Larangan Beda Agama: Efek Jangka Panjang Evolusi Manusia?


Teman-teman mungkin pernah mendapatkan pelajaran genetika waktu Sekolah Menengah? Basic genetika adalah adanya unit pewarisan sifat yang diturunkan dari satu generasi ke generasi lain. Ini mengakibatkan manusia selalu melahirkan manusia dan ayam selalu melahirkan ayam. But, dikarenakan semua organisme harus hidup bila ingin survive, maka secara otomatis, unit pewarisan sifat yang sesuai dengan lingkungan lah yang akan terus bertahan. Misalnya, anda seorang albino yang tinggal di gurun sahara sana. Otomatis, anda tidak akan memiliki kesempatan besar untuk hidup apalagi menikah. Katakanlah, anda mati muda gara-gara anda menderita albino dan harus tinggal di gurun sahara, maka gen albino anda tidak akan diturunkan ke generasi berikutnya karena anda memang tidak punya anak. Sebaliknya bila anda memiliki kulit hitam (memiliki zat pelindung sinar matahari banyak), maka anda dapat hidup sehat di tengah terik matahari gurun sahara, maka anda memiliki kesempatan besar untuk menikah dan menurunkan gen kulit hitam ke anak anda.

Secara otomatis, mekanisme ini menyebabkan gen-gen kulit hitam sangat banyak terdapat di populasi manusia sahara, sedangkan gen albino sangat jarang ditemukan. Nah, keseluruhan gen yang ada di populasi manusia, dinamakan gene pool alias kolam gen. Kolam gen menunjukkan pola distribusi gen-gen dari yang paling adaptif (kulit hitam) sampai yang paling tidak adaptif (albino).

So, apa hubungannya ini semua dengan larangan nikah beda agama di Indonesia? Bukankah semua orang Indonesia apapun agamanya bertempat tinggal di daerah yang sama?

Sebentar . . . sebentar . . . sekarang mari kita memperhatikan beberapa umat agama di Indonesia. Kita misalkan orang Islam memiliki gene pool tersendiri, orang kristen memiliki gene pool tersendiri, orang Hindu memiliki gene pool tersendiri, dan begitu juga orang Budha dan umat kepercayaan lain. Nah, katakanlah, wanita muslim lebih suka memilih jodoh para pria yang hafal Al Quran sedangkan wanita Kristen lebih suka para pria yang pintar menyanyi, maka gene pool umat muslim akan dipenuhi oleh gen para pria yang pintar menghafal sedangkan gene pool umat Kristen akan dipenuhi oleh para pria yang pintar menyanyi. Ini secara otomatis terjadi akibat seleksi seksual yang menjaring mereka semua. Dengan adanya larangan nikah beda agama, maka gene pool umat Islam tidak akan bercampur dengan gene pool umat Kristen. Then, apa yang terjadi?

Tahukan anda ada berapa banyak variasi buah mangga? Ada buah mangga yang banyak seratnya, yang paling manis, hingga yang paling asam tetapi sangat menyegarkan. Nah, bayangkan hal itu terjadi pada manusia. Dengan adanya larangan nikah beda agama, dampak yang ditimbulkan bukan hanya terjadi dari segi sosial(relasi antar manusia) tetapi sudah benar-benar mempengaruhi penampakan manusia itu sendiri. Akibatnya, bisa jadi besok kita mengenal manusia berbagai varietas akibat larangan beda agama. Variasi Homo sapiens kristenensis terkenal sebagai varietas yang unggul di bidang tarik suara sedangkan varietas Homo sapiens islamnensis dikenal sebagai varietas manusia yang pintar menghafal.

Nah, coba bayangkan bila hal ini terus berlanjut dengan berbagai tren dan mutasi yang muncul. Misalnya, orang Kristen pada akhirnya bukan hanya memilih mereka yang pintar menyanyi saja, tetapi juga memilih mereka yang berkriteria X, Y, dan Z, sementara orang Islam akan memilih mereka yang A, B, dan C. Sekali lagi, dengan adanya larangan nikah beda agama, maka kriteria tersebut tidak akan bercampur sehingga varietas manusia bisa jadi berkembang hingga masalah spesiasi!

Bagaimana dengan mutasi? Mutasi adalah perubahan pada unit pewarisan sifat yang mengakibatkan perubahan pada individu bersangkutan. Mutasi mengakibatkan seorang anak tiba-tiba menjadi ‘A’ padahal ibu dan ayahnya ‘B’. Salah satu contoh mutasi yang terkenal adalah mutasi yang terjadi pada kromosom ke 21 manusia yang mengakibatkan manusia memiliki intelegensia yang tinggi dibanding kerabat dekat kita, Simpanse.

Nah, bila seorang individu mengalami mutasi unggulan, misalnya ada seorang bocah muslim mengalami mutasi sehingga ingatannya benar-benar baik, maka ketika dewasa dia akan menjadi sangat laku bahkan dapat melakukan poligami sehingga gen mutan ‘ingatan baik’ tersebut dapat diturunkan kepada anak-anaknya. Anak-anak si mutan juga dapat memiliki akses jodoh yang lebih baik karena punya sifat unggulan baru, sehingga gen mutan pada akhirnya akan diturunkan terus menerus dan menyebar dari generasi ke generasi dan pada akhirnya mendominasi gene pool umat muslim. Nah, gen mutan ini tidak bisa diturunkan kepada umat kristen karena ada larangan nikah beda agama.

Jadi, pada akhirnya menurut saya, larangan beda agama itu agak ajaib, kecuali bila kita memang menginginkan manusia terbagi atas beberapa spesies. Mungkin nantinya Homo sapiens adalah moyang bersama -seperti kera purba sebagai moyang bersama manusia dan keluarga kera- yang menurunkan Homo kristenensis, Homo islamnensis, Homo budhistis, Homo hindustis, dll.

3 thoughts on “Larangan Beda Agama: Efek Jangka Panjang Evolusi Manusia?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s