Ketika Perempuan Dibandingkan Dengan Hewan


Seorang ustaz berkata kepada jama’ahnya, “Kalau di KFC saja paha dan dada ayam ada harganya, tetapi justru perempuan-perempuan zaman sekarang yang notabene manusia, seperti sudah tidak ada harganya. Paha dan dada diumbar gratisan.” demikianlah sekelumit ucapan pendakwah minggu pagi di masjid dekat rumah saya. Pernyataan itu membuat saya terus berpikir sampai sekarang. Apakah takaran bahwa perempuan shalihah itu adalah menutup aurat? Dan apakah setiap perempuan yang tidak menutup kepalanya dan tubuhnya berarti sedang menjajakan seksualitas kepada publik?

Saya rasa di dunia ini tidak ada orang yang sudi dilecehkan, baik secara verbal, fisik, dan sebagainya. Bahkan seorang perempuan yang dibilang pelacur pun sama sekali tidak menginginkannya. Namun, tekanan sosial-lah yang seringkali melumrahkan atau mungkin mengabsahkan tindakan-tindakan seperti itu. Entah mengapa membandingkan perempuan dan ayam itu menjadi semacam kewajaran, apalagi terlontar dari mulut seorang pendakwah. Malah jama’ah yang mendengar dan mayoritas pria tertawa seolah mendapatkan pembenaran bahwa perempuan itu gender yang kurang akal, sementara gender mereka-lah yang superior, berakal, rasional, plus paling beriman.

Oke, katakan bahwa manusia adalah bagian dari spesies mamalia yang berada pada tingkat teratas piramida makanan. Tanpa agama, manusia diibaratkan tak jauh berbeda dengan primata atau hewan lainnya. Tetapi manusia juga punya kehendak bebas. Mau beragama atau tidak beragama, mau menutup aurat atau tidak, semua itu dikembalikan kepada kehendak masing-masing individu. Lantas mengapa pijakan tersebut (bahwa manusia tanpa agama sama saja dengan hewan) kerap dijadikan standar ukuran untuk menilai orang lain selain diri kita. Apakah karena “Ego” ke-Aku-an manusia yang sedemikian besar dan berlebihan, sehingga tiap individu merasa berhak untuk mengatur dan mengendalikan orang lain?

Tidak bisa dinafikan bahwa di antara milyaran manusia di bumi, ada yang berpendapat bahwa harus ada orang-orang yang superior dan unggulan yang bertugas untuk memerintah, mengatur, dan mengendalikan orang lain. Karena itu dibutuhkan sebuah perangkat untuk mendisiplinkan manusia. Kaum agamawan dan pendakwah agama biasanya menggunakan perangkat agama. Kaum sekuler menggunakan perangkat dan norma lainnya yang biasanya dibuat dengan mekanisme konsensus.

Namun, pada intinya adalah, bahwa yang paling banyak surplus perangkatnya, dialah yang paling bisa mengendalikan manusia lainnya. Pantaslah jika kemudian terjadi kategorisasi dan pemilahan. Dan perempuan seringkali menjadi objeknya, alias ditentukan mana perempuan “baik” dan “tidak baik” oleh pihak lelaki. Karena dalam hal ini, lelaki mempunyai kelebihan surplus melimpah; baik itu dari ekonomi, status sosial, dan juga bekingan dari Tuhan. Para pria dalam keluarga mempunyai otoritas berlebih untuk menentukan bagaimana anggota-anggota perempuan dalam keluarganya berpakaian, belajar, bertingkah laku dan sebagainya.

Ketika ada seorang pendakwah menganalogikan anatomi tubuh perempuan, langsung ditujukan pada simbol seks. Dengan kata lain, seluruh anatomi tubuh perempuan adalah simbol seks. Dan hal itu justru diamini sebagai sebuah kebenaran. Mau tidak mau, kehidupan perempuan ibarat berada dalam selasar sendirian dan dihimpit dinding-dinding seksualitas. Namun, yang menentukan rambu-rambu seksualitas itu justru para pria. Maka, analogi paha dan dada perempuan dengan paha dan dada ayam akan dianggap bukan suatu pelecehan seksual. Justru seringkali dipaksakan agar perempuan menyerapnya sebagai titah pagar moral dan kesusilaan. Ya, perempuan tidak bisa menentukan seksualitas-nya sendiri.

Itulah mengapa saya alergi dengan dogma dan indoktrinasi. Terutama yang berbungkus agama. Isinya cuma rangkaian sistem pendisiplinan yang ditutup dengan dalil agama dan ketuhanan. Jika bukan karena menemani ayah saya, tidak akan pernah mau saya ikut mendengarkan hal-hal semacam itu. Namun apa boleh buat, manusia dan Tuhan tidak pernah setimpal. Namun, sangat banyak manusia yang berlomba menjadi wakil-Nya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s