Kriminalisasi Komedian


sumber: beritasatu.com

Adel Emam seorang komedian dari Mesir divonis penjara dan denda. Ia dituduh menghina agama dan simbol Islam melalui film dan drama yang ia perankan. Simbol-simbol Islam yang dimaksud: ulama-ulama Islam, jilbab, dan jenggot. Emam dituding menjadikan simbol-simbol ini sebagai bahan lawakan.

Bagi pembela Emam, vonis pengadilan ini dianggap mencederai kebebasan berekspresi. Vonis ini pun menjadi bahan tertawaan karena mengkriminalisasi komedi. Pun hukuman ini dituduh lebih membawa muatan politis ketimbang murni soal penghinaan agama.

Pihak yang melaporkan Adel Emam adalah pihak-pihak yang selama ini menjadi bahan humor dan ledekan dia. Yakni kelompok ”islamis”. Nah dalam Pemilu Legislatif akhir tahun lalu, kelompok ”Islam Politik” ini berhasil memenangkan suara mayoritas. Baik dari kubu Ikhwan Muslimin melalui Partai al-Adalah wa al-Hurriyah (Keadilan dan Kebebasan) atau pun kubu Salafi via Partai al-Nur (Cahaya).

Kini mereka seperti melancarkan serangan balik pada Adel Emam dengan memakai isu agama sebagai senjata.

Adel Emam aktor senior yang kini sudah berusia 72 tahun. Seorang pelawak yang dikenal paling mahir mengocok perut. Ia sangat terkenal di dunia Arab. Film dan pertunjukan teaternya laris manis. Ia disebut-sebut sebagai ikon film dan teater komedi di kawasan asal kurma dan onta.

Film dan teaternya mengangkat isu-isu populer di tengah masyarakat. Salah satunya ekstrimisme keagamaan baik yang berasal dari pemeluk Islam atau Kristen Koptik. Tak hanya cenderung humoris, sering cerita yang dimainkan sangat sinikal.

Tak hanya tokoh-tokoh agama Islam yang kebakaran jenggot gara-gara film-film Emam, ulama Kristen Koptik pun mengalami nasib yang sama. Di samping tokoh-tokoh agama Islam dan Kristen Koptik sama-sama berjenggot panjang dan lebat, soal-soal seperti hipokrasi, intoleransi, hingga kekerasan tak sedikit ditemukan pada pola pikir dan sikap pada tokoh-tokoh kedua agama ini.

Adel Emam menjadi sasaran kemarahan kelompok garis keras Islam setelah merilis film yang berjudul al-Irhabi (Teroris) pada tahun 1994. Film komedi ini menceritakan perjalanan seorang teroris bernama Ali Abd Dhahir yang menggunakan agama sebagai kedok untuk melakukan kekerasan.

Jenggot tebal, baju gamis panjang, khotbah-khotbah kebencian dengan ayat dan hadis sebagai bumbu menjadi menu yang tak terpisahkan dari tokoh itu. Namun nyatanya, motif dia murni mengejar ihwal duniawi dan politik.

Ali Abd Dhahir terlibat kelompok garis keras sebagai pelarian dari kemiskinan yang melilitnya dari kecil. Ali pun menyerang toko-toko yang menjual kaset-kaset video dan tempat-tempat wisata yang dianggapnya sebagai sumber maksiat dan kehancuran moral di Mesir. Tokoh Ali diperankan langsung oleh Adel Emam dengan gayanya yang kocak, dan tentu saja sinis.

Film Adel Emam adalah refleksi dari kondisi sosial politik Mesir yang pada masa itu diserang oleh kelompok-kelompok teroris. Sasaran mereka adalah wisatawan asing dan rezim penguasa. Karena film ini dianggap menguntungkan bagi penguasa kala itu, film ini diputar berulang-ulang di televisi-televisi nasional Mesir yang dikontrol penuh oleh rejim Mubarak.

Adel Emam juga terlibat dalam film ”Hasan dan Markus” yang mengulas kekerasan atas nama Kristen Koptik di Mesir. Karena film ini pula tokoh-tokoh agama Kristen Koptik murka. Dalam film ini Adel Emam berduet dengan Omar Sharif bintang gaek asal Mesir yang bermain dalam beberapa film di Holywood.

Adel Emam memerankan tokoh Kristen bernama Paulus yang aktif melawan kelompok garis keras dalam Kristen Koptik. Setelah ancaman pembunuhan terhadapnya semakin deras, ia pun mengubah namanya menjadi Hasan al-Aththar (nama Islam).

Sementara Omar Sharif dalam film itu menjadi tokoh yang dikejar-kejar kelompok garis keras Islam karena tidak mau diangkat menjadi amir (pemimpin) sebuah jemaah Islam garis keras setelah kematian saudaranya. Ia pun mengubah namanya menjadi Markus Abd Syahid (nama Kristen).

Film ini kocak. Dua orang penganut muslim dan Koptik yang terpaksa berganti nama dan menukar agama karena serangan dan ancaman dari pemeluk asli agama mereka. Film ini pun membawa pesan: mendukung persatuan nasional dari kalangan muslim dan Koptik dan melawan kekerasan yang berasal dari fanatisme pemeluk kedua agama itu.

Dengan vonis pengadilan Adel Emam terancam diseret ke penjara. Hukuman yang bisa dianggap salah sasaran. Benarkah film dan teater yang diperankan oleh Adel Emam yang mengolok-ngolok terorisme, ekstrimisme, dan kekerasan atas nama agama artinya sama dengan menghina agama? Ataukah justru kelompok-kelompok teroris dan garis keras itu yang mempermalukan dan merusak citra agama melalui aksi-aksi mereka? Silakan direnungkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s