Tentang Tayangan Televisi di Bulan Ramadhan


Saya akan mengutip ucapan si pengarang Ayat-Ayat Cinta, Habiburrahman di sebuah acara bertajuk Oase Ramadhan yang mana sebenarnya dia juga mengutip dari orang lain. Kalimat itu semacam pepatah yang berbunyi, “Khudzil Fikroh Qabla ‘an Ta’khudzakal fikroh.” dia menerjemahkan peribahasa atau pepatah arab ini kurang lebih, “Buatlah ide-ide atau gagasan baru, sebelum kamu dipaksa untuk menerima ide-ide dan gagasan orang lain.” Kebetulan saya dan dia sama-sama di Mesir, dan saya tahu seperti apa kerjaan dan tingkah laku dia di sana, namun soal itu adalah hal lain.

Sekarang saya akan coba menggunakan pepatah itu sebagai sudut pandang terutama dari sudut pandang seorang sekuler seperti saya. Apa yang saya saksikan di bulan Ramadhan ini kurang lebih persis seperti kata-kata tersebut. Kemungkinan sampai sebulan lebih tayangan-tayangan yang bernuansa agamis akan mengitari saya. Tayangan-tayangan yang penuh dengan sesuatu yang menggelikan, memuakkan, menjijikkan apabila dilihat, dan sudah pasti “memaksa” saya untuk menerimanya walaupun berulangkali saya mencoba mematikan televisi. Sementara itu, tayangan pembanding khusus bagi seorang sekuler miskin yang tidak mampu berlangganan televisi kabel ternyata tidak ada. Okelah, selama 11 bulan tayangan bernuansa sekuler mewarnai acara-acara televisi. Akan tetapi, ketika dengan sekejap semua berubah sok agamis, tentu bagi saya sangat menyakitkan. Mau menyetel televisi tayangannya begitu semua, belum lagi ditambah tayangan radio wahabi di rumah saya yang digeber banter menyiarkan pengajian. Tambah benar-benar memuakkan.

Mari kita lihat seperti apa komersialisasi dan kapitalisasi simbol-simbol agama di bulan ramadhan yang nampak jelas dipertontonkan oleh televisi. Apa yang saya sebut komersialisasi simbol agama ibarat komersialisasi simbol-simbol anarkisme dan pemberontakan yang dipakai anak-anak remaja. Misalnya, pemakaian atribut lambang Nazi atau tatto gambar Che Guevara untuk menunjukkan identitas ke-aku-an atau sekedar bergaya mengikuti tren doang. Begitulah penampilan tayangan-tayangan agamis yang beredar di bulan Ramadhan

Pertama soal iklan, hampir semua iklan dikaitkan dengan situasi puasa dan bulan ramadhan. Mau pulsa, jok mobil, helm, minuman dan makanan cemilan yang biasanya nampilin penari-penari abg labil, sampai jualan rumah pun menggunakan “dalam rangka puasa dan bulan ramadhan” atau kalau misalnya hampir dekat idul fitri ditambah “merayakan kemenangan, kembali fitrah, dan bla bla bla lainnya.”

Kedua, tayangan menjelang berbuka yang dipenuhi ustaz-ustaz televisi dari yang ngondek sampai yang dalam pandangan saya “maniak perempuan” sedang panen uang dan gencar besar-besaran menjejali ide-ide sok suci itu bagi para pemirsa. Ustaz-ustaz televisi itu biasanya 11 bulan raib, namun ketika bulan Ramadhan serentak keluar dari sarang langsung menyerang bertubi-tubi dari pagi sampai pagi lagi mirip radio butut ayah saya yang menyiarkan pengajian Wahabi.

Ketiga, tayangan humor di televisi-televisi menjelang berbuka atau ketika sahur yang tambah ora nggenah. Dipenuhi boneka-boneka yang menyangka dirinya publik figur, selebritis, dan semacamnya. Mereka berpakaian asal-asalan, menari, dan bernyanyi seolah sedang menghibur meski apa yang dicelotehkan dari mulut mereka demikian kabur. Terkadang acara-acara semacam ini diselingi segmen bagi-bagi duit untuk menarik minat penonton dan menaikkan rating.

Keempat, sinetron-sinetron religi yang sebenarnya isinya tidak jauh dari tema percintaan pada sinetron-sinetron biasanya, namun bedanya dibalut simbol-simbol agama sehingga nampak lebih agamis, islamis, diridhai Tuhan, dan semacamnya.

Kelima, yakni tayangan infotainment yang mengulas kebiasaan boneka (baca: selebritis) selama bulan Ramadhan. Ada yang umroh, ada yang buka puasa bareng, ada yang tarawih, ada yang begini-begitu dan lain sebagainya. Lalu apa? Pentingkah kehidupan privat mereka diberitakan atas dasar alasan klise memuaskan keingintahuan penggemar tentang aktivitas keseharian mereka selama bulan Ramadhan?

Bagi saya semua itu kamuflase. Akan tetapi, menyimak penuturan Habiburrahman yang menggunakan pepatah arab tersebut di atas sebagai pembenaran ceramahnya tentang persaingan ide (atau bahasa dakwahnya ghazwul fikri) antara film-film buatan Barat yang berisi pesan tidak Islami dan film-film yang Islami (termasuk filmnya), sehingga bagi dia kesannya film-film Barat selama ini memaksakan ide-ide non-Islami. Maka saya juga akan menggunakan pepatah Arab itu sebagai pembenaran sudut pandang saya bahwa film-film Islami (termasuk yang dia bikin) itu juga sedang memaksakan ide-idenya, dan terus terang di Indonesia ide-ide dan gagasan-gagasannya yang menang karena dominan serta menjadi mainstream.

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s