Ternyata Wakil Tuhan Juga Bisa Lapar


Alkisah ada seorang hakim Indonesia ke luar negeri, katakanlah Australia. Begitu orang sana tahu kalau si orang Indonesia berprofesi sebagai hakim meski cuma di pengadilan negeri biasa. Orang itu langsung dihormati selayaknya seorang hakim di negara tersebut yang mungkin saja profesi hakim di luar negeri memang sangat prestisius dan terhormat. Setidaknya kisah ini yang saya dengar di acara Kabar Petang TVOne yang menghadirkan anggota parlemen Ahmad Yani dan seorang mantan hakim kalau tidak salah namanya Asep. Kemudian ada seorang ketua PN di Ende yang menelpon dan mengadukan perihal kurangnya penghargaan negara dan bangsa Indonesia terhadap para hakim. Intinya di negara ini hakim yang merupakan seorang pejabat yudikatif selayaknya DPR sebagai pejabat legislatif, ternyata tak lebih dari buruh; digenjot dengan ribuan kasus tetapi bergaji rendah serta tunjangan minim.

Kemudian muncul grup dukungan di Facebook, “Lebih baik mogok daripada terima uang sogok.” sementara sebagian masyarakat lain justru sangat menyayangkan sikap para hakim yang mogok. Setidaknya sebelum menuntut hak agar dipenuhi, lakukan dulu tugas dan kewajiban secara bertanggung jawab. Pasalnya banyak sekali ditemui hakim “nakal” yang memang suka pasang tarif dalam tiap putusan. Tetapi masalah gaji para hakim ini, terutama di daerah pelosok tanah air, sudah sepuluh tahun lebih tidak mengalami kenaikan. Sementara kebutuhan hidup dan rumah tangga terus membengkak dari tahun ke tahun. Anak-anak makin tinggi sekolahnya. Tak ayal alasan seperti itulah yang sering dijadikan dalih ketika ada hakim yang menerima uang sogokan.

Namun, seringkali alasan tersebut dianggap justru tidak bisa dijadikan alasan. Sama halnya dengan petuah idealitas akan nilai kejujuran. Banyak orang bilang bahwa bagaimanapun sulitnya kehidupan, kejujuran harus tetap dijunjung. Nilai-nilai moral harus tetap dijaga dan dipraktikkan. Biasanya petuah-petuah itu dibumbui kisah-kisah hikmah. Tetapi mari kita tutup buku sejenak dan melihat realitas hidup yang memang kian menghimpit manusia. Terlebih dengan kondisi ekonomi morat marit. Semua orang berlomba untuk survive. Bisa tergilas kalau cuma mengandalkan gaji bulanan. Maka dari itu banyak hakim yang berprofesi ganda sebagai pedagang. Dari buka warung makanan sampai dagang kasus. Kemudian timbullah istilah mafia peradilan.

Apakah hak atau kewajiban yang harus didahulukan? Kalau mengingat misalnya ucapan presiden Amerika JFK yang kurang lebih mengatakan, “Jangan tanyakan apa yang diberikan negara untukmu, tetapi tanyakan apa yang kau berikan bagi negaramu.” sepertinya pengabdian para hakim yang puluhan tahun itu juga tidak mengurangi makna yang terkandung dalam pernyataan JKF tersebut. Pernah pula kita ingat ucapan SBY yang curhat selama tujuh tahun tidak naik gajinya. Namun, gaji presiden dengan hakim pengadilan negeri pasti jauh. Terlebih apabila dibandingkan dengan letak geografis. Presiden tinggal di Jakarta yang semua kebutuhan dasar manusia dapat dijangkau dengan ongkos murah. Bagaimana dengan hakim-hakim yang tinggal di daerah terpencil dengan harga kebutuhan pokok berkali lipat dari yang ada di ibukota?

Menurut para nara sumber yang sudah saya sebut di atas. Mereka berpendapat lebih baik gaji para hakim dinaikkan, kebutuhan dasarnya dulu dipenuhi. Adapun jika ketahuan hakim itu ngemplang dari kewajiban dan tanggung jawab, barulah dikasih hukuman seberat-beratnya. Namun, pro-kontra selalu mengikuti. Ada pula masyarakat yang menanggapi, “Katanya wakil Tuhan di bumi, tetapi kok masih ngurusi perut.” atau terang-terangan mengkritik, “Hakim mogok? malu dong sama guru yang cuma 200 ribu per bulan.” dan lain sebagainya.

Terlepas dari dialog menarik yang saya saksikan di televisi, saya sih cuma ingin mengomentari soal ungkapan bahwa “Hakim adalah wakil Tuhan di bumi.” Para ulama bisa senewen tuh. Karena di Indonesia ini kan yang ketahuan sering mengklaim wakil Tuhan siapa lagi kalau bukan ulama dan pengikutnya yang sering keluyuran mimbar to mimbar, jalan ke jalan. Kasarannya, “Wilayah ane kok mulai diganggu gugat sama hakim keluaran sistem sekuler, sih.”

Hahaha, Indonesia… Indonesia… saking lucunya bikin muntah.

2 thoughts on “Ternyata Wakil Tuhan Juga Bisa Lapar

  1. Arrays says:

    Para sarjana hukum itu SEHARUSNYA sadar & mengerti saat mereka mau mendaftar calon hakim, bhwa tugas hakim adalah pilihan nurani, pengabdian tulus pd hukum & keadilan bukan s’mata2 profesi mncari uang. Klo emg ga bisa terima gaji sgtu ya sudah mngundurkan diri saja, gak perlu pke mogok segala! Yakin, msh bnyk koq calon2 sarjana yg otaknya masih waras & idealis.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s