Pilkada DKI dan Isu Sara


Saya tercekat manakala hasil hitung cepat pilkada DKI menempatakan pasangan Jokowi-Basuki diposisi pertama, mengungguli pasangan petahana, Foke Nara. Prediksi saya, pasangan Jokowi-Basuki akan finish di posisi kedua, sesuai sejumlah ramalan sebelum pilkada. Tapi nyatanya semua terkecoh. Tak urung, Jokowi-Basuki jadi perbincangan di mana-mana lantaran membuat kejutan di siang bolong.

Sehari setelah hitung cepat dilakukan, linimasa twitter saya dipenuhi dengan cercaan terhadap lembaga survei. Kesalahan yang begitu elementer membuat lembaga survei jadi bulan-bulanan karena dianggap tidak kredibel dan by order. Jika kita ingat, pasangan Foke-Nara diramlakan bakal beroeh dukungan 49 % suara. Bahkan ada lembaga survei yang sesumbar Foke-Nara bisa menang satu putaran. Lantas apa yang terjadi? Foke-Nara hanya meraup 33 % suara, jauh dari prediksi awal.

Selain mengenai hancurnya reputasi lembaga survei, pilkada DKI juga disuguhi pemandangan menarik. Yakni keberhasilan calon independen mengalahkan calon dari partai. Dalam hal ini Faisal-Biem mengalahkan Alex-Nono. Kenyataan ini menjadi pembalajaran politik yang penting sekaligus tamparan ringan buat partai.lebih-lebih Partai Golkar yang mengusung Alex-Nono dan yang sudah resmi menyodorkan nama Ical sebagai calon presiden meski dukungan partai belum solid.

Jika melihat hasil hitung cepat, maka pada putaran kedua nanti, saya kira suara PKS bakal jadi penentu. Siapa mampu ‘membeli’ PKS maka akan dipastikan menjadi pemenang. Pasalnya PKS mendulang 11 % suara yang cukup untuk menjadikan Foke-Nara atau Jokowi-Basuki sebagai jawara di ibukota. Meski pada akhirnya saya ragu, karena saat ini rakyat cenderung cerdas dan rasional dalam menentukan pilihan. Bergerak sendiri-sendiri, tak peduli lagi kata partai. Sentimen anti incumbent yang didengungkan Hidayat, Faisal, Hendarji dan Alex sebenarnya bisa menjadi poin tersendiri bagi Jokowi-Basuki. Meski Jokowi-Basuki akan diganjal badai besar berupa isu SARA.

Isu SARA, Jualan Musiman

Baiklah. Saya akan mulai dengan bercerita. Saya punya teman satu kos yang pada 11 Juli lalu memilih Jokowi-Basuki , namun pada putaran kedua ia justru ragu untuk memilih Jokowi-Basuki kembali. Kenapa? Karena ia mendapat sejumlah tekanan bernada provokatif dari beberapa tetangganya di rumah dengan kata-kata serupa ini: Jokowi menang, Betawi digusur! Masak iya orang Jawa (luarJakarta) mau mimpin Jakarta?

Saya manggut-manggut. Saya tampung dulu satu isu ini. Kemudian, muncul isu kedua (banyak saya temui di twitter): jangan biarkan orang kafir pimpin Jakarta! Atau di versi lain disebut ‘orang yahudi’ atau ‘orang kristen’. Saya lagi-lagi terdiam sambil menganggukkan kepala. Mencoba berpikir dan menjernihkan masalah.

Saya ajak teman kos saya berdiskusi. Saya tanya: benarkah orang Jawa sejahat dan sekuat itu mengusir warga Betawi? Apakah pernah ada bukti? Teman saya menjawab, bahwa memang belum ada bukti. Ini masih sebatas ketakutan belaka. Teman saya melihat satu contoh misalnya orang Betawi sekarang yang dari sisi profesi terkenal dengan sebutan 3T: tukang ojek, tukang nasi uduk, tukang kontrakan. Sementara masyarakat Jawa dan suku lain lebih suskses dan kaya.

