksklusif. Sebagai contoh, banyak negara besar yang sesungguhnya berhutang pada tinta sejarah bahwa eksistensi mereka tercatat akibat melakukan ekspansi dan penaklukan. Bangsa penakluk membentuk diri, hukum dan ekonomi, sebagai kelas istimewa dari negara yang ditaklukkan. Mereka membuat sendiri aturan-aturan monopoli kepemilikan tanah dan menunjuk pemimpin spiritual yang berasal dari kelompok mereka sendiri. Para pemimpin spiritual, atau pemuka agama ini melakukan pengendalian atas pendidikan, membuat pembagian kelas dalam masyarakat menjadi institusi permanen dan menciptakan sistem-sistem nilai yang diperuntukkan bagi orang-orang yang ditaklukan, sehingga secara tidak sadar mereka telah digiring untuk mengikuti dan menyesuaikan sikap di dalam perilaku sosial mereka.

Akan tetapi, tradisi yang menyejarah di “kemarin hari” ini, apakah benar telah kita atasi sehingga kita bisa melewati apa yang disebut Thorstein Veblen sebagai “fase pemangsa” dalam perkembangan umat manusia. Fakta ekonomi yang dapat diamati hari ini ternyata masih berada pada fase itu dan bahkan hukum yang kita berlakukan pun tak dapat terlepas kepada fase lainnya. Karena tujuan sebenarnya dari sosialisme justru untuk mengatasi, memajukan dan melampaui fase predator pembangunan manusia, ilmu ekonomi di masa sekarang semestinya dapat memberikan pencerahan kepada masyarakat sosialis di masa depan.

Kedua, sosialisme diarahkan menuju tujuan sosial-etis. Sains, bagaimanapun, tidak dapat membuat hasil akhir. Setidaknya, hanya menanamkan pengertian mengenai tujuan-tujuan akhir dalam diri manusia; apa yang dapat dilakukan sains adalah dengan menyediakan sarana yang memungkinkan untuk manusia mencapai tujuan-tujuan tertentu. Akan tetapi, hasil akhir itu sendiri akan dapat dimengerti oleh pribadi-pribadi yang mempunyai keluhuran cita-cita etis—bahwa hasil akhir itu tidak akan gagal diraih karena sedemikian penting dan hebat—yang diadopsi dan diteruskan oleh banyak orang yang, setengah sadar, mempengaruhi kelambatan perkembangan masyarakat.

Untuk alasan ini, kita harus berhati-hati dan tidak melebih-lebihkan sains dan metode ilmiah ketika menyangkut persoalan manusia, dan kita tidak boleh berasumsi bahwa para ahli adalah satu-satunya yang memiliki hak untuk mengekspresikan diri pada pertanyaan-pertanyaan yang mempengaruhi struktur-struktur masyarakat.

Berbagai pendapat menyatakan bahwa untuk beberapa saat sekarang, umat manusia telah melewati krisis, tapi stabilitas sosial kemasyarakatannya telah runtuh. Ini adalah karakteristik dari situasi ketika individu-individu merasa acuh tak acuh atau bahkan memusuhi kelompok, kecil atau besar, di mana mereka berada. Dalam rangka untuk menggambarkan maksud saya, izinkan saya merekam di sini mengenai pengalaman pribadi. Saya bertemu dengan seseorang yang cerdas dan juga tersisihkan lalu membahas tentang ancaman perang lain yang suatu saat dapat berkecamuk—yang menurut saya akan berdampak serius membahayakan keberadaan umat manusia. Saya mengatakan bahwa hanya sebuah organisasi supranasional yang akan bisa memberikan perlindungan dari bahaya itu. Kemudian pengunjung saya, sangat tenang dan dingin, berkata kepada saya: “Mengapa kau begitu sangat menentang kepunahan umat manusia?”

Saya yakin bahwa sesedikit satu abad yang lalu tak seorang pun akan begitu ringan membuat pernyataan semacam ini. Ini adalah pernyataan dari seorang pria yang telah berjuang sia-sia untuk mencapai keseimbangan dalam dirinya sendiri dan kehilangan harapan untuk menuju kesuksesan. Ini adalah ekspresi dari kesendirian yang menyakitkan dan isolasi dari begitu banyak orang yang menderita di hari ini. Apa penyebabnya? Apakah ada jalan keluar?

Sangat mudah untuk memunculkan pertanyaan semacam itu, tetapi sulit untuk menjawabnya dengan tingkat kepastian. Saya harus mencoba, bagaimanapun, sebisa mungkin, meskipun saya sangat sadar akan adanya fakta bahwa perasaan dan pergumulan batin dalam diri kita sering kali bertentangan, tidak sejalan dan tidak dapat dinyatakan dalam rumus yang mudah, lagi sederhana.

