Innocence of Muslims; Penistaan Agama?


SEBUAH film berjudul Innocence of Muslims mengobarkan gelombang protes di negara-negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Dikatakan bahwa film tersebut menggambarkan sosok Nabi Muhammad, yang sangat dimuliakan oleh umat Islam, adalah lelaki yang doyan berzina, homoseks, pedofilia, barbar, serta pembunuh perempuan dan anak-anak. Sungguh sebuah ilustrasi yang sangat jauh dari sosok sang Nabi dan ajaran yang ia bawa.

Akan tetapi di sisi lain, sering kali tanpa disadari banyaknya media muslim melakukan “pelecehan” terhadap yang disembah atau dianggap sakral oleh orang non-muslim. Alih-alih menganggap suatu bentuk penghinaan atau pelecehan, malah sering kali mereka dengan bangga menganggap itu sebagai bagian dari dakwah atau penyebaran kebenaran. Lihat saja situs-situs beraroma kelompok gerakan islamis seperti VOA-ISLAM, Arrahmah, eramuslim, Hidayatullah, dll. Termasuk majalah seperti SABILI, al-Waie (milik HTI), As-Sunnah, dan lain sebagainya.

Pernah nggak sih kita temukan tulisan-tulisan yang menyatakan bahwa Yesusnya orang Kristen itu adalah Judas Iskariot sang pengkhianat? Semisal argumen yang mengatakan bahwa dalam ajaran Islam, Isa putra Maryam tidak mati di tiang salib, melainkan diangkat ke langit oleh Tuhan. Kemudian Tuhan mengubah wajah orang lain menyerupai Isa sehingga yang ditangkap dan mati di tiang salib bukanlah Isa putra Maryam. Pernah nggak kita menjumpai argumen seperti ini? Kita mengatakannya dengan gamblang di muka publik dan bukan konsumsi pribadi di dalam internal muslim yang memang berbeda pemahamannya dengan Kristen. Apakah ini bukan bentuk pelecehan terhadap doktrin agama lain yang meyakini sosok sentral dalam peristiwa penyaliban tersebut adalah Isa/Yesus putra Maryam yang sesungguhnya?

Pernah nggak sih kita membaca argumen bahwa Yahudi itu agama rasis dan barbar karena dalam kitab mereka selain Taurat, yakni Talmud, mengajarkan pada orang Yahudi untuk membunuh penganut agama lain. Banyak orang Islam yang mengulang terus argumen tersebut karena kadung meyakini bahwa ajaran agama Yahudi sendiri mengajarkan untuk membunuh. Apakah itu bukan berarti kita sedang menghujat dan menghina Yahudi? Demikian pula argumen dari kalangan muslim yang menghina keyakinan dewa-dewi orang Hindu dan Budha, belum lagi yang menghancurkan patung-patung suci mereka. Atau penghinaan kepada orang Hindu karena mensucikan sapi, seperti misalnya yang terjadi dalam ritual arak-arakan seekor sapi bernama Kyai Slamet di daerah Solo. Banyak orang muslim yang menghina upacara itu sebagai infiltrasi, sinkretisasi, atau pencampuradukan ajaran agama dalam Islam oleh anasir-anasir hindu, pagan, dan sebagainya.

Dulu pernah ada novel Salman Rushdie berjudul Ayat-Ayat Setan, kurang lebih isinya menceritakan tokoh Mahound sebagai sosok yang menerima wahyu dari Tuhan. Kemudian setiap wahyu yang diterimanya dicatat oleh sekretarisnya. Tapi sekretarisnya merasa dilecehkan karena ia sudah berjuang matian-matian dalam membela dan melindungi Mahound dari serangan musuh yang tidak mempercayainya. Akhirnya timbul kebencian pada sekretarisnya, sehingga ia mengubah sebagian isi dari wahyu tersebut tanpa sepengetahuan Mahound. Dan ketika dibacakan kembali ayat tersebut dihadapan Mahound, Mahound terkejut. Kenapa bunyi dan maknanya sudah berbeda? Maka saat itulah sekretarisnya menuduh bahwa itu bukanlah wahyu dari Tuhan. Tapi adalah ayat-ayat dari setan.

Penulis novel tersebut kemudian difatwa murtad sekaligus hukuman mati oleh Ayatullah Khomeini dan sejumlah ulama di Timur Tengah. Bahkan Khomeini akan memberi hadiah senilai USD 3 juta bagi siapa yang berhasil memancung kepala Rusdhie. Hubungan diplomatik Inggris dan Iran pun langsung diputus gara-gara kontroversi tersebut. Kalau tidak salah dulu sempat di Indonesia pernah diterbitkan terjemahannya, tetapi kemudian terjadi penarikan novel tersebut dari peredaran serta aksi bakar novel massal di seluruh dunia. Apa yang sekarang terjadi seolah seperti terulangnya sejarah. Jika kita melacak dalam sejarah ke belakang, seorang Ibnu Rusyd (Averoes) adalah lambang sejarah buram Islam dalam tradisi Filsafat, ia dibungkam ke dalam penjara dan ratusan bukunya dibakar oleh pemeriatah yang berkuasa saat itu, meskipun sekian Abad kemudian karyanya justru memantik api pencerahan di Barat.

