Sihir Propaganda dan Jargon Politik


Di usianya yang baru 8 tahun, Anchee Min sudah ikut dalam arus besar Revolusi Kebudayaan yang melanda Republik Rakyat Cina di pertengahan tahun 1960-an. Dan, itu bermula dari selembar poster yang dibawanya pulang.

Poster itu dibuat dengan teknik cetak sederhana, berwarna merah, hitam, di bidang kertas putih, menampilkan sosok Ketua Mao yang senyum cerah sambil melambaikan tangan, berlatar bulatan matahari merah yang berpendar ke seluruh bidang gambar. Di bidang bagian bawah poster tergambar kaum muda-mudi, buruh, petani, berbaris rapi dengan lautan bendera merah yang berkibar. Anchee Min menempelkan poster itu di dinding ruang keluarga dirumahnya, menggusur poster kesayangan ibunya yang bergambar seorang anak sedang bermain di kolam penuh teratai. Anchee Min kecil telah ikut menyokong Revolusi.

Garis hidupnya seperti telah ditentukan di hari itu. Tahun-tahun berikutnya, bocah perempuan ini sibuk dengan majalah dinding sekolah, menggambar poster dan menempelkan slogan dari buku petunjuk resmi keluaran Partai Komunis Cina. Tanpa keraguan dan keluh-kesah apapun, masa remajanya ia habiskan di lahan-lahan pertanian kolektif di pesisir Laut Cina Timur yang terpencil. “Kekuatan dan keberanian saya”, katanya, “datang dari poster-poster yang saya lihat selama ini. Saya percaya pada semangat kepahlawanan (yang tampil di poster-poster itu), dan jika memang harus, saya bersedia mati sebagai seorang martir (demi Ketua Mao/Revolusi)”.

Bagi kita yang tak pernah merasakan bagaimana poster propaganda dalam jumlah jutaan menghiasi seantero negeri, dan menyusup ke lubuk batin, kisah Anchee Min mungkin terasa aneh atau tak masuk akal. Poster-poster, yang digambar dengan teknik realis menyerupai rekaman kamera foto, dengan kalimat-kalimat slogan penuh instruksi itu, bisa merasuk ke dalam kesadaran seseorang sedemikian rupa. Poster-poster yang sanggup memberi “semangat dan keberanian” untuk menghadapi segala rasa sakit dan lelah, bahkan kematian! Tak ketinggalan, Anchee Min juga memotong dan menjalin kepang rambutnya, juga berpakaian, seperti sosok gadis dalam poster yang dikaguminya. Mirip kegandrungan remaja terhadap bintang musik atau film dari dunia budaya pop masa kini.

***
Propaganda, sekarang kita tahu, adalah sebuah kerja sistematis untuk memanipulasi opini dan pikiran orang banyak dengan menyebarkan fakta, argumen, gagasan, dan lebih sering lagi, kebohongan. Propaganda memang dimulai dengan sebuah pengandaian tentang adanya sebuah “perang“ yang akan, atau sedang berlangsung. Dan dalam perang, selalu tersedia dunia yang sederhana, terpisah dalam dua kubu yang jelas ciri dan batasnya: kita vs. mereka, kawan vs. lawan, pejuang vs. pengkhianat. Propaganda, dalam situasi perang semacam ini, adalah alat dan cara kerja yang bertugas meyebarkan kesadaran akan batas-batas dua dunia tadi kepada orang banyak, rakyat, massa. Gambaran dunia yang terbelah dalam dua kubu itu (polarisasi) dengan ciri yang yang serba jelas (stereotipe) adalah sebuah penyederhanaan atas kenyataan dalam bentuknya yang paling banal. Kenyataan dalam propaganda kemudian jadi ironi. Karena propaganda hampir selalu dengan mudah berubah jadi pengelabuan atas kenyataan. Dan dalam situasi perang, sejauh menyangkut berbagai bentuk dan jenis propaganda yang hampir pasti selalu menyertainya, korban pertama yang jatuh adalah kebenaran.

Demikianlah, dalam situasi perang, dunia telah disesederhanakan tadi harus segera terlihat, dipahami, dan diterima oleh orang banyak. Tidak mengherankan jika poster-poster propaganda pada umumnya memilih corak perupaan yang serba realistik.