Manusia adalah, pada saat yang sama, makhluk soliter dan makhluk sosial. Sebagai makhluk soliter, ia mencoba untuk melindungi keberadaannya sendiri dan juga orang terdekatnya, untuk memuaskan keinginan pribadinya, dan untuk mengembangkan kemampuan bawaannya. Sebagai makhluk sosial, ia berusaha untuk mendapatkan pengakuan dan kasih sayang sesama manusia, untuk berbagi dalam kesenangan mereka, untuk menghibur kesedihan mereka, dan untuk memperbaiki kondisi hidup mereka. Hanya eksistensi dari keragaman ini, yang sering memunculkan pergumulan batin sebagai karakter khusus dari seorang manusia, dan kombinasi khusus mereka menentukan sejauh mana seorang individu dapat mencapai keseimbangan batin dan dapat memberikan kontribusi pada kesejahteraan masyarakat. Hal ini sangat mungkin bahwa kedua hal ini secara relatif dikukuhkan, utamanya, difiksasi oleh warisan. Akan tetapi, kepribadian yang akhirnya muncul sebagian besar terbentuk oleh lingkungan di mana seorang manusia berusaha untuk menemukan jati dirinya, oleh struktur masyarakat di mana ia tumbuh, oleh tradisi masyarakat itu, dan oleh kebiasaan mengapresiasi perilaku tertentu yang ia lakukan. Konsep abstrak “masyarakat” bagi individu manusia, secara langsung dan tidak langsung, menjadi keseluruhan total hubungan antara dirinya dengan kekinian dan semua orang dari generasi sebelumnya. Individu yang mampu berpikir, merasa, berusaha, dan bekerja sendiri, tetapi ia tergantung begitu banyak pada masyarakat—dalam keberadaan fisik, intelektual, dan emosional—bahwa tidak mungkin untuk berpikir tentang dia, atau untuk mengerti dia, di luar kerangka masyarakat. Ini adalah “masyarakat” yang menyediakan manusia dengan makanan, pakaian, rumah, alat-alat kerja, bahasa, bentuk-bentuk pemikiran, dan sebagian besar isi pikiran; kehidupannya dibentuk melalui kerja dan hasil-hasil dari jutaan masa lalu dan sekarang yang semuanya tersembunyi di balik kata kecil “masyarakat.”

Hal ini jelas, karena itu, bahwa ketergantungan seseorang terhadap masyarakat adalah fakta alam yang tidak dapat dihapuskan—seperti dalam kasus semut dan lebah. Namun, sementara proses kehidupan seluruh semut dan lebah adalah tetap sampai ke detail terkecil dengan kaku, turun temurun bersifat naluriah, pola sosial dan hubungan timbal balik dari manusia sangat bervariasi dan rentan terhadap perubahan. Memori, kapasitas untuk membuat kombinasi baru, kemampuan berkomunikasi secara oral telah membuat perkembangan-perkembangan umat manusia terjadi tidak ditentukan oleh kebutuhan biologis. Perkembangan tersebut menampakkan diri dalam tradisi, lembaga, dan organisasi; dalam literatur, dalam prestasi ilmiah dan rekayasa, dalam karya seni. Dalam artian tertentu, ini menjelaskan bahwa manusia dapat mempengaruhi hidupnya melalui perilaku sendiri dan secara sadar selalu berpikir dan ingin dapat memainkan peran.

Manusia lahir dan berketurunan, konstitusi biologis yang harus kita pertimbangkan sebagai sesuatu yang tetap dan tidak dapat diubah, termasuk dorongan alami yang merupakan karakteristik dari spesies manusia. Selain itu, selama hidupnya, manusia memperoleh konstitusi budaya yang ia adopsi dari masyarakat melalui komunikasi dan melalui berbagai jenis pengaruh. Ini adalah konstitusi budaya yang, dengan berlalunya waktu dapat berubah dan menentukan hubungan antara individu. Masyarakat antropologis modern telah mengajarkan kita, melalui penyelidikan komparatif yang disebut kebudayaan primitif, bahwa perilaku sosial manusia mungkin sangat berbeda, tergantung pada pola-pola budaya yang berlaku dan jenis organisasi yang mendominasi di masyarakat. Dalam hal ini berarti bahwa mereka yang sedang berjuang untuk memperbaiki nasib manusia mungkin dapat mengubur harapan mereka. Pada dasarnya manusia tidak ditakdirkan—karena konstitusi biologis mereka—untuk memusnahkan satu sama lain atau berada pada posisi meminta belas kasih dari garis nasib yang kejam.

