Saya Iba Pada Birahi Lelaki


sumber: Esther Wijayanti (Kompasiana)

Rencana Satgas Anti Pornografi yang hendak membuat aturan melarang penggunaan rok mini membuat saya iba pada birahi laki-laki Indonesia, yang mati hidupnya ditentukan oleh panjang pendeknya rok perempuan. Sampai-sampai urusan lemahnya birahi ini harus diurusi oleh satgas bentukan Presiden. Bahkan melibatkan menteri pula. Tragis sekali.

Indonesia, sejak tahun 2005, bertengger di 10 besar pengakses situs porno di dunia. Tidak bergeser dalam 7 tahun. Segala bentuk pelarangan pornografi, baik atas nama budaya, moral maupun agama, nyata-nyatanya tidak membuat masyarakat mati otak untuk tidak berpikir porno. Apakah pelarangan pemerintah, budaya dan agama efektif? Data statistik berbicara. Makin dilarang, makin dicari. Inilah yang saya sebut sebagai: kemunafikan yang memuakkan.

Negara menjadikan perempuan sebagai objek. Dianggap sebagai penyebab segala kejahatan sex di negara ini. Sehingga harus diberangus demi menjaga birahi pria. Bukan otak mesum prianya yang diberangus, tetapi pakaian perempuan yang disalahkan. Apakah berangus-memberangus, satgas-satgasan ini langkah yang benar?

Jika saja kita mau jujur pada diri sendiri, setiap manusia normal, pria, wanita, bujangan, kiai, ustad, pastor, pendeta, pada dasarnya memiliki keinginan dan fantasi sex, secret desires. Keinginan ini adalah anugerah Tuhan kepada setiap manusia. Namun pemahaman bahwa ini adalah anugerah Tuhan, hanya dapat dialami jika level kesadaran kita mencapai satu titik pemahaman, bahwa apa yang diberikan Pencipta kita mempunyai maksud yang indah. Jika anda lupa bahwa sex berasal dari Tuhan untuk tujuan yang baik, maka sesungguhnya anda telah terhipnosis oleh budaya bahwa sex itu kotor, tabu, murahan dan provokatif.

Sex itu penting, karena merupakan sumber kehidupan. Namun, jika hanya diartikan sebagai genital, maka level kesadaran tersebut adalah paling rendah. Sama seperti manusia primitif, yang memperlakukan sex hanya genital.

Sex, sebagai sumber kehidupan, jika ditekan, dilarang-larang, diberangus, ditabukan, maka akan menyebabkan efek yang tidak baik sehingga kita menjadi tidak kreatif. Mengapa? Karena kehidupan itu bersifat kreatif. Manusia hanya menjadi kreatif jika dapat mentransformasikan sex dengan tidak harus menekan energi sex itu sendiri. Jika kita kreatif dengan seluruh totalitas kita, maka kita dapat mentransformasikan sex tanpa dengan harus menekannya, sex yang berada pada level kesadaran terendah tersebut, akan hilang dengan sendirinya.

Oleh karena sex adalah benih dari kehidupan, benih dari kreativitas, maka biarkanlah negara tidak usah terlalu jauh mengatur bagaimana rakyat berpikir. Biarkanlah pemikiran terkait sexualitas tumbuh secara alamiah dan dihargai. Dengan demikian benih kreativitas masyarakat akan tumbuh menjadi kreativitas dalam berbagai dimensi mulai dari seni hingga teknologi.

Perhatikan negara-negara yang tidak ikut campur dalam urusan pakaian maupun segala hal yang menyangkut privasi masyarakatnya. Apakah kejahatan sex tinggi? Tidak. Justru kebalikannya, negara-negara yang memberlakukan secara ketat pakaian perempuan, di situ kekerasan terhadap sex terjadi. Akses internet terhadap pornografi tertinggi.

Apakah dengan tidak membatasi pakaian perempuan, maka masyarakatnya jadi bersikap barbar, mengumbar nafsu sex dimana-mana? Justru tidak. Mereka memperlakukan sex sebagai bagian privasi masing-masing. Yang mau mengumbar ya mengumbar, yang tidak akan tidak mengumbarnya. Namun tidak menjadikan mereka manusia yang liar. Bahkan, sebaliknya, menjadikan mereka manusia yang bertanggung jawab atas dirinya masing-masing.

Negara-negara yang membebaskan masyarakatnya menentukan sendiri pemikiran-pemikiran yang berdampak pada perilaku sehubungan dengan sexualitas mereka, nyata-nyatanya minim kasus perkosaan, dan lebih maju dalam hal budaya, kreativitas, teknologi, kesantunan, dan kemanusiaan.

Bagaimana dengan kita? Negara ini tak ubahnya bagaikan penduduk primitif. Yang memberlakukan sex melulu sebagai genital. Sudah seperti binatang saja. Lihat wanita pakai rok mini langsung birahi. Sehingga daripada birahi dan mengundang kejahatan, maka diberlakukan berbagai peraturan terhadap rok mini. Bahkan, sering kita dapati guyon tentang pria: mana ada kucing disediain ikan tidak mau? Demikianlah masyarakat memperumpamakan dirinya sendiri: kucing dan ikan. Dua-dua nya binatang.

Sampai kapan negara akan memperlakukan masyarakatnya seperti binatang? Ubahlah mindset anda. Kita adalah mahluk mulia. Bukan binatang. Sehingga memperlakukan sex semata hanya urusan syahwat. Bukan anugerah Tuhan, sumber kehidupan. Itulah sebabnya masyarakat kita tidak maju, tidak kreatif, karena level kesadaran kita tetap di bawah. Dan dikondisikan tetap memiliki level kesadaran rendah, sedemikian rupa sehingga penting bagi negara untuk menentukan rok perempuan harus di bawah lutut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s