Ibnu Mansyur al Hallaj, adalah sosok sufi legendaris yang mengilhami tradisi sufi Islam dunia hingga saat ini, digantung hingga dicincang mayatnya oleh para ulama syariat di zamannya karena dituduh menghina ajaran Islam atau ortodoksi yang telah mapan. Begitu juga dengan Shurawardi, Ain al Qudhat dan masih banyak lagi, yang di Indonesia terjadi pada Syekh Siti Jennar. Hal yang sama juga terjadi pada sejumlah tokoh pembaruan Islam di abad modern, difatwa murtad dan diusir dari negara tempat mereka berdomisili atau kampung halamannya, seperti Mahmud Taha, Fazlur Rahman, al-Faruqi, Nashr Hamid Abu Zayd, Faraq Fouda, dan masih banyak lagi.

Sebenarnya bukan cuma sosok Muhammad saja yang jadi sasaran “penghinaan”, begitu juga sosok Yesus, Musa dan sejumlah Nabi dalam sejarah agama semit. Agama-agama seperti Budha atau Hindu (jika memang mereka bisa dikategorikan sebagai agama) juga sering kena imbasnya. Sebagian menganggap hal tersebut adalah kebebasan berbicara, berekspresi, dan berpendapat, sebagian lagi menilai sebagai penghinaan, dan apa yang terjadi sekarang adalah seolah semuanya saling berbenturan.

Mungkin di setiap agama sejarah panjang perang terhadap para pencetus blasphemy pernah terjadi dan akan selalu ada, tak terkecuali dalam Islam. Terkadang siapa yang berhak menjustifikasi seseorang atau kelompok sebagai penista dan penghina agama itu menjadi tidak jelas. Semua orang bisa bilang, “Dalam Islam khususnya Sunni tidak ada struktur hirearki otoritas seperti dalam Katholik Roma atau Syi’ah, tetapi berdasarkan konsensus jama’ah.” namun di sisi lain ketika muncul cap “penistaan agama” dan statement-statement yang dikeluarkan kelompok atau individu tertentu, dengan mudah tereskalasi dan merebak di kalangan umat.

Jika ditanya, “Apakah Anda sudah baca novel Ayat-Ayat Setan atau film Innocence of Muslims?” mungkin banyak yang jawab, “Belum.”, “tidak tertarik atau lebih baik tidak membaca/menontonnya.”, yang penting ketika sudah ada statement atau fatwa dari ulama tertentu atau mayoritas umat Islam, maka kebanyakan orang akan ikut-ikutan mengamini, entah sebagai bentuk solidaritas atau mengambil momentum kepentingan politis, misalkan aji mumpung umat Islam sedang berkobar semangat persatuannya, maka sudah saatnya mencetuskan revolusi dan kebangkitan khilafah dunia dan gagasan lainnya.

Ketika Da Vinci Code hadir ke permukaan, umat Kristen di seluruh dunia berang karena hal tersebut. Anehnya, ketika sikap dan kecaman yang ditujukan kepada novel tersebut dan pengarangnya tidak menimbulkan pengeboman seperti yang terjadi dalam kasus Innocence of muslims atas kematian Dubes USA, malah ada sebagian muslim yang berpendapat bahwa keimanan orang Kristen patut dipertanyakan. Bahkan mereka beranggapan kemarahan orang Kristen seharusnya lebih reaksioner dan militan daripada kalangan muslim tatkala menghadapi aksi penistaan, penghinaan, penodaan ajaran agama.

Ada yang berpendapat begini; “Obama sebagai Presiden Amerika saja akan melakukan apapun untuk melindungi warganya di belahan dunia manapun, apakah umat Islam tidak boleh marah jika saudara seiman di belahan dunia lain dilecehkan, apalagi dalam kasus Innocence of Muslims yang dilecehkan adalah sosok Nabi itu sendiri.” Dalam artian lain, “Sah-sah saja umat Islam mengadvokasi dengan turun ke jalan dan bersikap reaksioner demi kepentingan membela agama.” akan tetapi menurut saya hal seperti ini tidak akan pernah berhenti, sampai kapan pun akan selalu ada orang-orang yang berusaha mendekonstruksi kredo-kredo, doktrin-doktrin, dan hal-hal sakral dari institusi yang bernama agama. Mereka anti yang namanya simbol dan lembaga ontologis berbentuk otoritas keagamaan. Mereka anti kemapanan ortodoksi dan ortopraksis, apakah mereka nantinya dianggap telah “menghina agama”, mereka pun tidak akan perduli. Sebaliknya di lain pihak, juga akan selalu ada grup, kelompok, dan pengikut setia yang siap untuk mempermasalahkan mereka dan berusaha memberangus mereka, tak hanya di meja-meja makan tiap rumah, mimbar-mimbar ceramah rumah-rumah pemujaan, kalau perlu sampai turun ke jalan pun akan dilakukan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s