Between Cross and Crescent


13471109082083393979

Wacana penggantian logo Palang Merah Indonesia dari bentuk palang atau salib kepada bulan sabit bukanlah hal yang aneh. Semenjak geliat kebangkitan Islam saat Revolusi Iran, Lahirnya gerakan Hizbut Tahrir Internasional, Pan Islamisme, dan sejumlah gerakan lain sampai saat ini. Umat Islam mulai kembali menyuarakan cita-cita konsep idealistik kesatuan umat dan ketidakterpisahannya antara agama dan negara. Tak terkecuali di Indonesia, hal tersebut sudah lama didengungkan. Dalam bukunya, Islamism in Indonesia: Politics in the Emerging Democracy, Bernhard Platzdasch telah mengurai dan merunut geneologi mengenai lahirnya gerakan yang dia sebut sebagai The Muslim Nation Dogma Movement. Sementara di sisi lain, gerakan ini mengalami kegagalan walaupun era represif seperti Orde Baru telah berakhir. Akan tetapi, yang menarik adalah agenda islamisasi atau syariah-isasi itu tetap tertinggal di kalangan muslim Indonesia, dan kemudian terus berlanjut serta beralih dalam politik identitas. “…the call for shari’ah often works as a symbol for restoring a presumably muslim national character against a global environtment typecast as anti-Islam. The significant of shari’ah lies above all in its power as a symbol for this quest…”

Seorang Keith A. Roberts berpendapat dalam bukunya Religion in Sociological Perspective berpendapat bahwa sekularisasi merupakan konsekuensi yang harus diterima oleh agama di era modern sebagai dampak globalisasi, utamanya adalah tuntutan differensiasi institusional, yaitu otonomisasi berbagai macam institusi sosial-politik dari dominasi agama. Oleh karena itu, walaupun semisal memang benar dalam sejarahnya simbol palang mengadopsi simbol kekristenan, tetapi apabila melihat fenomena simbol Palang Merah sulit rasanya di masa sekarang untuk mengaitkan dengan simbol kekristenan, apalagi kristenisasi. Maknanya sudah dipisahkan dengan konotasi keagamaan. Sama saja seperti tanda plus atau tambah dalam matematika. Di Timur Tengah pun, sekolah-sekolah yang mencantumkan kurikulum matematika tetap menggunakan simbol palang sebagai tanda plus dan tanda perkalian (tanda perkalian juga palang namun posisinya miring).

Lalu mengapa ada wacana penggantian simbol palang atau salib dengan bulan sabit merah? Ada yang beralasan bahwa negara-negara di Timur Tengah yang mayoritas penduduknya beragama Islam, juga mengenakan simbol bulan sabit pada armada medis di negara-negara mereka. Akan tetapi, kalau kita membaca buku Marshall Hodgson, The Venture of Islam, simbol bulan sabit memang akrab bagi orang-orang Timur Tengah, mengingat terkenalnya julukan “daerah bulan sabit subur” di jazirah Arabia. Kemudian sistem penanggalan bulan juga akrab bagi orang Arab baik pra-Islam atau sesudah hadirnya Islam. Di lain sisi, ketika saya membaca sebuah buku kontroversial yang sudah diterjemahkan mengenai makam keluarga Yesus, ada penjelasan bahwa simbol palang sudah digunakan sebelum era Yesus dan juga kekristenan.

Lantas mengapa muncul wacana penggantian logo palang merah Indonesia? Hal itu karena adanya politik identitas yang sedang dilancarkan oleh kelompok-kelompok tertentu. Memang belakangan isu-isu keagamaan vis-a-vis sekuler semakin sering digelontorkan. Tatkala jalan radikalisasi mengalami hambatan, maka upaya gerakan politik Islam dalam menghalau sekularisasi adalah reislamisasi. Menurut Greg Fealy dalam tulisannya, “Consuming Islam: Commodified Religion and Aspirational Pietism in Contemporary Indonesia,” dalam buku Expressing Islam: Religious Life and Politics in Indonesia, reislamisasi ditandai dengan komersialisasi ritual, atribut, atau simbol agama. Semisal di Indonesia, menjamurnya bank-bank, dan asuransi berlabel shari‘ah, merupakan bentuk konsumsi dan komodifikasi Islam. Fenomena tersebut sekilas nampak hanya sebagai langkah bank-bank konvensional dalam mengikuti tren, sekaligus sebagai pilihan alternatif bagi masyarakat. Namun tanpa disadari, masyarakat ibarat tester merangkap konsumen yang sedang berada di sebuah supermarket spiritual, tempat para produsen menaruh produk-produk mereka yang menggunakan slogan dan embel-embel agama. Adapun dalam pandangan Graham Fuller (The Future of Political Islam), reislamisasi yang dimaksud adalah sikap kelompok-kelompok keagamaan menciptakan ruang privat sebagai institusi sosial, di mana aktivitas mereka terbebas dari kontrol negara dan instrumennya. Pengaruh negara benar-benar dieliminisir dari ruang keagamaan (Religious Sphere) tersebut, bahkan mereka memisahkan diri dari ruang publik masyarakat sipil lainnya yang mana menurut mereka telah dikontrol, dan diawasi secara ketat oleh negara yang menganut sistem sekuler. Maka tidak mengherankan apabila selain bank konvensional muncul bank syari’ah, selain Palang Merah Indonesia muncul Bulan Sabit Merah Indonesia (simbol bulan sabit juga digunakan oleh organisasi Mer-C Indonesia).

Apakah Bulan Sabit Merah Indonesia adalah PMI ala Syari’ah?

Opini publik telah menganggap bahwa bulan sabit sebagai simbol Islam. Ia kerapkali dipertentangkan dengan lambang salib dalam Perang Salib. Bagi kaum Muslimin menghancurkan salib merupakan aksi simbolis untuk menunjukkan kekalahan Kristen dan kemenangan Islam. Tampak bahwa simbol bulan sabit, sebagaimana juga produk budaya lainnya, dalam pemaknaannya di kemudian hari mengalami penyempitan. Saat ini, mindset publik, baik kalangan Muslim maupun non-Muslim, menilai bahwa bulan sabit merupakan wujud Islam dalam persimbolan. Maka wajar saja di Indonesia ada “teriakan” agar bulan sabit dipergunakan sebagai lambang pengganti salib merah, sehingga pada 8 Juni 2002 di Jakarta dideklarasikan Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI) yang diketuai dr. Basuki Supartono. Akan tetapi, Ada baiknya kita membaca sejarah mengenai dua lambang organisasi bantuan medis dan kemanusiaan ini di dunia internasional, baru kemudian kita tarik ke dalam konteks keindonesiaan.

Intinya, simbol bulan sabit bukanlah monopoli Islam dan simbol salib juga bukan monopoli Kristen. Menariknya lagi dalam sejarahnya, simbol salib merah juga pernah dipermasalahkan oleh komunitas kekristenan karena dianggap menyerupai lambang Knight Templar, yakni salib dengan panjang silang yang sama (Salib Pattee) yang bagi dunia Kristen sering dikategorikan ke dalam kubu para pembelot, heretik, dan semacamnya. Jadi, masihkah kita mengangkat dan membesar-besarkan isu ini?

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s