Surat Terbuka Untuk Kerajaan Saudi Arabia


Surat tentang Minah buat Tuan Hakim dan Jaksa

Salam untuk ‘Minah’ yang lain.

Kukatakan kepada hakim, kepada penuntut umum, kepada seluruh sidang yang terhormat itu bahwa adalah benar hukum yang berlaku di negeri Arab menandaskan nyawa dibayar nyawa. Well, Minah memang membunuh, namun secara moral, tindakan Minah bisa diterima akal sehat. karena dia membela harga diri, membela martabatnya. dan itu adalah hak setiap manusia.

Logikanya, Minah tidak akan, sekali lagi saya ulangi, tidak akan membunuh Tuan Farouk jika dia tidak memperkosa Minah. Memang tidak ada saksi. Tapi tuan jaksa dan tuan hakim kan bisa melihat pakaian Minah yang koyak-koyak. Juga tubuh Minah yang penuh luka karena pukulan dan tendangan Tuan Farouk. Bahkan bisa juga dipertimbangkan ceceran darah yang mengalir dari kemaluan Minah. Test laboratorium membuktikan, darah Minah mengucur karena tekanan benda tumpul yang dimasukkan secara paksa. Fakta ini sangat kuat. Di darah Minah ada sperma Tuan Farouk!

Artinya, asumsi jaksa yang mengatakan itu darah mens gugur dengan sendirinya, tapi ternyata hakim mengabaikan argumentasi itu. Minah pun dinyatakan bersalah atas dasar hukum agama. Agama yang mana? Bukankah agama diciptakan untuk melindungi manusia dari perbuatan sesat?

Minah tidak sesat, tuan Hakim. Yang sesat adalah Tuan Farouk.

Namun, kenapa hukum tetap memposisikan Tn. Farouk sebagai pihak yang benar?

Tuan hakim dan Jaksa, sistem hukum bangsa kalian diciptakan pada jaman jahiliyah. Mestinya dalam peradaban yang semakin berkembang, hukum itu hrs ditinjau kembali. haris dikaitkan dg konteks masalah dan motif tindakan pihak-pihak yang terlibat dalam perkara. Bukan ditelan mentah2.

Tuan Jaksa dan tuan hakim yang mulia, tentu Minahlah akhirnya dijadikan korban. Sebab dia lemah dari sisi manapun; ya politik, ya ekonomi, ya budaya. Minah datang dari negeri miskin, dan orang semacam dia selalu diposisikan sebagai orang lain alias sang anonim.

Posisi orang lain dan anonim itu membikin ia lemah di depan hukum Arab, yang didukung oleh sebuah bangsa yang merasa paling beradab! Artinya, Minah layak dihukum berat, layak dipancung karena telah terbukti membunuh Tn. Farouk, seorang warga istimewa yg dilindungi hukum istimewa. Di mata kalian, Minah sama rendahnya dengan para pendatang dari Afganistan, Pakistan, Bangladesh, Yaman dan negara-negara dunia ketiga lainnya. Atas nama kesombongan, kalian menganggap orang-orang semacam Minah darahnya halal.

Tuan jaksa dan tuan hakim yang mulia, dan semoga Allah masih memuliakan kalian.

Apakah hukum yang keras dan telak itu akan kalian terapkan pada orang-orang asing lainnya, yang kalian anggap LEBIH UNGGUL secara ras, budaya, ekonomi, da politik? Sebut saja misalnya warga Iran, Turki dan Amerika yang kalian takuti itu? Apakah kalian berani memancung kepala orang Iran, Turki dan Amerika yang terbukti membunuh, misalnya.

Tuan-tuan Jaksa dan Hakim yang mulia, kalian bisa menepuk dada karena berhasil memancung Minah. Bagi kalian, Minah ini tak lebih dari nyamuk yang langsung mati sekali tepuk. Akan tetapi, lihatlah! Dunia tertawa mengejek peradaban kalian. Dengarlah kecaman dan sumpah serapah dari berbagai penjuru, lantas kenapa kalian tak tahu malu?

Tuan-tuan Jaksa dan Hakim yang mulia, Minah akhirnya memang mati di tangan algojo. Sia-sia-kah kematian Minah? Tidak! Bagi kami, Minah tidak mati, tapi gugur. Ya, dia gugur seperti para pahlawan kami yang gigih mempertahankan harga diri, martabat dan kemerdekaan sebagai manusia.

Camkan itu!

Naskah anti Diskriminasi dari puisi Esai Denny JA.

oleh Isti Nugroho & Denny JA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s