Mendingan Semua Patung Dibawa ke Bali


1327846893393821752

Sudah lama saya menyoroti aksi ormas-ormas tukang rubuh patung. Yang terbaru adalah kasus di Pekanbaru. Bosan saya membahas tentang pendapat para ulama yang membolehkan patung asalkan tidak dipergunakan untuk disembah, dan semata untuk estetika belaka. Tetapi whatever, namanya pendapat pasti selalu terdapat perbedaan. Namun di dalam kondisi keragaman yang majemuk seperti di Indonesia, di mana patung bagi pemeluk agama tertentu mengandung nilai transendental dan spiritual semestinya tiap komunitas menghargai hal tersebut, termasuk apabila hanya dijadikan “pajangan” belaka.

Dalam suatu perbincangan tentang beberapa kasus pengrusakan patung di Indonesia, ada kawan saya yang berceletuk, “Mendingan semua patung di Indonesia dibawa ke Bali saja.” mengapa ke Bali? sebab di Indonesia ini, daerah di mana warganya sangat menghargai kesenian memahat patung. Walaupun tidak cuma di Bali, di Papua juga kesenian patung berkembang namun biasanya kalau seniman patung internasional bertanya soal festival patung di Indonesia, ya merujuknya ke Bali.

Warisan sejarah Nusantara pun tak terlepas dari seni patung, namun karena alasan warisan sejarah ini pula seringkali dijadikan dalih bagi para “pembenci patung” untuk menghancurkannya; semisal, “Nabi saja dahulu menghancurkan patung yang sudah menjadi bagian dari kebudayaan masyarakat Arab pra-Islam.” fakta sejarah semacam itu kemudian diadopsi di Indonesia dengan gerakan pembersihan patung yang sangat tidak cocok antara di masa Nabi dahulu dan pada masa kini di Indonesia, dengan mengira semua patung yang ada di Indonesia dibuat untuk disembah atau dianggap berhala dan perilaku tersebut dihukumi sebagai perbuatan musyrik. Entah bagaimana saya menyebutnya, apakah di sini ada pertarungan antara dominasi agama atas budaya atau kompetisi antara agama dan budaya.

Apakah dengan semakin berkembangnya seni patung di Indonesia lantas kita dapat dengan mudah mengatakan, “kita telah kembali ke zaman jahiliyyah?” saya rasa terlalu simplifistik mengatakan seperti itu, demikian pula dengan solusi semua patung dibawa ke Bali. Tetapi bagaimana lagi, seolah terkesan pesimis dengan kedewasaan bangsa ini yang tidak bisa menghargai perbedaan, mungkin memang sudah selayaknya Indonesia ini disekat-sekat sehingga nanti ada orang yang akan bilang begini, “Kalau mau mematung ke Bali aja.” atau “Kalau mau pake hukum cambuk ke Aceh saja.”

Sebenarnya apa sih yang menjadi persoalan daripada pembuatan patung di Pekanbaru? Desas desus terdengar dananya sampai 4 Miliar. Bisa-bisa isunya bergeser merembet pada dugaan korupsi dari yang sebelumnya adalah isu mengenai bahenol atau tidak bahenol. Atau malahan bisa jadi berbagai macam isu sengaja digembar gemborkan, yang penting patung-patung harus dihancurkan.

Kalau sudah demikian, di manakah letak kebhinekaan kita sebagai bangsa? Atau masyarakat sudah jengah dengan slogan kebhinekaan itu sendiri? Entah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s