***
Realisme, corak seni rupa yang muncul di awal abad ke-20 di pusat keramaian ilmu dan kesenian Eropa, Paris, sejak semula memang sudah berisi semangat ‘politik’. Gustave Courbet (1819-77) yang memulai aliran ini dalam seni rupa moderen Barat pernah menuliskan manifestonya tentang Realisme. Ia tak percaya pada keyakinan “seni untuk seni.” Tapi Realisme Courbet tidak serta merta menunjuk pada semangat Sosialisme. Ia lebih mementingkan individualisme yang sesuai dengan jamannya. Ia ingin menangkap segala hal disekitarnya “sesuai dengan perkiraan-perkiraan saya sendiri”, tulisnya. Ia, lanjutnya, ingin mencari jalan estetik baru agar bisa keluar dari “perangkap Romantisisme”.

Mengamati karya-karyanya sekarang, kita bisa memahami bahwa Realisme yang dimaksud Courbet bukanlah perkara teknik melukis realis. Tradisi meniru rupa alam dan isinya senyata-nyatanya itu, mimesis, telah mencampai kesempurnaan di tangan para empu gambar masa Renaisans di Italia. Courbet, secara teknis, justru melukis dengan teknik yang tak “sesempurna” para pendahulunya itu. Tetapi, apa yang digambarkannyalah yang jadi petunjuk tentang sikap Realisme-nya itu. Realisme versi Courbet, adalah kehidupan masyarakat yang selama ini tak masuk dalam keranjang selera dan ukuran “keindahan” seni lukis kaum elit dijamannya. Ia ingin melukiskan kaum biasa, orang kebanyakan, dan segala soal yang mereka geluti.

Adalah Pierre-Joseph Proudhon (1809-65), seorang intelektual sosialis yang bersemangat, yang kemudian memanfaatkan Realisme Courbet untuk menjelaskan hubungan intim yang bisa dicapai antara seni rupa dan cita-cita kemanusiaan yang mulia, hingga seni rupa dapat memenuhi “wibawa sosial”nya. Gagasan Realisme ini dikembangkan lebih lanjut oleh Edouard Manet (1832-83). Dalam lukisannya “Eksekusi Maximillian” (1867), ia menggambarkan peristiwa terbunuhnya Raja Maximilllian dari Austria yang diberondong peluru pejuang nasionalis Mexico, setelah ia ditinggal sendiri tanpa perlindungan dari tentara Perancis. Awalnya, adalah militer Perancis yang menaikkan Maximillian sebagai penguasa Mexico. Manet mengeritik sikap Perancis itu. Dalam lukisannya ia menggambarkan sosok para penembak itu berseragam tentara Perancis.

Gambaran ringkas tadi setidaknya memberikan kita pemahaman bagaimana Realisme sejak awalnya memang sudah mendekat ke semangat kritik dan perlawanan yang mewarnai masa-masa pengantar ke arah Revolusi Perancis 1848. Realisme Sosialis yang kemudian jadi aliran resmi di berbagai negeri Komunis di abad berikutnya, adalah juga turunan dari semangat humanisme yang disebarkan oleh Revolusi Perancis.

Namun demikian, Realisme bukanlah gerakan yang menonjol dan punya peran penting dalam praktik seni rupa Rusia di dekade pertama abad ke-20. Sejumlah seniman Rusia justru sedang ikut bergolak bersama gelombang awal Revolusi Bolshevik. Mengambil inspirasi dari Kubisme yang sedang berkembang di Perancis, dan juga Futurisme di Italia, Kasimir Malevich menghadirkan sejumlah lukisan abstrak dalam gaya yang awalnya ia sebut sebagai “Cubo-Futurist”. Tapi, ia mendorong abstraksi kubisme dan futurisme sampai kepada bentuk-bentuk geometris yang tidak menyisakan rujukan figur atau realitas apapun. Abstraksi geometris dalam karyanya terasa ekstrim. Ia hanya menyusun bidang geometris dan garis dalam warna-warna datar. Ia kemudian menyebutnya sebagi Suprematisme. Semangat garda-depan Malevich menular ke seniman dan perancang yang berusia lebih muda. Kalangan muda inilah yang kemudian melahirkan Konstruktivisme, pendekatan estetik yang juga diwarnai dengan semacam utopianisme masyarakat Sosialis-Komunis yang baru terbentuk menyusul Revolusi Oktober 1917.

