Lagi-Lagi Negara Gagal Melindungi Minoritas


Di negara ini, Agama telah dijadikan elemen fundamental hidup dan kehidupan manusia di Nusantara. Ini berdasar konstitusi, sehingga mau tak mau semua orang Indonesia diwajibkan beragama (walau ini kewajiban aneh, dan tak ada dasar hukumnya atau tak ada undang-undangnya).

Konsekuensinya, harus ada kebebasan beragama di NKRI; kebebasan terhadap semua umat beragama mengaktualisasi dirinya dengan bebas, merdeka, tanpa tekanan, namun dalam koridor berbangsa dan bernegara. Dan dengan itu, akan tercermin kebebasan beragama dalam arti yang luas; yang meliputi membangun rumah ibadah dan berkumpul, menyembah; membentuk institusi sosial; publikasi; dan kontak dengan individu dan institusi dalam masalah agama pada tingkat nasional atau internasional.

Sayangnya, semuanya itu hanya semboyan semu. Semu karena justru Negara tidak menjamin kebebasan beragama untuk semua agama dan kepercayaan; negara tidak mampu melindungi keseluruhan rakyat yang berbeda agama – kepercayaan – aliran dengan yang diakui pemerintah. Dan juga, Negara justru melakukan pembiaran dan penindasan atas nama agama terhadap aliran-aliran keagamaan yang lain.

Di sana-sini, mereka yang minoritas, pasti mengalami kesulitan untuk membangun tempat ibadah walau ada SKB MENTERI yang (katanya) mengatur (sebelum) pendirian rumah ibadah; ternyata SKB ini, secara jujur, bukan untuk rakyat (yang berbeda agama) bisa menerima pembangunan rumah ibadah di wilayah tertentu, melainkan terbuka atau MEMBUKA peluang agar rakyat menolak (tidak memberi izin) pendirian rumah ibadah.

LIHAT kasus terbaru, kemarin di Bekasi (lihat kronologis). Peristiwa kekerasan (atas nama Umat Beragama–Masyarakat) tersebut sekali lagi sebagai bukti bahwa Negara telah gagal melindungi minoritas, atau, memang sengaja dan adanya pembiaran (oleh Negara) sehingga terjadi konflik horisontal bernuansa SARA.

(Di) sengaja (atau tidak) dan pembiaran pada peristiwa-peristiwa sebelumnya (di tempat lain), seakan menjadi pembelajaran–pemicu kekerasan. Karena, ketika terjadi pada/di tempat lain, Negara tidak secara tuntas menyelesaikannya; akibatnya, kaum radikal–rasialis di tempat lain pun, melakukan yang sama.

KRONOLOGI USAHA PEMBUBARAN DAN PENYERANGAN MASSA INTOLERAN TERHADAP IBADAH GEREJA HKBP FILADELFIA TAMBUN BEKASI (Minggu, 22 April 2012)

Jam 07.00: Massa intoleran sudah berada di sekitar lokasi Gereja HKBP Filadelfia. Dan sebagian sudah berada sekitar 300 m dari lokasi Gereja untuk melakukan pemblokiran jalan menuju lokasi gereja.

Jam 07.30: Satpol PP Kab Bekasi dan Polisi sudah hadir di lokasi Gereja HKBP Filadelfia dan di pintu masuk Perumahan Villa Bekasi Indah 2, yang berjarak sekitar 700 m dari lokasi gereja. Perumahan Villa Bekasi Indah 2 belakangan ini setelah terjadi beberapa kali pemblokiran jalan serta penghadangan massa intoleran menjadi titik kumpul jemaat HKBP Filadelfia untuk bersama-sama berjalan menuju ke lokasi Gereja.

Jam 08.00: Jemaat HKBP Filadelfia mulai berdatangan ke titik kumpul di gerbang masuk perumahan Villa Bekasi Indah 2.

Jam 08.15: Aparat Polisi, Pemda Kab Bekasi, Camat Tambun Utara, Kepala Desa Jejalen Jaya dan Ketua Satpol PP Kab Bekasi, member pengarahan kepada jemaat HKBP Filadelfia yang intinya meminta jemaat HKBP Filadelfia mau di relokasi beribadah di Gedung Guru Jalan Kalimaya 1 Metland Cibitung yang berjarak sekitar 9 km dari lokasi gereja.

