Perempuan Tempatnya di Kasur, Dapur, dan Sumur?


13350172451639127030

Saya tak perlu kebanyakan konsep. Mau yang muluk sekalipun sampai yang ecek-ecek, tempat perempuan tetap di kasur, dapur, dan sumur. Saya cuma melihat realitas yang terjadi di masyarakat di negeri terkutuk ini. Untuk apa sok mendidik masyarakat. Kebanyakan konsep malah jadinya basi. Mereka pun tak perlu dididik oleh segala konsep berbau surgawi yang seolah membela perempuan. Nyatanya perempuan yang jumlahnya katanya lebih banyak dari lelaki itu tetap menjadi warga kelas dua, di ranah publik maupun wilayah domestik. Lelaki yang minoritas itu mengatur yang mayoritas karena lelaki punya ego untuk dijadikan matahari dan kekuatan yang berbungkus harga diri serta kewibawaan.

Perempuan yang ingin keluar dari sistem 3UR (Kasur, dapur, sumur) ini bersiaplah terkucil dalam sistem. Bukan terkucil dalam arti harfiah. Tetapi lihat saja perempuan-perempuan yang ingin tampil menjadi pendobrak di zaman sekarang. Banyak dari mereka kerap dicibir sebagai Pecinta Kebebasan, Kebablasan, sampai distigmatisasi sebagai perempuan yang tidak laku dan tidak layak diperistri. Karena mereka tidak mungkin menjadi ibu. Kalau dalam bahasa agama bukan dianggap sebagai perempuan shalihah. Sementara perempuan shalihah itu adalah yang nurut, yang mau diatur suami, yang tidak boleh membantah suami. Karena di dalam keluarga suami adalah pemegang kekuasaan tertinggi. Makanya munafiklah orang-orang yang di ranah publik teriak koar-koar tentang kesetaraan gender, kebebasan, dan hak asasi manusia tetapi tetap menjadikan istrinya sebagai warga kelas dua.

Rumah tangga adalah sarang domestik para suami melampiaskan ego mereka. Semisal dalam kehidupan saya. Setelah ibu saya meninggal dunia, dia menikahi perempuan muda berusia 22 tahun. Tetapi enam bulan kemudian mereka bercerai. Karena istrinya itu lebih cerdas, perempuan baru lulus kuliah dan fresh dengan ide segar. Penuh dengan argumentasi serta mantan aktivis di organisasi tertentu. Sedangkan ayah saya cuma lulusan kuliah tetapi punya duit. Namun, tidak menerima argumentasi. Dia-lah sang matahari, pemegang kekuasaan tertinggi, dan kebenaran mutlak di sarang domestiknya. Lalu dia menikahi perempuan muda lagi dari desa yang penurut dan mudah diatur. Yang tidak komplain macam-macam dan menjalankan perannya di kasur, dapur, dan sumur.

Saya yakin banyak perempuan di negara ini yang tanpa sadar senang dianggap sebagai perempuan shalihah, perhiasan dunia, istri yang baik, mengabdi kepada keluarga, walaupun sejatinya ditindas kaum lelaki. Fenomena ini juga dialami tidak hanya di dalam keluarga yang kelas ekonominya menengah ke bawah. Seperti keluarga saya yang bisa dikatakan berkecukupan. Tetapi juga mempraktikkan sistem 3UR kepada anggota perempuan di keluarga. Karena keluarga berarti satu, yaitu suami atau ayah. Sosok inilah yang jadi superman-nya. Tetapi semua orang berhak menjalankan peran apa saja di dunia ini. Namun peran pun melahirkan perang. Ya, perang stigma yang terjadi di negara ini dan latah dilontarkan oleh siapa saja.

Perang stigma bahwa perempuan yang baik dan pantas diperistri adalah yang begini; ribuan kriteria dicantumkan tetapi paling atas adalah patuh dan penurut kepada suami. Sebaliknya perempuan tidak baik adalah bla bla bla, bukan cuma soal kegemaran. Pun merembet ke mana-mana, bisa  soal fisik maupun asal suku bangsa, ras dan sebagainya. Inilah sistem sosial kita. Sistem sosial di negara ini yang membuat saya kian jengah dari hari ke hari. Tetapi saya tidak berniat mengubah atau konsep mendidik masyarakat macam-macam. Toh, bahagia atau tidak adalah masing-masing individu yang menjalaninya. Hancur atau tidak juga tak ada yang peduli.

Perempuan tempatnya cuma di kasur, dapur, dan sumur bukan penguasa dan pengendali struktur.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s