Negara Plutokrasi Wajar dong Korupsi


1331968014646989352

Demokrasi cuma kedok semata. Tetapi yang berlaku adalah plutokrasi. Negara yang dipimpin oleh para mafia, kalangan elit yang mengangkangi politik negeri ini. Sementara istilah supremasi hukum yang selalu dibanggakan dan diusung sebagai panglima itu hanyalah topeng bagi hukum sejati di negara plutokrasi, yaitu koneksi. Ya, hukum tertinggi adalah koneksi, karenanya negara merupakan manifestasi keserakahan. Kolusi dan nepotisme yang jadi ajang menjalin silaturrahmi. Nasionalisme adalah katebelece konsesi, untuk tambang, hutan, dan laut. Negara diselenggarakan untuk memenuhi hasrat kepentingan para mafia itu. Karena hukum tertinggi adalah koneksi. Jadi masihkah kita teriak anti korupsi kalau itu hanya slogan helloween sebagai selubung yang menyembunyikan siasat jahat mereka. Siapa? Para elit negeri biadab yang mengaku paling beradab.

Kita dipertontonkan dengan tayangan penangkapan koruptor, tetapi kita juga disuguhi drama politik tiada henti dan siaran yang itu-itu saja. Tumbal-tumbal berserakan yang menjadi korban para mafia kakap. Maklum saja, wong mau jadi aparat penegak hukum juga melewati percaloan. Makanya aparat seperti polisi tak ubahnya seperti selebriti yang sekedar cari sensasi. Di jalan raya minta-minta duit mirip pengemis. Menyidik kasus tergantung pesanan atasan. Tapi wajar begitu, namanya juga negara plutokrasi. Hukum tertinggi koneksi. Apapun di negara ini dijalankan dengan sistem koneksi, tidak cuma di ranah hukum, tetapi ke segala bidang. Militer mau beli pesawat harus pakai koneksi, orang sipil mau jadi pegawai negeri lewat koneksi, mau memilih pemimpin pun jalurnya koneksi. Dan setiap koneksi pasti butuh uang, uang, dan uang. Suap, suap, dan suap.

Semua orang yang mau bergelimang kemewahan, prestis, dan keistimewaan berbondong-bondong mendekati lingkaran elit para mafia dengan menjilat pantat dan bermanis muka. Kalau perlu diangkat menjadi bagian dari keluarga. Namun untuk menembus lingkaran elit lagi-lagi harus lewat jaringan koneksi yang pelik. Maka uang demi uang tersalurkan agar akses semakin terbuka lebar dan cepat-cepat merangsek naik untuk mendapat semua tujuan tersebut.

Ya, untuk mencari duit di negara ini nyatanya harus pakai koneksi. Ada uang berarti ada proyek. Dan paling menjijikkan bagi saya kalau lagi makan di warteg, tiba-tiba ada orang yang telponan sambil bicarakan cara agar mendapatkan proyek pemerintah. Padahal tidak seberapa nilainya ketimbang mega proyek yang lebih besar. Pengin saya taplok kepalanya dengan piring. Namun itulah yang terjadi. Demi anak istri di rumah dan dapur mengebul, banyak orang berbondong-bondong cari proyek, menghubungi ke sana kemari dan membangun koneksi agar menang tender. Tidak cuma pengusaha swasta yang sibuk keluar masuk senayan untuk mencari calo anggaran. Tetapi pemerintah daerah pun harus sering bolak balik ke pusat agar dapat jatah anggaran, dan lagi-lagi caranya dengan mencari koneksi serta memberikan uang pelicin.

Contoh sederhana, kalau ada kawan anda yang diterima jadi pegawai negeri, lantas apa yang dikatakan oleh kerabat atau teman lainnya. “Enak banget tuh loe keterima di lahan basah.” See. Itulah Indonesia, negara plutokrasi paling parah di dunia. Gila! Tiada hidup tanpa korupsi di negara ini. Jadi maklumi saja apabila korupsi menjamur di sini. Karena negara ini negara plutokrasi, hukum tertinggi adalah koneksi. Akui sajalah bahwa korupsi adalah budaya bangsa. Tidak perlusok sucidi negara mafia nan munafik ini. Makanya tak jarang apabila banyak rakyat yang mendoakan agar negeri ini cepat-cepat hancur lebur. Segera berkalang tanah dan lumat dimakan ulat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s