Penggunaan berbagai bahan dan benda sisa hasil industri, sikap anti-estetik, dan juga kecenderungan pendekatan rancang arsitektur dalam karya-karya mereka seringkali dimaskudkan sebagai wujud nyata gagasan “Materialisme” Marxis serta semangat menuju masa depan gemilang seperti dicita-citakan Partai Komunis Rusia. Ini tentu saja menggembirakan penguasa baru yang merasa mendapat dukungan kalangan seniman garda-depan Rusia.

Namun hubungan mesra ini cepat berakhir. Proyek propaganda partai segera terasa tidak cocok dengan citarasa estetik seniman Konstruktivis yang memang elitis. Pada saat Lenin memberlakukan “Kebijakan Ekonomi Baru” di tahun 1921, Konstruktivisme sudah mulai dikecam dan kemudian ditolak. Abstraksi yang begitu ekstrem dan intelektualisme elitis yang mendasarinya dianggap tak cocok dengan semangat rakyat jelata. El Lissitzky, salah seorang seniman terpenting dari kelompok ini akhirnya pindah ke Jerman.

Dengan habisnya para pendukung Konstruktivisme di Rusia dan berkuasanya kelompok garis keras Komunisme dibawah pimpinan Stalin berlakulah konsep estetik resmi yang dianggap cocok dengan cita-cita politik Partai dan Negara: Realisme Sosialis.

***

Tapi, tentu saja tak sekedar Realisme Sosialis yang menyebabkan poster dan pesan-pesan propaganda di negeri-negeri Komunis itu hingga segala pesan dan sihirnya bisa menyusup ke dalam benak dan sanubari rakyat, seperti yang terjadi pada Anchee Min kecil di awal tulisan ini. Propaganda di negara-negara totaliter itu memang tak serumit yang terjadi di negeri yang menganut prinsip demokrasi di jaman kontemporer ini. Berbekal penjelasan kritis intelektual Marxis, Antonio Gramsci, kita tahu sekarang bagaimana hegemoni bekerja di sekujur badan dan pikiran orang banyak. Poster, salah satu alat propaganda, bersama berbagai media propaganda lainnya, adalah mesin pencipta hegemoni yang ampuh. Jika mau nekat bersikap anakronistik, kita bisa menyatakan bahwa propaganda di Rusia dan Cina Komunis yang berlangsung dari awal abad 20 hingga akhir 80-an itu bisa begitu efektif menyihir orang banyak karena ia didukung oleh aparatus ideologi dan koersi yang digunakan secara masif oleh penguasa tungggal: Partai/Negara.

Bagaimanakah Realisme berperan di dalam proses manipulasi ini? Kiranya kita bisa memahami bahwa prinsip dasar estetika Realisme memang berusaha menempatkan representasi sedekat mungkin dengan realitas. Tentu saja, prinsip keserupaan, verismilitude, sejak awal sudah bermasalah. Kita bisa mempersoalkan seberapa jauh keserupaan dengan dunia nyata itu bisa hadir di bidang kertas atau kanvas dwimatra. Bukankah dalam proses alih rupa “dunia nyata” ke atas bidang gambar—seperti juga dalam hal sastra ketika bahasa membangun dunia—terpampang “dunia baru” yang tak sama dan sebangun dengan rujukan asalnya?

Secara teoritis, Realisme adalah usaha untuk menghadirkan representasi dalam lintasan jarak terpendek dengan apa yang dirujuknya. Dengan demikian, dalam wujudnya yang terburuk, pendekatan ini selalu punya kecenderungan mempersempit ruang tempat imajinasi dan tafsir bebas berkeliaran. Ini tentu saja tidak selalu berarti bahwa Realisme hanya akan melahirkan kesenian yang miskin metafora atau simbolisme yang mengundang imajinasi kita menjelajah pada keluasan makna. Tapi, Realisme yang hadir dalam poster-poster propaganda memang memilih jalan pintas untuk mendesak orang ke suatu sudut, dan kemudian memaksa mereka memandang dunia dari sudut sempit itu.

