Kewajaran Isu SARA dan Harapan untuk Jokowi-Ahok


Tim sukses Foke-Nara kerap dianggap sebagai biang kampanye yang menggunakan isu SARA. Bagi saya hal tersebut adalah suatu kewajaran mengingat kondisi sosial masyarakat Indonesia tidak dapat dilepaskan dari identitas primordial mereka. Khususnya mengenai isu agama, sesungguhnya tak jauh berbeda dengan isu rasionalitas yang dikumandangkan kubu Jokowi. Dalam acara debat kandidat di Metro TV, Foke berkoar bahwa para ulama sepuh telah turun gunung, sebelumnya dalam acara Damai Indonesia di TV One yang menghadirkan Foke, dipenuhi oleh tampang kaum agamawan seolah mereka mendukung pasangan nomor 1 satu dalam putaran ke dua.

Di kubu Jokowi berulang kali tim suksesnya dari yang ecek-ecek sampai kalangan anggota DPR RI seperti Maruarar Sirait atau Dyah “Oneng” Pitaloka mengumandangkan paradigma rasional yang semestinya digunakan warga Jakarta dalam menentukan pilihan dan menegasikan agama atau etnis tertentu. Mereka berusaha melepaskan antara politik dan agama, antara primordial dengan rasional, antara privat dengan publik sebagaimana biasa ditemukan dalam praktik-praktik sekularisasi. Maka dari itu, sekali lagi bagi saya isu SARA sebagai sebuah strategi politik adalah suatu kewajaran. Di sinilah timbulnya harapan besar saya kepada Jokowi.

Harapan itu adalah agar membuka mata masyarakat akan sekularisme. Selama ini sekularisme sudah dicap (condemned) sebagai musuh agama (baca: Islam), melalui fatwa yang muncul di tahun 2005 tentang haramnya sekularisme. Kalangan agamawan (mungkin termasuk ulama yang turun gunung di kubu Foke) telah lebih dulu membangun benteng di tengah masyarakat melalui fatwa-fatwa yang dikeluarkan, sementara masyarakat terus dijejali atau disuapi terus oleh mereka mengenai apa yang diklaim oleh mereka sebagai benar dan salah. Namun, dengan terpilihnya Jokowi nanti akan ada babak baru yang bisa memukul benteng itu dari dalam masyarakat itu sendiri. Artinya adalah masyarakat tak bisa lagi terus dicekoki, sebaliknya masyarakat bisa memilih dengan paradigma baru bahwa urusan agama tak harus dicampuraduk dengan urusan politik.

Di sisi lain yang menjadi batu sandungan sekularisasi adalah isu film innocence of muslim yang dibilang menghina Nabi Muhammad dan umat Islam. Isu ini bisa digunakan untuk kembali mengangkat persoalan agama di tengah publik. Akan tetapi, andaikan di Pilgub DKI nanti Jokowi-Ahok berhasil dengan isu rasionalitasnya dan keluar sebagai pemenang, maka isu agama tidak akan terlalu signifikan di Jakarta ini. Palingan cuma laku di kalangan aktivis HTI, MMI, FPI, dkk. Inilah pertaruhan serta perjuangan bagi kelompok yang pro-sekularisme seperti saya yang sangat jujur tanpa abu-abu mendukungnya; apakah akan semakin tergusur oleh mainstream ulama yang anti liberalisme, pluralisme, dan sekularisme agama sebagaimana dalam fatwa MUI 2005, atau apakah justru akan berhasil meletakkan pondasi kokoh sekularisasi di tengah masyarakat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s