Jika kita bertanya kepada diri sendiri bagaimana struktur masyarakat dan sikap budaya manusia harus diubah untuk membuat kehidupan manusia lebih memuaskan, kita terus-menerus harus menyadari akan fakta bahwa ada kondisi tertentu yang tidak dapat kita modifikasi. Seperti disebutkan sebelumnya, sifat biologis manusia, untuk semua tujuan praktis, tidak dapat berubah. Selain itu, perkembangan teknologi dan demografi dari beberapa abad terakhir telah menciptakan kondisi yang mapan. Dalam populasi yang relatif padat dan disesaki oleh kebutuhan akan barang-barang guna kelangsungan kehidupan mereka, maka suatu pembagian kerja yang ekstrim dan sentralisasi aparatus yang produktif sangat mutlak diperlukan. Masa itu akan hilang selamanya ketika individu atau kelompok-kelompok yang relatif kecil bisa benar-benar mandiri. Tidaklah terlalu berlebihan untuk mengatakan bahwa umat manusia saat ini merupakan sebuah komunitas planet produksi dan konsumsi.

Saya sekarang telah mencapai titik di mana saya dapat menunjukkan secara singkat esensi dari krisis waktu yang kita alami. Ini menyangkut hubungan antara individu dengan masyarakat. Individu menjadi lebih sadar daripada sebelumnya dari ketergantungannya pada masyarakat. Tapi ia tidak mengalami ketergantungan ini sebagai aset yang positif, sebagai ikatan organik, sebagai kekuatan pelindung, melainkan sebagai ancaman terhadap hak-hak alamiahnya, atau bahkan keberadaan ekonominya. Selain itu, posisinya dalam masyarakat telah sedemikian rupa sarat tampilan egoistik yang terus-menerus ditekankan, sedangkan aspek sosialnya, yang secara alami lemah, semakin memburuk. Semua manusia, apa pun posisi mereka dalam masyarakat, tengah menderita proses kerusakan ini. Tanpa sadar menjadi tahanan dari egoisme mereka sendiri; mereka merasa tidak aman, kesepian, lantas menjadi naif dan kehilangan kenikmatan hidup. Manusia dapat menemukan makna dalam kehidupan, hanya melalui pengabdian dirinya kepada masyarakat.

Anarki ekonomi masyarakat kapitalis seperti yang ada saat ini, menurut pendapat saya, adalah sumber nyata dari kejahatan. Kita melihat di depan kita sebuah komunitas besar produsen, anggota yang tak henti-hentinya berjuang untuk mencabut satu sama lain dari hasil kerja kolektif mereka—bukan dengan kekuatan, tetapi secara keseluruhan sesuai dengan aturan hukum yang terus dikonstitusikan. Dalam hal ini, penting untuk menyadari bahwa alat-alat produksi—kapasitas produktif keseluruhan yang diperlukan untuk memproduksi barang-barang konsumsi serta barang-barang modal tambahan—dilegalkan dan absah menjadi hak milik pribadi setiap individu.

Demi kesederhanaan, dalam diskusi yang berikut akan saya sebut sebagai “pekerja” untuk semua orang yang tidak berbagi dalam kepemilikan alat-alat produksi—meskipun secara umum tidak cukup sesuai dengan penggunaan istilahnya. Pemilik alat-alat produksi berada dalam posisi untuk membeli tenaga kerja dari pekerja. Dengan menggunakan alat-alat produksi, pekerja menghasilkan barang baru yang menjadi milik kapitalis. Titik penting tentang proses ini adalah hubungan antara apa yang dihasilkan oleh pekerja dan apa yang membuatnya dibayar, keduanya diukur dari segi nilai riil. Sejauh kontrak kerja yang bersifat “bebas,” apa yang diterima pekerja ditentukan bukan oleh nilai sebenarnya dari barang yang ia hasilkan, tetapi oleh kebutuhan minimum dan oleh kebutuhan kapitalis untuk tenaga kerja dalam kaitannya dengan jumlah calon pekerja yang bersaing untuk mendapat pekerjaan. Adalah penting untuk memahami bahwa dalam teori pembayaran sekalipun, para pekerja tidak ditentukan oleh nilai dari produknya.

