Membantu Korban Sampang Tanpa Embel-Embel Golongan?


Kisah diculik dan dibunuhnya Imam Ali Ra, keponakan sekaligus menantu Nabi Saw, tidak akan pernah hilang dalam benak umat Islam–walaupun makamnya tidak pernah ditemukan. Dipenggalnya kepala Sayyid Hussain, cucu tersayangnya Nabi Saw, selalu dijadikan sebagai “simbol” musibah terbesar dalam sejarah Islam. Meninggalnya Imam Syafi’i, ulama besar Islam, akibat dikeroyok ramai-ramai oleh penggemar Mazhab Hambali, masih tertulis jelas dalam buku sejarah. Diculik dan dibunuhnya Syaikh Muhammad Husain Adz-Dzahabi, ulama agung Al-Azhar Mesir, oleh gerombolan Jamaah Takfir wal Hijrah, apakah pertanda bahwa ada sekelompok umat Islam yang hobinya membunuh siapapun yang beda pendapat dengannya. Kalau kita belum puas dengan kisah-kisah keji dan mengerikan itu, kafirkanlah dan bunuhlah orang yang beda pendapat dengan kita, siapapun mereka–apakah Syiah atau Ahmadiyah.

Sangat mudah kita memberikan segalanya tatkala terdengar tragedi melanda Palestina, Afghanistan, Irak, Suriah, Rohingya, dan lainnya. Mengapa ketika kita sering memperjuangkan hak-hak asasi manusia, keadilan, kesejahteraan, dan kemerdekaan bangsa-bangsa lain, tetapi justru di negeri kita sendiri muncul tragedi tiada henti. Sejauh manakah kita bisa konsisten memperjuangkan semua itu jika ternyata kita nggak berhenti melihat perbedaan yang ada? Sudahkah kita benar-benar saling membantu jika ternyata perbedaan itu terus kita jadikan alasan untuk saling membantai sesama manusia?

Ada orang-orang yang terus berkoar tentang sesatnya Syi’ah dengan alasan membentengi akidah dan memperjuangkan kebenaran. Lantas beranikah mereka menjilat ludah mereka sendiri ketika korban jatuh nggak jauh dari tempat tinggal mereka? Apakah kita menghindar dengan terus berkata bahwa ini bukan konflik aliran agama melainkan motif ekonomi, persoalan keluarga, dan sebagainya? Sedangkan di sisi lain banyak orang berdalih jika tragedi di Sampang bukanlah pertikaian antara Sunni-Syi’ah sebagaimana yang terjadi di Timur Tengah dan sebagaimana yang sering dibeberkan dalam kajian-kajian sejarah Islam. Mungkin pula banyak yang sepakat bahwa konflik tersebut bukan murni karena faktor internal umat Islam, tetapi mengapa masih ada orang-orang yang terus mengobarkan bara api mengenai sesatnya orang-orang Indonesia penganut Syi’ah di Sampang sana? Apakah karena alasan “mereka sesat”, maka begitu saja patut untuk dibasmi? Jika memang sumber konflik bukanlah pertikaian Sunni-Syi’ah, lantas mengapa harus membawa soal Sunni-Syi’ah?

Semua orang ramai berdalil, berseliweran di televisi dan mengangkat tema yang itu-itu saja. Sesat, sesat, sesat, that’s it. Apakah orang Indonesia doyannya nggak jauh dari urusan saling klaim kebenaran dan menjustifikasi siapa yang sesat, bidah, murtad, kafir, dan seterusnya? Padahal bisa saja awalnya memang konflik yang terjadi di Sampang bukan dikarenakan siapa Sunni dan siapa Syi’ah. Akan tetapi dikarenakan ada orang-orang yang terus menggunakan dalil-dalil sesatnya Syi’ah sebagai alat legitimasi, maka dihembuskanlah isu Sunni-Syi’ah sampai akhirnya berujung pada tindakan nyata yakni bentrok, pembakaran rumah, atau mungkin bunuh-bunuhan. Seolah itu semua lumrah-lumrah saja terjadi di Indonesia sedangkan ketika tragedi serupa terjadi di negara lain, kita akan berapi penuh amarah mengecam, mengutuk, menyiapkan bantuan sepenuh jiwa raga dan harta benda.

Sekarang semua sudah terlanjur kejadian, korban sudah jatuh, harta benda ludes sudah, orang-orang mencari tempat pengungsian yang aman. Sudikah kiranya kita menyisihkan bantuan dan sumbangan yang biasanya kita gelontorkan jor-joran untuk mereka para korban yang ada di luar negeri, dan membaginya untuk saudara sebangsa meskipun mereka berbeda? Sudikah kiranya jika mayoritas negeri ini yang katanya muslim Sunni berbagi bantuan dan pertolongan kepada mereka yang Syi’ah?

Mungkin yang lebih sederhana setelah semua kejadian ini melanda mereka, sudikah kita membantu mereka karena mereka juga manusia?

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s