Maka Realisme, upaya peniruan dan penggambaran dunia senyatanya itu, adalah jalan lurus yang diyakini dan kemudian dipraktekkan di banyak negara totaliter sebagai cara terbaik untuk membawa pesan-pesan propaganda langsung ke benak orang banyak. Dan ini rupanya disadari oleh penguasa dengan watak totaliter di berbagai tempat dan masa. Kini kita bisa merasa geli jika menyaksikan betapa sedikit beda aspek perupaan “Realisme Sosialis” dalam poster-poster Rusia, juga Cina, dengan perupaan poster-poster propaganda buatan negara-negara musuh sejati Komunisme seperti Nazi-Jerman, atau kemudian Sekutu dan Amerika Serikat. Sejauh menyangkut poster-poster propaganda dari masa Perang Dunia II, misalnya, agak sulit membedakan seberapa jauh ideologi berseberangan itu berperan dalam aspek perupaan yang sama-sama realis. Kecuali bahwa kepentingan politik pihak pembuatnya memang berseberangan, dan dengan itu segala teks dan pesan yang tampil memang jadi saling menyerang.

Ditambah dengan intensitas mesin propaganda yang bekerja simultan (di sekolah, di media massa, pada berbagai jenis hiburan, ancaman kerja paksa, pengasingan, atau hukuman mati), Realisme Sosialis, seperti yang hadir dalam poster-poster Rusia dalam pameran ini, juga poster-poster di Cina semasa Revolusi Kebudayaan yang dilihat Anchee Min, adalah sihir yang memukau dan membuat silap pandangan dan sekaligus menghilangkan kesadaran orang banyak atas kenyataan. Inilah paradoks Realisme Sosialis yang dipraktekkan di negeri-negeri Sosialis di pertengahan abad 20 lalu: lebih banyak menghadirkan mimpi utopis ketimbang realitas senyatanya.

Realisme—dan juga realitas—yang telah dimiskinkan itu, beserta mesin propaganda yang mendorongnya, akhirnya kehabisan energi. Daya hidup dan daya pukaunya sirna karena terus-menerus dihamburkan memerangi segala jenis musuh, yang tak habis-habis, selama puluhan tahun. Dibelakangnya, kekuasaan Partai Komunis di Rusia juga melemah menghadapi guncangan perubahan jaman. Sementara di Cina, kebijakan ekonomi-politik yang menghalalkan modal dan kepemilikan pribadi telah mengubah peran Partai dan watak masyarakat.

Sebenarnya pada masa pertengahan abad 20, Realisme-Sosialis ala Rusia atau Cina ini juga tidak berlaku merata dalam praktek seni rupa propaganda di beberapa negeri Komunis lain yang tidak menerapkan garis keras Stalinis. Seni poster propaganda dengan corak ini hanya sempat muncul sebentar di Polandia, misalnya. Tradisi perlambangan dalam seni rupa rakyat Polandia seperti seni kolase kertas berwarna, Wycinanki, masih bisa diterima sebagai bentuk seni rupa yang “pro-Rakyat”. Dengan cara ini sejumlah seniman masih bisa menghasilkan poster-poster propaganda berisi simbolisme yang memikat. Sementara di Kuba, dengan perhatian yang lebih terfokus pada musuh abadinya: “Imperialisme Amerika”, dan juga upaya penegasan garis politik yang non-blok, para senimannya menghasilkan poster-poster propaganda dengan gaya gambar yang lebih bebas.

Kini, kita bisa menyaksikan betapa Realisme-Sosialis, seperti yang dipraktekkan dalam poster-poster propaganda Rusia, dan Cina, yang menghindari berbagai kemungkinan simbolisme, telah menghilangkan daya pukaunya sendiri sebagai karya seni. Kekuatannya ditopang oleh kekuasaan resmi Partai/Negara.

Tapi, ini tidak berarti bahwa Realisme dalam seni rupa telah punah. Paling tidak di Cina masa kini (saya tidak tahu banyak bagaimana sosok karya seni rupa kontemporer di Rusia belakangan ini) Realisme masih tetap hadir. Seni rupa Cina kontemporer justru penuh contoh keberhasilan para perupanya dalam merevitalisasi Realisme. Karya-karya mereka menghadirkan berbagai wujud simbolisme yang dulu diharamkan. Dan dengan cara itu Realisme kembali diperkaya dan diperkuat potensinya sebagai bahasa ungkap kesenian. Karya-karya Wang Guangyi misalnya, menghadirkan berbagi ikon dan sosok yang berserakan dalam poster-poster masa Revolusi Kebudayaan yang ia sandingkan dengan berbagai ikon kapitalisme kontemporer (Visa, Pepsi, Coca Cola, dll) sebagai suatu parodi yang sinis terhadap perkembangan konsumerisme di Cina masa kini. Setara dengan itu, Luo Bersaudara (Weidong, Weiguo, Weibin) menghadirkan kembali gambar-gambar dari kalender Tahun Baru yang populer dan memadukannya dengan berbagai bentuk produk konsumsi masa kini. Banyak karya perupa Cina kontemporer yang menunjukkan kecenderungan ini: meminjam berbagai unsur rupa dari gudang nostalgia “Revolusi Kebudayaan”, untuk diramu dengan kritik, sinisme, parodi, atas kehidupan masyarakat Cina kontemprer.

