Anak Kecil Tidak Tahu Kebenaran Tetapi Dicekoki Kebenaran


Judul itu belum selesai. Maksud saya, anak kecil tidak tahu kebenaran akan tetapi mereka hanya menyuarakan hal-hal yang dianggap kebenaran karena hasil dicekoki oleh para orang tua mereka. Bagi saya anak kecil tidak lain dan tidak bukan hanyalah proyeksi idealisme orangtua akan sesuatu hal. Banyak kan orang tua yang mencekoki bayi-bayi yang baru lahir dengan nilai-nilai yang mereka anggap benar, atau mungkin mereka yakini sebagai satu-satunya kebenaran.

“Nak, begini lho yang paling benar.” atau “Yang benar tuh begini bukan begitu.” kata ayah atau ibunya. Setelah dicekoki, kemudian anak-anak kecil itu dipaksa untuk melakukannya meski dalam kondisi tanpa terpaksa. Karena dalam konstruksi sosial ada yang namanya rekayasa sosial. Dalam keadaan terrekayasa sulit menyadari bahwa mereka sedang direkayasa perilaku, pemikiran, pemahaman dan sudut pandangnya.

Sekarang lihat ini:

1327113601258572487

Sejak kecil dia sudah diajari bahwa KAPITALISME itu biadab, meskipun dia tidak kenal siapa itu John Locke, bahkan mungkin orang tuanya juga tidak tahu namun meyakini begitu karena juga korban indoktrinasi. Atau misalkan ini;

13271136881301356413

Memangnya anak-anak kecil itu mengerti arti daripada spanduk dan slogan-slogan yang digenggam di tangannya? Atau mungkin ada anak-anak kecil atau dibawah umur yang sudah dicekoki bahwa lebih baik dipoligami daripada berzina?

1327113785997444027

Atau dicekoki bahwa hanya khilafah-lah satu-satunya sistem paling hebat dan unggul, sedangkan demokrasi, monarki dan sebagainya sama dengan haram?

13271138641825592214

Atau mungkin dilatih mengangkat senjata sambil dicekoki bahwa diri mereka adalah tentara Tuhan sedangkan selain mereka adalah musuh Tuhan?

132711396849487630

Kemudian anak-anak kecil itu tumbuh menjadi dewasa, menjadi baligh, dan bergaul dengan dunia luar selain dari lingkungan atau milieu rumahnya. Di sinilah timbul dilema bagi mereka, apakah tetap memertahankan nilai-nilai hasil indoktrinasi atau pencekokan orang tuanya, ataukah justru berubah dan melawan? Atau mencoba untuk adaptif dan kompromistis antara nilai-nilai dalam keluarganya dan nilai-nilai lain yang dia terima dari luar?

Masalah tambah rumit apabila ternyata para orang tua yang sudah susah payah mencecoki anak-anak mereka dengan hal-hal yang mereka anggap sebagai kebenaran, tiba-tiba merasa terganggu dengan hal-hal lain yang dalam pandangan mereka adalah menyimpang. Biasanya para orang tua tidak punya tenaga untuk menghalau dan bisanya hanya marah serta mengutuk. Lantas apakah sampai sekarang kita masih mencekoki anak kita? Itu semua pilihan, kembali kepada bagaimana cara kita membangun keluarga. Saya hanya ingin membongkar konstruksi sosialnya saja dengan bahasa sederhana.

ps. tiada lagi kata-kata. “anak kecil aja tau mana yang benar.” semua itu produk fabrikasi pencekokan. Selamat Mencekoki!

2 thoughts on “Anak Kecil Tidak Tahu Kebenaran Tetapi Dicekoki Kebenaran

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s