Walikota Cepat Horny, Perempuan Dilarang Ngangkang


Heran saya melihat tingkah bupati, walikota, dan pemimpin-pemimpin di daerah. Mengeluarkan Perda seenaknya sendiri. Berdalih pakai bawa-bawa agama dan mengatasnamakan demi kepentingan bersama, tetapi harus memarjinalisasi satu kelompok dan golongan di dalam masyarakat. Sama seperti perempuan yang sering menjadi korban. Sering dibilang mayoritas alias jumlah perempuan paling banyak, tapi dijadikan sasaran ambisi politik kaum lelaki yang minoritas itu. Apakah segitunya perasaan lelaki karena sering disakiti sehingga berupaya membalasnya dengan amunisi setinggi langit. Adatlah, agamalah, sopan santunlah, semua dijejali ke dalam satu wadah peraturan.

Peraturan untuk mengendalikan perempuan sesuai cara pandang lelaki. Oleh karena eksploitasi ego yang luar biasa secara struktural ini maka perempuan pun jadi korban. Dalam kasus perda larangan mengangkang ini, saya jadi menyeletuk sendiri, “Kasihan perempuan Aceh. Walikotanya mudah terangsang, perempuan-perempuan jadi korban.” masih segar dalam ingatan kasus ucapan bupati Aceh Barat yang kontroversial dan menjadi olok-olok warga mengenai perempuan pakai rok mini layak diperkosa. Kemudian celotehan Fauzi Bowo yang terserimpet “jadi gerah” gara-gara lihat rok mini di dalam angkot.

Penyelesaian yang digunakan dalam logika berpikir lelaki dan apesnya menjadi pejabat-pejabat publik, ketika menyangkut urusan “seksual” dan “perempuan”, pasti yang dijadikan pelaku utamanya adalah perempuan. Kesannya perempuan itu hewan liar yang harus dijinakkan oleh peraturan-peraturan baik yang dicarikan pembenarannya melalui stempel kredo agama, adat istiadat, atau hasil pemikiran yang berpangku pada stigma sekujur tubuh perempuan itu adalah kemaluan.

13573878871310705973
foto: amakuru.igihe.com

Hai laki-laki, don’t tell us how to dress, tell them not to rape. Jargon seperti ini mungkin sangat susah diterima. Jangankan mau mengubah paradigma, kaum pria malah menggelontorkan jawaban, if you don’t want to get raped, don’t go out wearing nothing. Logika sebab-akibat mengemuka sebagai benteng pertahanan.

Jika seorang gadis diperkosa di jalan larut malam, hal pertama yang orang-orang tanyakan mengapa dia ada di sana selarut itu? Kenapa dia sendirian? Apa yang dia lakukan? Apa yang dia kenakan? Apa pekerjaannya? Tidak ada yang bertanya siapa sih bajingan yang melakukan ini padanya? Bahkan, jika perempuan itu adalah seorang pelacur, yang merelakan tubuhnya ditiduri banyak pria, dia pun punya hak untuk mengatakan bahwa dia juga bisa menjadi korban pemerkosaan. Jadi, mengapa pria begitu berhak untuk menganggap perempuan adalah properti mereka. Walaupun tidak mengakui, tapi mindset, sudut pandang yang dibangun di masyarakat adalah seperti itu. Apakah patriarki mengakar sebegitu dalam di masyarakat kita?

Akan tetapi, perempuan tetap membela diri bahwa cara berpakaian dan berperilaku adalah bagian dari cara mereka berekspresi. Tubuh perempuan adalah milik dirinya sendiri sebagaimana pria memiliki tubuhnya. Seksualitas perempuan adalah milik dirinya sebagaimana pria juga memilikinya. Akan tetapi, mengekspresikan diri bukanlah sesuatu yang diperuntukkan bagi pemuasan diri.

I have come to believe that caring for myself is not self indulgent. Caring for myself is an act of survival, begitu kata Audre Lorde. Mungkin para perempuan harus menyadari bahwa di luar sana banyak serigala yang mengintai dan siap menerkam. Cara kalian mengekspresikan diri menentukan apakah kalian bisa survive di antara banyak mata yang penuh gairah itu.

2 thoughts on “Walikota Cepat Horny, Perempuan Dilarang Ngangkang

  1. orang aceh punya hak istimewa tersendiri. kalau bukan krena orang aceh, lo pade semua udah mampus d hajar belanda. lo tanya tu soekarna klo ng prcya, orang aceh mau syariat islam murni. kamu aj tu wahabi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s