Ada DPO Polisi, Ada DPO Mujahiddin


1326521924980042557

Karena “gerah” dikabarkan terus menerus mengajarkan terorisme, Abu Jibril meluncurkan makalah packaging kuliah umumnya yang bertajuk Mewaspadai Kejahatan Kristen Radikal di Indonesia. Boleh jadi selama ini Abu Jibril cs (Munarman, Rizieq Syihab, Deedat Syihab, dll) makin kepanasan karena melulu disudutkan sebagai blok kalangan radikal dalam komunitas muslim. Bahkan tak jarang ada yang menghujat mereka sebagai oknum pencoreng wajah umat Islam Indonesia. Seringnya dianggap sebagai setitik nila yang merusak susu sebelanga, justru membuat mereka kian getol melakukan perlawanan.

“Lu nyerang gua radikal. Gua serang balik elu radikal.” kasarnya begitu. Bahkan saya menemukan istilah lama yang dulu sering saya dengar, yakni demonologi. Istilah ini jadi rancu, karena kalau kita bicara soal sejarah agama-agama dan ajaran-ajaran teologis, demonologi digunakan sebagai ilmu untuk memelajari seputar kepercayaan, ajaran, doktrin, yang berkisar tentang setan dalam literatur-literatur mitologi, cerita rakyat dan sebagainya. Namun yang dimaksud dengan demonologi dalam pengertian demonologi Islam yang kerap dilontarkan oleh mereka, sederhananya adalah pencitraan negatif tentang Islam dan para pejuangnya, melalui penjulukan-penjulukan “fundamentalisme Islam” (Islamic Fundamentalism), “terorisme Islam” (Islamic Terrorism), dan “bom Islam” (Islamic Bomb), yang dipopulerkan media massa. Label dan istilah seperti itu diklaim sebagai strategi Barat dalam meruntuhkan Islam. Karena itu mereka menyerang balik kaum Kristen radikal yang dianggap sebagai dalang di balik semua pelabelan tersebut.

Berbagai situs di Internet dibuat untuk melakukan counter attack, demikian pula ceramah-ceramah dan pengajian yang isinya menyebarkan keyakinan mereka tentang perang dengan mengatasnamakan Tuhan, ayat Tuhan, ajaran agama, dan semacamnya. Termasuk dengan membuat DPO alias Daftar Pencarian Orang yang sedang dicari-cari oleh para mujahidin di Indonesia. Begitulah setidaknya menurut Munarman, bahwa orang yang paling berbahaya bagi para mujahidin Indonesia adalah Gories Mere. Gories Mere adalah daftar DPO nomer satu bagi mujahidin ujarnya.

“Jadi permainan-permainan ini sudah biasa, dan otak utamanya proyek-proyek ini sekarang adalah Gories Mere seorang polisi Nashara (Kristiani). Saya kira kalau polisi punya daftar DPO maka seharusnya mujahidin juga punya daftar DPO. The Most Wanted of Mujahidin  adalah Gories Mere,”

Munarman juga menjelaskan posisi dan peta di tubuh densus 88, khususnya peranan Gories Mere dalam memusuhi Islam dan kaum Muslimin.

“Di dalam Densus itu sebenarnya ada unit yang diistimewakan betul daripada unit lainnya, yaitu unit Tim Anti Bom. Tim Anti Bom ini dikomandani langsung oleh Gories Mere. Kuncinya itu merekrut polisi-polisi Kristen dan polisi-polisi kafir lainnya,”

Dikarenakan peranan dan kebencian Gories Mere yang begitu besar dalam memusuhi mujahidin, maka Munarman menjadikan mantan Kadensus ini sebagai DPO nomer satu bagi mujahidin. Pernyataan Munarman ini diamini oleh Habib Rizieq Syihab, Ketua Umum Front Pembela Islam (FPI), yang menjadi pembicara berikutnya. Menurut beliau, jika mujahidin ingin menyusun daftar list DPO terhadap orang-orang yang berbahaya bagi Islam, maka daftar list itu harus disusun oleh ulama yang berkompeten berdasarkan dalil-dalil Al Qur’an dan Sunnah.

“Saya sepakat dengan Pak Munarman. Para mujahidin itu saat ini seharusnya sudah membuat daftar list. Siapa sih sebetulnya musuh-musuh Islam? Siapa sih sebetulnya orang-orang yang darahnya untuk ditumpahkan? Siapa sih orang-orang yang harus dihabisi? Tapi tentunya kita tidak sembarangan membuat daftar itu, sesui dengan dalil-dalil Al-Qur’an maupun As-Sunnah,”

Jadi jelas sekarang bahwa semua permusuhan yang terjadi dalam sejarah umat manusia memang sengaja dibuat oleh para aktornya sendiri. Sementara yang menjadi sorotan saya adalah konflik antar/intra umat beragama, mungkin ada pula yang menyoroti konflik antar ras, suku, sampai antar negara. Tetapi balik lagi ke persoalan ormas-ormas radikal yang memang sulit diatur aparat atau bahkan dipelihara negara. Konstruksi sosial politiknya bisa dilacak dan sangat jelas, apalagi ada yang berpendapat bahwa mereka cari makan memang dari aksi-aksi radikal di jalanan. Sungguh saya tidak habis pikir, hanya karena atas nama agama maka orang-orang Indonesia rela membuat daftar permusuhan sesama saudara sebangsa. Dan mungkin kita (terpaksa) sepakat bahwa sampai kapan pun perang antar agama takkan pernah berakhir, hanya kemasannya saja yang berbeda. Sedangkan kita hanya menurut dan mau digiring ke dalam situasi semacam ini tanpa bertindak dan berkehendak serta memutuskan sendiri bahwa perang ini harus berhenti.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s