Emangnya Sastrawan Masih Jaman?


Kok sastrawan doang, sastrawatinya mana? Maksudnya sastrawan di sini berarti mencakup sastrawati juga. Seperti kata Arab “Muslim yang sering dipakai untuk mewakili kata muslim (umat Islam lelaki) dan muslimah (umat Islam perempuan). Maklumlah, kita kan menganut sistem patriarkal jadi cukup dengan menggunakan kata sastrawan. Nah, sekarang mari kita bahas soal sastrawan. Pertanyaan awalnya adalah, sastrawan itu apaan sih?

Katanya di Indonesia pernah ada paus sastra. Orang-orang memanggil namanya H.B. Jassin. Beliau ibarat seorang sastrawan yang memegang otoritas kesusasteraan di Indonesia. Tetapi era-nya pak Jassin sudah berakhir alias tempoe doeloe bin jadul. Lalu bagaimana di jaman sekarang?

Apakah sastrawan itu orang yang belajar di fakultas sastra?

Kalau menurut saya pribadi sih, yang ada di jaman sekarang adalah Penulis cerita atau Penulis puisi. Kalau mau disingkat ya Penulis sastra, bukan sastrawan.

Sastrawan itu ya Penulis Sastra. Mosok sih?

Lantas mereka yang kuliah di jurusan sastra bisa dibilang sastrawan?

Hasil ubek-ubek google daripada harus obrak-abrik rak buku hanya untuk menulis beginian, yang namanya sastra berarti seni, ungkapan spontan dari perasaan yang mendalam,  ekspresi pikiran dalam bahasa, inspirasi kehidupan yang dimateraikan dalam sebuah bentuk keindahan, semua buku yang memuat perasaan kemanusiaan yang benar dan kebenaran moral dengan sentuhan kesucian, keluasan pandangan dan bentuk yang memesona. Jadi yang disebut sastrawan adalah seseorang yang mengetahui, menguasai, dan mempraktikkan semua hal yang tercakup dalam definisi sastra itu?

Apakah sastra sedemikian penting bagi kehidupan? kalau jaman perjoeangan doeloe sih mungkin. Karena di dalam sejarah sastra Indonesia pernah ada pertarungan kubu para penyastra. Dengan kalimat lain, dulu itu sastra penting karena dibawa ke ranah politik. Tetapi sekarang ini sastra cuma lalu lalang begitu saja. Orang-orang lebih mementingkan belajar agama daripada belajar sastra. Apalagi sastra Indonesia, memangnya fakultas-fakultas sastra Indonesia masih banyak peminatnya?

Masihlah!

Baiklah, katakan saja masih banyak peminatnya. Tetapi kalau di kampus saya yang berbau agama, sastra Indonesia sama sekali tidak laku dan berganti dengan sastra Arab. Saya heran melihat kawan saya sampai tingkat pascasarjana memelajari sastra Arab ketimbang sastra Indonesia. Kalau ditanya soal sastra Arab pun belum tentu menguasai sepenuhnya ilmu kesusasteraan Arab yang jelimet; ada nahwu, sharaf, balaghah, ditambah sejarah sastra Arab. Sampai-sampai dia harus meneliti sastra Arab dari masa Pra-Islam. Kalau ditanya, “Untuk apa kamu belajar sastra Arab?”

Untuk mengetahui sya’ir-sya’ir bangsa Arab atau paling tidak bisa mengkaji corak kesusasteraan al-Qur’an. See! Ujung-ujungnya lari ke agama, ke pondasi awal dari bangunan suatu agama yaitu kitab suci. Lalu apa yang bisa dibuktikan dari kajian sastra terhadap al-Qur’an. Syukur kalau masih sama dengan arus mainstream, kalau berbeda dengan para mufassir yang sudah eksis dari jaman klasik seolah paling otoritatif, bisa-bisa kena damprat dan hujat. Sastra tidak pernah dapat tempat signifikan dan mapan dalam tradisi keilmuan Islam.  Karena yang utama adalah Fiqih, tafsir dan hadis. Makanya banyak orang yang didaulat sebagai sastrawan Timur Tengah di abad modern sering kali mendapat ancaman pembunuhan karena coba menyastrakan sumber ajaran agama.