Jam 08.30: Pimpinan Jemaat HKBP Filadelfia bernegoisasi dengan aparat pemerintah, Ketua Satpol PP dan aparat keamanan agar HKBP Filadelfia diizinkan beribadah di lokasi gereja dan dilindungi. Negoisasi alot dan hasilnya tidak ada.

Jam 09.00: HKBP filadelfia berbaris dan mendengar pengarahan dari Pimpinan Jemaat HKBP Filadelfia agar berangkat dengan damai, tidak terpancing dengan provokasi dan tidak membuat tindakan anarkis.

Jam 09.05: HKBP Filadelfia berjalan menuju ke lokasi gereja, tetapi dihadang oleh Satpol PP Kab Bekasi dan polisi di pintu masuk Perumahan Villa Bekasi Indah 2. HKBP Filadelfia berusaha memohon agar diizinkan sampai pada akhirnya ada aksi dorong mendorong dengan Satpol PP dan polisi karena tidak diberi izin.

Jam 09.15: Akhirnya HKBP Filadelfia harus beribadah di tengah jalan di pintu masuk perumahan Villa Bekasi Indah 2

Jam 09.15–10.15: Ibadah HKBP Filadelfia berlangsung. Menjelang ibadah berakhir, massa intoleran sudah bergerak maju menuju perumahan Villa Bekasi Indah 2. Barisan penahan dari Satpol PP dan Polisi berhasil dijebol massa. Sampai beberapa kali di titik yang berbeda berusaha untuk ditahan tetapi selalu jebol. Massa sangat banyak ada sekitar 500 orang dan banyak yang didatangkan dari luar. Sebagian massa intoleran datang dari dalam perumahan Villa Bekasi Indah 2 dan mereka berusaha menyerang ibadah HKBP Filadelfia, namun berhasil dihalau pihak keamanan.

Jam 10.30: Ibadah HKBP Filadelfia berakhir. Ketika jemaat HKBP Filadelfia mau pulang, tiba-tiba ada seorang ibu tua menyusup, dan melakukan provokasi dengan sengaja melemparkan 7 kodok yang terikat kakinya satu sama lain ke tengah-tengah jemaat HKBP Filadelfia. Terjadi kepanikan dan si ibu tua berjalan kearah massa intoleran. Spontan ibu-ibu jemaat HKBP Filadelfia berusaha menghentikan si ibu tua tersebut. Dan pada saat itulah massa intoleran merengsek maju dan berusaha menyerang jemaat HKBP Filadelfia.

Jam 10.45: Jemaat HKBP Filadelfia tersudut dan terkepung massa intoleran yang semakin dekat untuk menyerang. Tidak ada jalan keluar, karena dikepung dari berbagai arah. Akhirnya Ketua Satpol PP meletuskan senjata api untuk menghalau massa.

Jam 11.00: Bantuan pihak keamanan dari Polisi tiba satu truk dan langsung membuat pagar betis membentengi jemaat HKBP Filadelfia yang telah terkepung.

Jam 11.00: Evakuasi jemaat HKBP Filadelfia dilakukan aparat keamanan termasuk Pimpinan Jemaat HKBP Filadelfia keluar dari tempat yang sudah dikepung. Selanjutnya Pimpinan Jemaat di evakuasi jemaat HKBP Filadelfia ke tempat aman karena massa intoleran sudah pernah mengancam beliau untuk dibunuh pada ibadah Minggu 15 April 2012. Rumah Pimpinan Jemaat yang berada di Perumahan Villa Bekasi Indah 2 ditinggal kosong.

Jam 11.30: Di tempat evakuasi Pimpinan Jemaat, para warga jemaat HKBP Filadelfia berdatangan untuk mengetahui kondisi dan pada akhirnya dilokasi tersebut diadakan sharing, evaluasi dan konsolidasi HKBP Filadelfia.

Tambun, 22 April 2012
Pimpinan Jemaat HKBP Filadelfia

Pdt. Palti H Panjaitan

http://regional.kompasiana.com/2012/04/23/penyerangan-terhadap-hkbp-filadefia-salah-satu-bukti-kegagalan-negara-melindungi-minoritas-456815.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s