Mari Mengapresiasi Teroris


Ketika ada kelompok-kelompok yang mempertontonkan kekerasan di jalanan di muka publik, justru di Indonesia banyak orang yang mengapresiasi mereka. Contohya FPI-FUI, justru bagi sebagian orang tindakan mereka dianggap perlu serta dibutuhkan ketika kemaksiatan dinilai makin bertebaran di masyarakat dan terang-terangan.

Nah, sekarang ini paling tidak mari kita coba dan ikuti logika atau sikap apresiasi terhadap pelaku kekerasan, daripada sibuk kampanye anti kekerasan yang seringkali diplesetkan dan mendapat cibiran. Apa sih yang bisa kita apresiasi dari pelaku teror ini?

Pertama, mungkin semakin membuat waspada pemerintah Indonesia terhadap tindakan terorisme, sekaligus meningkatkan bantuan asing kepada pemerintah dalam hal kerjasama pemberantasan terorisme di kawasan Asia Tenggara.

Kedua, berhasilnya Densus 88 mencegah aksi teror akan semakin dilirik negara-negara asing termasuk Amerika. Pasti jadi anak kesayangan banget.

Ketiga, bagi kelompok yang kontra Densus 88, atau bagi yang pro pelaku teror, pasti tambah semangat untuk memperjuangkan ide-ide dan gagasan mereka melalui tindakan nyata. Siapa lagi yang mau melawan grup Amerika CS yang doyan menjajah secara sosial, politik, dan ekonomi selain mereka.

Keempat, bayangan akan kekuatan armada pengasong khilafah akan tergambar di benak orang-orang pengagum gagasan khilafah global ini, bahwa di Indonesia laskar-laskar militan semakin menjamur dan siap jika sewaktu-waktu benar terjadi perang.

Kelima, dengan kejadian teror seperti ini pastinya takkan menyurutkan ghirah atau semangat untuk berjihad. Alih-alih redup padam, bagi kelompok-kelompok tertentu yang namanya teriakan ‘isy kariiman aw mut syahiidan (Hidup Mulia atau Mati Syahid) tidak akan mati.

Terus apalagi ya yang dapat kita apresiasi dari jamaknya aksi teror di Indonesia?

Keenam, menambah referensi untuk data statistik tentang kawasan mana yang memang masyarakatnya ngefans sama pelaku teror, misalnya seperti pelaku bom bunuh diri beberapa waktu lalu yang dielu-elukan ketika dimakamkan dengan teriakan takbir.

Ketujuh, Elit politik dan Masyarakat akan semakin aware dan mencari tahu tentang terorisme walaupun reaksinya berbeda. Misalnya, bagi elit politik kadang teror bisa digunakan sebagai strategi untuk kepentingan-kepentingan tertentu. Adapun bagi warga sipil mungkin berguna untuk saling mengawasi satu sama lain ketimbang mengedepankan individualistik dalam bermasyarakat.

Selebihnya mungkin bisa diisi sendiri, tetapi intinya ya beginilah Indonesia yang (katanya) bangsa ramah.

ps. emangnya yang ramah ga bisa marah ya? hmm… meneketehe.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s