Tag

, , , , , ,


Saya tertawa lepas begitu dikirimi “kicauan” oleh kawan anonim di twitter tentang ucapan ketua MUI yang bisa diakses di link ini.

“Saya rasa itu bukan termasuk kam­panye berbau SARA. Kalau us­tadz atau pendakwah lainnya me­nga­jak war­ganya memilih pemim­pin seaga­ma yang lebih baik, ya tidak salah toh. Milih istri saja harus dilihat agama­nya, apalagi pemimpin,” begitu katanya.

Milih istri kok disamakan dengan memilih pemimpin. Nanti kalau rakyat pengin nidurin pemimpinnya bagaimana? Mungkin yang mendasari ucapan pak Ma’ruf Amin adalah doktrin, dogma, dan ajaran agama. Akan tetapi, bukankah semua warga negara Indonesia menurut UUD 45 mempunyai hak untuk memilih dan dipilih apapun latar belakang etnis, suku, dan agamanya. Atau justru malah sudah berubah konstitusi negeri ini? entahlah, saya sendiri tidak hafal UUD 45.

Saya sih cuma berandai saja misalnya non-muslim memimpin Indonesia apa bisa perang saudara sebangsa? Perhatikan saja seputar pilgub DKI ini, padahal yang non-muslim cuma cawagubnya saja hebohnya bukan main. Bagaimana kalau jadi capres? Mungkin bisa dar-der-dor-an. Kalau dibilang tirani mayoritas belum tentu juga, sebab di negara maju seperti USA pun masyarakatnya juga masih ada yang berpandangan bahwa kaum minoritas tak layak mendapuk kursi kepresidenan meski di abad ini ada seorang Obama yang jadi presiden. Akan tetapi mau bagaimana lagi, mungkin fenomena begini bisa kita katakan wajar atau tidak sama sekali. Apa yang sekarang terjadi di Indonesia, maka itulah Indonesia.

ps. sekarang link di atas seperti tidak bisa dibuka, padahal kemarin RMOL masih gampang diakses. Link mengenai berita tersebut bisa juga diakses pada situs beritasatu.com

Iklan