Adakah Standar Baku Shalat?


Semalam seorang pendakwah Wahabi berceramah di depan mimbar. Ciri khas seorang Wahabi kalau ceramah, baik itu khutbah hari ‘Ied, khutbah nikah, khutbah Jum’atan, dan jenis ceramah lainnya, selalu membacakan hadis Nabi di awal mula yang berbunyi kullu bid’atin dholalah wa kullu dholalatin fi al-naar (Setiap bid’ah itu sesat dan setiap kesesatan tempatnya di neraka). Di dalam khutbah sebelum shalat tarawih itu, sang pendakwah ngomel-ngomel yang diawali sebuah pertanyaan sebagai rumusan masalah, “Apakah tidak ada standar baku dari Nabi mengenai tata cara shalat?”

Pasalnya dia sudah terlalu sering melihat praktik shalat di masyarakat yang berbeda-beda dan dinilainya telah menyalahi sunnah rasulullah dan tata cara shalat yang benar menurut Islam. Biasalah kerjaan orang Wahabi itu sukanya main klaim kebenaran. Makanya mereka amat bocor kalau soal menghardik sesama muslim lainnya sebagai sesat, bid’ah, kafir, dan sebagainya. Anehnya dan terus saya tanyakan, “kenapa yang begitu itu selalu laku di Indonesia.” kayaknya orang Indonesia memang demen banget menjadi yang paling benar dan memandang orang lain adalah salah. Buktinya adalah pendakwah-pendakwah seperti itu selalu laku diundang. Jadwalnya penuh. Seperti misalnya si pendakwah yang semalam berkhutbah di masjid dekat rumah saya, dia diundang oleh seorang tokoh wahabi di lingkungan perumahan saya, yaitu ayah saya sendiri. Dari perbincangan ayah saya dengan si pendakwah itu, jadwalnya selama bulan Ramadhan mirip jadwal konser-konser musik religi yang tidak pernah bolong.

Kembali kepada isi daripada dakwahnya yang memprotes dengan sebuah pertanyaan utama sebagaimana saya sebutkan di atas, kok saya jadi teringat ceramahnya Quraish Shihab di acara Metro TV yaitu Tafsir al-Mishbah. Sekilas tentang Quraish Shihab di mata orang-orang Wahabi, kepakarannya dalam ilmu tafsir justru sama sekali tidak diakui. Mengapa? Karena Quraish Shihab digambarkan seolah kesannya ulama yang gagal. Boleh jadi dia punya karya banyak, namun tidak bisa membuat putrinya mengenakan jilbab. Akan tetapi, untuk menjawab pertanyaan si pendakwah Wahabi itu, justru saya memakai penjelasan Quraish Shihab tentang perbedaan antara “Melihat” dan “Mendengar”.

Yang namanya “Melihat” selalu beragam sementara “Mendengar” selalu seragam. Misalnya, kalau ada seseorang bernama Muhammad mengatakan kepada orang-orang, “Shalluu Kamaa Ra’aitumuunii Ushalli.” atau “Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihatku shalat.”, maka para pendengar akan mendengar kata yang sama. Tetapi bunyi perkataan Nabi menggunakan kata Ra’aa-Yaraa (رأى-يرى) yang artinya melihat. Namanya penglihatan pasti selalu menghasilkan keragaman perspektif. Muhammad yang berdiri di depan sedang memimpin shalat, pasti akan dimaknai beragam oleh orang-orang yang melihatnya dari belakang dengan berbagai macam sudut.

Boleh saja pandangan ini dibantah dengan mengatakan bahwa urusan shalat bukan cuma satu hadis Shalluu Kamaa Ra’aitumuunii Ushallii saja. Ada berbagai macam dalil teks terutama berasal dari hadis yang mengatakan bagaimana cara takbir, bersedekap, ruku’, sujud, bahkan bagi orang Wahabi yang namanya mengangkat telunjuk ketika duduk pada tasyahud awal dan akhir tidak cukup hanya mengacungkan telunjuk, tetapi harus digerak-gerakkan.

Nah, sekarang marilah kita lihat realitas umat Islam di seluruh dunia. Apakah orang-orang Wahabi itu tidak memperhatikan setiap bulan haji di mana seluruh muslim di bumi ini melaksanakan ibadah haji. Lihat saja di depan Ka’bah itu, mereka-mereka yang shalat apakah seragam semua? Apakah semua umat Islam yang melaksanakan haji itu pada menggerakkan jari ketika duduk tasyahud, atau apakah mereka semua pada bersedekap setelah takbir? Justru yang terlihat adalah keanekaragaman dan kebhinekaan yang tidak perlu diseragamkan, apalagi dicap bid’ah, sesat, dan lainnya.

Tidak cuma di Masjidil Haram saja. Demikian pula di Masjid al-Azhar Kairo, keragaman ketika shalat juga bisa dilihat sangat jelas sekali. Dalam hal rukun-rukun shalat seperti berdiri, ruku’, sujud, duduk di antara dua sujud, tasyahud awal dan akhir serta jumlah raka’atnya pasti seragam, tetapi di sana tidak ada yang mempermasalahkan apakah tangan anda ketika takbir diangkat sebatas bahu atau telinga, waktu bersedekap apakah harus melipat tangan di antara dada dan perut, atau hanya menjulurkan tangan di samping badan. Tidak juga ada yang meributkan apakah anda mengangkat takbir setelah I’tidal atau tidak, menggerakkan jari saat tasyahud atau tidak, dan fenomena lainnya yang justru di Indonesia malah dipermasalahkan. Itulah yang membuat saya semakin heran. Hari gene masih mempermasalahkan cara orang lain shalat dan mengklaim caranya sendiri paling benar serta paling mirip dengan shalatnya Nabi.

ps: Kita terus mengejar sesuatu yang ideal, tetapi menggunakan hujatan sebagai senjatanya. Lagi-lagi saya bilang, kenapa sih yang beginian tambah laku aja di Endonesah.

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s