Modal swasta cenderung menjadi terkonsentrasi di tangan beberapa orang, sebagian karena kompetisi di antara para kapitalis, dan sebagian lagi karena perkembangan teknologi dan pembagian kerja yang semakin mendorong pembentukan unit yang lebih besar dari produksi dengan mengorbankan yang lebih kecil. Hasil dari perkembangan ini adalah oligarki dari kekuatan besar modal swasta yang tidak dapat secara efektif diperiksa, bahkan oleh organisasi masyarakat yang demokratis. Hal ini berlaku sejak anggota badan legislatif yang dipilih oleh partai politik, sebagian besar dibiayai atau dipengaruhi oleh kapitalis swasta yang, untuk semua tujuan praktis, memisahkan pemilih dari legislatif. Konsekuensinya adalah bahwa para wakil rakyat tidak pada kenyataannya cukup melindungi kepentingan bagian dari populasi yang kurang mampu. Selain itu, dalam kondisi yang ada, kapitalis swasta pasti mengontrol, langsung atau tidak langsung, sumber utama informasi (pers, radio, pendidikan). Dengan demikian sangat sulit, dan memang dalam banyak kasus sangat mustahil, untuk perseorangan warga negara bisa menyimpulkan dengan objektif dan memanfaatkan secara cerdas hak politiknya.

Situasi yang berlaku dalam ekonomi berdasarkan kepemilikan pribadi atas modal, ditandai prinsip utama: pertama, pengertian dari produksi (modal) adalah milik pribadi dan pemilik sewaktu-waktu bisa menghentikannya saat mereka lihat patut untuk dihentikan. Kedua, kontrak kerja adalah gratis. Tentu saja, tidak ada yang bisa dikatakan murni kapitalis dalam pengertian ini. Secara khusus, perlu dicatat bahwa pekerja, melalui perjuangan politik yang panjang dan pahit, telah berhasil mengamankan bentuk agak membaik dari “kontrak kerja bebas” bagi kategori pekerja tertentu. Tapi secara keseluruhan, dunia perekonomian kini tidak berbeda jauh dari kapitalisme “murni”.

Produksi dilakukan untuk keuntungan semata, bukan untuk penggunaan. Tidak ada ketentuan bahwa semua orang yang mampu dan mau bekerja akan selalu ada di posisi pencari kerja, sebuah “barisan pengangguran” yang selalu ada. Pekerja terus-menerus dirundung rasa takut kehilangan pekerjaannya. Oleh karena pengangguran dan kurang dibayar tidak memberikan pasar yang menguntungkan, produksi barang konsumen dibatasi, dan penderitaan besar adalah konsekuensinya. Kemajuan teknologi sering mengakibatkan lebih banyak pengangguran ketimbang dalam pengurangan beban kerja untuk semua. Motif keuntungan, dalam hubungannya dengan kompetisi di antara kapitalis, bertanggung jawab untuk ketidakstabilan dalam akumulasi dan pemanfaatan modal yang mengarah ke depresi semakin parah. Persaingan tak terbatas mengarah ke limbah besar tenaga kerja, dan yang melumpuhkan kesadaran sosial individu yang saya sebutkan sebelumnya.

Melumpuhkan individu, inilah yang saya anggap kejahatan terburuk dari kapitalisme. Seluruh sistem pendidikan kita menderita dari kejahatan ini. Sikap kompetitif berlebihan yang ditanamkan ke siswa, yang dilatih untuk menyembah kesuksesan dan keserakahan sebagai persiapan untuk karir masa depannya.

Saya yakin hanya ada satu cara untuk menghilangkan kejahatan-kejahatan serius, yaitu melalui pembentukan suatu ekonomi sosialis, disertai dengan sistem pendidikan yang akan berorientasi pada tujuan sosial. Dalam ekonomi, alat-alat produksi dimiliki oleh masyarakat itu sendiri dan digunakan dengan cara yang direncanakan. Sebuah perencanaan ekonomi, yang menyesuaikan produksi dengan kebutuhan masyarakat, akan mendistribusikan pekerjaan yang harus dilakukan di antara semua orang yang mampu bekerja dan akan menjamin mata pencaharian untuk setiap pria, wanita, dan anak. Pendidikan individu, selain untuk mempromosikan kemampuan bawaan sendiri, akan berusaha untuk mengembangkan dalam dirinya rasa tanggung jawab atas sesama manusia di altar pemuliaan kekuasaan dan kesuksesan dalam masyarakat kita saat ini.

Namun demikian, perlu diingat bahwa ekonomi yang terencana belumlah disebut sosialisme, dikarenakan sebuah perencanaan ekonomi seperti itu dapat disertai dengan perbudakan atas individu. Pencapaian sosialisme membutuhkan solusi dari beberapa masalah sosio-politik yang rumit. Dapatkah sentralisasi kekuasaan politik dan ekonomi, mencegah birokrasi dan birokrat menjadi terlalu kuat dan otoriter? Bagaimana hak-hak individu harus dilindungi dan dengan itu mampu menjamin adanya penyeimbang kekuatan bagi kekuasaan birokrasi secara demokratis?

One thought on “Mengapa Sosialisme?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s