Peringatkan Anak-Anak, Jangan Bercita Jadi Aktivis Kalau Takut Dihilangkan


Pagi ini saya mendengar berita tentang hilangnya aktivis lingkungan dan pertambangan yang bernama Ali Azhar Akbar. Padahal dia dijadwalkan hendak menghadiri acara bedah bukunya yang menyoroti seputar konspirasi di balik program penanganan lumpur lapindo. Dia juga mengajukan Judicial Review terhadap Pasal 18 UU Nomor 4 Tahun 2012 tentang APBN-P 2012 yang mengatur upaya penanggulangan lumpur Lapindo. Pasal tersebut sudah sidangkan untuk pertama kali oleh Mahkamah Konstitusi pada Jumat (15/6) lalu.

Ali Azhar Akbar menulis buku Lumpur Lapindo File: Konspirasi SBY-Bakrie, yang isinya antara lain mencantumkan data bahwa tragedi semburan lumpur lapindo bukanlah bencana alam, melainkan kesalahan operasional. Hal ini tentu berbeda dengan penetapan pemerintah yang menyatakan semburan lumpur Sidoarjo merupakan bencana alam. Entah mengapa Ali Azhar Akbar hilang begitu saja, dan kemungkinan dia dihilangkan walaupun tidak tahu apakah dirinya benar dihilangkan. Jika memang demikian, lantas siapa yang berbuat seperti itu dan siapa yang bertanggung jawab sebagai dalang pelakunya. Menurut pemberitaan media, saat ini keluarganya sudah tidak mau tahu menahu soal keberadaannya lagi, sementara para sahabat yang biasa bertemu dengannya mulai sulit menghubungi nomor telepon selulernya.

Yang Jelas, di negeri ini namanya aksi hilang menghilangkan orang, terutama aktivis atau tersangka korupsi adalah hal biasa. Bedanya kalau korupsi disimpan dan disembunyikan, sementara aktivis dihapus keberadaannya seolah tak pernah terlahir ke muka bumi. Masih ingat Widji Tukul yang sampai sekarang jasadnya raib entah ke mana. Keluarganya pun tak tahu apakah dia sudah meninggal atau belum. Selain dihilangkan, cara lain untuk membungkam aktivis yang lantang adalah dengan cara pembunuhan, seperti yang dialami Munir. Dari rezim berganti rezim, banyak sudah generasi-generasi kritis yang berakhir sebagai martir. Maka dari itu, tobatlah dari cita-cita menjadi aktivis, apalagi mempunyai imajinasi heroik berlebihan.

Di negara ini sedang terjadi pembisuan massal secara sengaja dan terorganisir. Wahai para ibu, para bapak, peringatkan anak-anak kalian agar tidak bercita-cita menjadi aktivis. Percuma kalian berinvestasi puluhan tahun, namun tiba-tiba bayi kalian yang membesar itu hilang. Peribahasa Mati Satu Tumbuh Seribu sudah ketinggalan jaman. Didiklah mereka menjadi orang-orang yang pandai cari aman supaya tidak kelaparan. Jika Adhi Massardi mengatakan bahwa negeri ini negeri para bedebah. Mungkin sekarang kondisinya sudah lebih daripada bedebah. Entahlah. Berlomba-lombalah mencari keselamatan sendiri jika negara tak lagi bisa diharapkan.

Lirik lagu Hilang oleh Efek Rumah Kaca

Rindu kami seteguh besi
hari demi hari menanti
tekad kami segunung tinggi
takut siapa?? semua hadapi…

Yang hilang menjadi katalis
di setiap kamis nyali berlapis
Marah kami senyala api
di depan istana berdiri…

yang ditinggal takkan pernah diam
mempertanyakan kapan pulang?

Dedy Hamdun HILANG Mei 1997
Ismail HILANG Mei 1997
Hermawan Hendrawan HILANG Maret 1998
Hendra Hambali HILANG Mei 1998
M Yusuf HILANG Mei 1997
Nova Al Katiri HILANG Mei 1997
Petrus Bima Anugrah HILANG Maret 1998
Sony HILANG April 1997
Suyat HILANG Februari 1998
Ucok Munandar Siahaan HILANG Mei 1998
Yadin Muhidin HILANG Mei 1998
Yani Afri HILANG April 1997
Wiji Tukul HILANG Mei 1998

HILANG

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s