Kebiasaan Menghakimi Orang yang Tidak berpuasa


Sekian lama saya berusaha memahami kenapa ada orang-orang yang suka rusuh dan melakukan tindak perusakan terhadap properti orang lain di bulan Ramadhan karena alasan klise, “tidak menghormati orang yang berpuasa.” dan biasanya yang dijadikan target sasaran adalah rumah makan yang buka di siang hari meskipun rumah makan itu sudah ditutupi tirai agar seolah nampak tertutup serta tak menayangkan adegan pengunjung tengah menyantap hidangan. Bahkan tak jarang pemilik-pemilik tempat itu juga jadi sasaran “penghakiman” massa.

Saya pernah membaca tulisan anonimus di internet yang berpendapat bahwa kekerasan adalah tindakan manusia paling primitif yang sudah dipraktekkan oleh manusia-manusia pertama di bumi seperti Kain dan Abel atau Qabil dan Habil. Kalau kita tidak mau mengambil contoh dari kitab-kitab utama agama yang memuat kisah tentang dua orang itu, kita bisa mengkaji penemuan peninggalan sejarah maupun pra-sejarah yang berupa alat-alat untuk melakukan tindakan memukul, membuktikan ternyata arketip primordial kekerasan yang dilakukan manusia sudah terkonstruk berabad-abad lamanya. Manusia sudah belajar kekerasan seiring eksistensi dan ego akan ke-aku-an yang perlu dipertahankan.

Kemarin siang ketika matahari begitu terik, terpaksa saya tepikan motor di pelataran masjid dalam rangka mengaso sambil menunggu ashar. Akan tetapi, tidur saya terganggu dengan keramaian anak-anak yang ribut. Rupanya, dilihat dari bawaan mereka berupa buku Iqra, saya kira mereka hendak mengaji selepas ashar jelang berbuka puasa. Ketika saya perhatikan kumpulan anak-anak itu yang asik bermain, tiba-tiba salah satu dari mereka ada seorang anak lelaki yang datang dengan membawa gelas air mineral. Kontan anak-anak lainnya menghakimi si anak lelaki tadi dengan hinaan, malah ada pula yang mengancam si anak lelaki itu akan dilaporkan kepada orang tuanya.

Misalkan nama si anak ituFulan, komentar sahabatnya tak jauh dari ucapan-ucapan,

“Ih, loe kagak puasa ih.”

“Loe nggak puasa, dosa loe, biarin masuk neraka.”

“Fulan nggak puasa masa, laporin pak Ustaz lho.” atau

“Loe nggak puasa, liat aja loe ntar gua laporin emak loe.” dan komentar sejenisnya yang berdaulat sebagai tirani mayoritas pasti terus membombardir si Fulan dengan segala cacian dan gunjingan.

Perilaku seperti itu yang sudah terbiasa dan dibiasakan sejak kecil terakumulasi bersama arketip primordial kekerasan yang sudah menyejarah hingga dewasa kelak. Apalagi ketika bertemu dengan orang-orang setipe dalam sebuah kelompok, atau bahkan membuat kelompok sendiri sebagai wadah legitimasi apa yang mereka klaim sebagai kebenaran. Makanya tidak terlalu mengherankan melihat kebiasaan beberapa orang di negeri ini yang doyan sweeping seraya menghardik, namun digabungkan dengan teriakan yang berbau Ketuhanan dengan tangan siap menghakimi mereka-mereka yang tidak berpuasa di siang bolong.

Mungkin kita akan bilang bahwa perilaku-perilaku perusakan yang seolah legal dan dibenarkan itu sebagai bentuk kontrol sosial. Dalam arti lain, masyarakat berada di atas individu, alias individu ditekan oleh kehendak kolektif. Akan tetapi, fenomena perusakan warung makan atau tempat yang tetap menjual makanan di siang bolong selama bulan Ramadhan, ternyata tidak jamak terjadi di seluruh negara yang mayoritas masyarakatnya berpuasa selama bulan Ramadhan. Misalnya apa yang terjadi di Indonesia berbeda dengan sejumlah negara di Timur Tengah di mana acara “penghakiman” rumah makan dan restoran oleh sekelompok massa tidak pernah terjadi (seperti di Mesir atau di Dubai).¬† Dengan demikian, belum tentu faktor yang menyebabkan timbulnya fenomena semacam itu adalah dikarenakan arketip primordial dan kebiasaan yang sengaja dibiasakan atau dibiarkan terbiasa sejak kecil. Bisa jadi ada faktor lain. Pertanyaan selanjutnya, “kalau khusus di Indonesia ini, faktor lainnya apa?”

nb: jawabannya bisa saja karena “ketaatan” seperti konsep Peter Berger tentang The Sacred Canopy. Who knows?

One thought on “Kebiasaan Menghakimi Orang yang Tidak berpuasa

  1. nomaden says:

    Itu cuma preman berkedok Islam. Justru mereka kaum yg menghancurkan Islam. Sudah sepatutny para pemimpin kita meninjak lanjutinya. Bukan malah dirangkul terus dijadiin massa pendukung.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s