Sesaat saya menarik nafas lalu berujar kepada teman kos saya. Betul memang Jakarta ini punya penduduk asli, yakni Betawi, dan kita hormati mereka. Tapi laju urbanisasi nyatanya tak terbendung. Jakarta menjadi kota multi etnis dan punya kekhasan tersendiri. Misalnya dalam mata pencaharian, sebut saja suku Batak di wilayah kopaja, Padang di jualan Baju, warkop identik orang Kuningan, tukang nasi goreng dan warteg orang Jawa, belum lagi teman-teman dari Indonesia timur yang menempati titik krusial di ranah ‘keamanan’ dan seterusnya. Inilah indahya Jakarta. Inilah bhineka tunggal ika. Inilah kemajemukan yang niscaya terjadi. Jakarta miniatur Indonesia. Soal nasib berprofesi sebagai apa itu tinggal keuletan masing-masing. Tidak melulu orang Betawi jadi tukang ojek dan tukang kontrakan, tidak selalu orang Batak sopir kopaja. Semua sederajat, berkompetisi secara sehat. Tak ada yang dipinggirkan dan meminggirkan. Isu seperti ini sangat politis. Kerap muncul saat pilkada. Jadi harus dimaknai secara cerdas dan kritis, lebih-lebih sebagai mahasiswa. Supaya tak ada chaos karena masalah sepele. Jadi pemilih harus rasional.

Teman saya menganggukan kepala. Mengamini perkataan saya.

Lalu soal isu kafir/ yahudi/ Kristen. Teman saya pun mempertanyakan itu. Hal ini wajar mengingat Basuki yang memang non-muslim. Saya sungguh tak berani menanggapi satu masalah ini. Ilmu agama saya sangat minim. Konon, soal pemimpin non-muslim masih pro kontra di kalangan ulama, masih menjadi kontroversi. Konon, muslim moderat membolehkan pemimpin non muslim, asal ia bersih, profesional dan punya integritas. Tapi dibantah oleh muslim yang agak ‘keras’ bahwa jika pemimpin non-muslim pasti nantinya akan banyak gereja, majelis taklim tutup, habib-habib habis dan sebagainya. Dan lagi-lagi itu masih berupa ketakutan. Terbaca sangat politis untuk mendeskritkan satu calon.

Mendadak saya pun ingat obrolan saya dengan seorang sopir taksi yang sempat mengagetkan saya dengan pertanyaan: dik, kamu pilih mana, muslim tapi korup dan kerja nggak becus apa non muslim tapi bersih dan bagus kerjanya. Saya jelas bingung dan terkejut (mohon diingat, nama sopir taksi ini Pak Ahmad, jelas sudah agamanya). Setelah lama berpikir saya memilih yang non-muslim tapi bersih,jujur,professional dan bekerja bagus. Saat itu saya teringat kasus korupsi Al-Quran di Kemenag yang konon dilakukan oleh seorang yang namanaya sangat ‘islami’.

Saat saya ceritakan pengalaman saya dengan sopir taksi itu, teman saya termenung dan sepakat dengan pemikiran saya.

Kemudian saya anjurkan kepada teman saya untuk mengetahui latar belakang tiap calon. Jangan mendukung membabi buta tapi tak tahu apa-apa. Fanatik irasional. Karena saya memiliki teman yang mendukung Foke-Nara tapi tidak tahu jika Nara itu ketua Bamus dan teman saya itu juga tidak tahu apa kepanjangan Bamus. Ia juga gagap menyebutkan sejumlah keberhasilan Foke. Berlainan dengan teman saya yang lain mendukung Jokowi dan bisa menyebutkan ‘riwayat hidup’ Jokowi beserta prestasi dan jejak rekamnya. Jadi pada intinya, dukungan kita kepada calon harus punya argumen, harus kenal dulu calonnya. Do not judge a book by its cover, begitu kata orang Inggris.

Oke. Saya akhiri tulisan ini. Saya bukan suruhan siapa-siapa. Saya tidak menganjurkan anda pilih Jokowi-Basuki, tidak pula Foke Nara. Saya juga tak punya hak pilih. Tapi saya peduli dengan nasib Jakarta ke depan karena jika Jakarta banjir, macet dll saya juga merasakan. Siapapun nanti pemenang pilkada DKI jangan sampai gontok-gontokan. Politik untuk silaturahim dan tambah sahabat, bukan untuk permusuhan. Jika kita sebagai rakyat bentrok melulu, para elit akan bersorak sorai. Keep calm and stay cool!

sumber: Zakky Zulhazmi (kompasiana)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s