Tambahan bagi suasana serba ironis itu, karya-karya mereka kini dicari kolektor dan pembeli—mungkin dengan semangat fetisisme dan hasrat kepemilikan yang dulunya sungguh dikecam Marxisme-Komunisme—dengan harga puluhan hingga ratusan ribu dollar AS di jaringan bisnis seni rupa global. Lebih menarik lagi, poster-poster propaganda Rusia dan Cina dari sekian dekade lalu, kini juga bernasib kurang lebih sama: jadi komoditi incaran kolektor dengan harga yang tidak murah.

***
Sihir Realisme memang belum berakhir. Juga di hari-hari ini, saat kita dikepung berbagai tawaran citra kehidupan nyaman dan serba berlimpah dalam arus kapitalisme global. Kita menghadapi propaganda perang jenis yang lain. Kita diingatkan pada berbagai musuh dalam kehidupan sehari-hari: kulit kasar, ketiak basah, ketombe bandel, lemak di perut, penampilan yang tidak cool, dan lain-lain. Untuk semua musuh itu kita bisa mendapatkan senjata pemusnahnya dengan rajin-rajin menyimak informasi dalam media propaganda yang berkilau dan bertebaran disekitar kita. Hebatnya lagi, semua senjata itu bisa kita beli dalam berbagai kemasan dan merek, di sembarang tempat.

Yang kita hadapi kini bukan lagi propaganda yang dimotori Partai/Negara dengan segala kekerasan dan kekakuan aparat ideologi dan koersinya. Propaganda masa kini bergerak halus, cepat, lincah, dengan mesin yang dilumasi modal raksasa, berbingkai senyum ramah, menghibur. Pesan-pesannya tak sekedar berbau slogan serba heroik, tapi membujuk, merayu, menjanjikan harapan yang serba “terjangkau”.

Jadi, kini kita sedang menghadapi sihir Realisme jenis yang lain lagi: Realisme Kapitalis?

Enin Supriyanto
——————————-
Catatan dan Rujukan:

• Pengantar untuk diskusi Pameran Poster Rusia, Galeri Lontar (6 Desember 5005-15 Januari 2006) Teater Utan Kayu, Jakarta, Jumat, 9 Desember 2005.

• Pengantar ini baru diolah dari sebagian kecil bahan yang disipakan untuk makalah yang mengulas Realisme dalam berbagai wujud seni rupa sampai ke praktek seni rupa kontemporer Cina dan Indonesia belakangan ini.

• Untuk poster dari Cina, bahan tulisan dan gambar diperoleh dari: Chinese Propaganda Poster, From The Collection of Michael Wolf, Taschen, Berlin, 2003. Kisah tentang Anchee Min juga dimuat sebagai pengantar buku ini. Buku ini memuat ratusan reproduksi poster propaganda Cina yang disusun mengikuti tema “Buku Kecil Merah” yang berisi kutipan ucapan Ketua Mao, pegangan wajib bagi rakyat negeri komunis itu selama bertahun-tahun, khususnya di masa Revolusi Kebudayaan, 1966-1976. Anchee Min menulis sejumlah buku. Dua judul yang laris dan dapat perhatian luas: Becoming Madame Mao (2000), Wild Ginger (2001). Ia kini tinggal di AS.

• Bahan-bahan perbandingan poster dari masa Nazi, Uni Soviet, Cina, dan Cuba, diperoleh dari International Institute of Social History, Amsterdam yang memuat sebagian data koleksi mereka di internet (www.iisg.nl/exhibitions/chairman/index.html).

• Poster Polandia masa kini: Masters of Polish Poster Art, Buffi, 1995.

• Masa awal Realisme di Perancis serta berbagai konteks perkembangan yang menyertainya diuraikan dalam: Hugh Honour & John Fleming, A World History of Art, 4th Edition, Laurence King, London, 1995.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s