Kawan saya yang belajar sastra Arab itu ketika ditanya, “Apa kamu merasa dirimu sastrawan?” pasti jawabannya tidak. Mengkaji puisi Arab bisa tetapi membikin puisi Arab tidak bisa. Masih mending mahasiswa-mahasiswa sastra Indonesia yang bisa membikin puisi berbahasa Indonesia, walaupun mereka tidak mau mengaku sebagai sastrawan atau masih malu-malu mengakui kesusasteraan diri atau tulisan mereka sendiri. Dan kalau para mahasiswa sastra Indonesia itu lulus dari bangku perkuliahan, apakah mereka akan menahbiskan diri sebagai sastrawan dan bergerak di bidang sastra atau malah menjadi guru bahasa Indonesia?

Semisal adik perempuan saya yang lulusan sastra Inggris di Universitas terkemuka di Jakarta. Ketika lulus kuliah dia malah jadi guru bahasa Inggris walaupun aktif di kegiatan sastra sewaktu masih kuliah. Kalau ditanya soal teori lekas dijawab, “Aduh, lupa lagi, itu kan dulu pas di kuliah.” padahal saya cuma tanya misal tentang teori mimesis-nya Plato. Ini menandakan bahwa ternyata ada realita yang lebih pelik yang harus dihadapi di luar dunia perkuliahan ketimbang saat masih di dalam. Artinya, menjadi sastrawan bukanlah cita-cita setiap lulusan SMA yang masuk fakultas sastra.

Oke, anggap saja para penyair, novelis, cerpenis adalah sastrawan. Apalagi jika buku karya mereka sudah best-seller. Tidak perlu kita bedakan apakah karya mereka populer atau non-populer, pasaran atau estetik. Sekarang kita tanya balik, “Apakah mereka sastrawan?” Lagi-lagi jawabannya bisa ya dan tidak, tergantung selera. Sekarang mari kita sangkut pautkan dengan sastra populer dan sastra tinggi dalam konteks menghasilkan suatu karya. Kira-kira mengikuti minat pasar, mana yang lebih diinginkan oleh penerbit buku, sastra populer atau non-populer? Tentu semua orang boleh berdalih bahwa menulis novel, kumpulan cerpen atau puisi adalah semata berkarya. Adapun uang hanya efek samping dari hasil karya kita. Namun dalih seperti itu hanya ucapan klise saja. Kalau mau novelnya populer, si pengarang gampang saja tinggal contoh resep penulisan best seller. Toh, banyak workshop penulisan buku menawarkan tips, ramuan, dan resep suatu karya menjadi best seller. Tetapi apakah karya mereka layak disebut karya sastra atau bukan? lagi-lagi jawabannya bisa ya dan tidak tergantung selera.

Kriteria apa yang bisa menunjukkan seseorang dapat disebut sebagai seorang sastrawan. Semua orang bisa menulis atau sebutlah membuat sebuah karya yang layak dibaca. Tapi sekali lagi, karya yang layak dibaca oleh siapa? Oleh seorang guru atau sebutlah mereka yang mengerti teori, atau sekedar orang awam yang merasa terhibur membaca karya itu. Sebut sajalah sebuah tulisan yang tak terlalu bagus dalam ukuran teori namun dapat membuat pembacanya, yang dalam hal ini adalah orang yang tidak mengerti teori, benar-benar terhibur dan senang akan tulisan yang dibacanya. Dibandingkan dengan tulisan seseorang yang mengerti teori meski belum sepenuhnya, dan berusaha menerapkannya, namun tulisan itu hanya bisa dimengerti oleh mereka yang mengerti teori. Sedangkan orang awam yang katanya tidak mengerti teori hanya bisa mengerutkan kening, dan malah menimbulkan kesan enggan membaca karena kesulitan dalam memahami rangkaian kalimat yang terdapat dalam tulisan itu. Terlalu banyak estetika malah bikin yang awam jengah. Jangankan yang awam, editor buku pun terkadang merasa ingin muntah.

Lalu kalau sudah begini, masihkah sekarang ada yang namanya sastrawan? Atau seperti yang saya bilang di atas, yang ada hanya penulis saja; seperti penulis novel ya novelis, bukan sastrawan.

———————————————————

ps. dialog sastrawan muda dan sang ayah.

Anak: “Yah, saya mau jadi novelis.”

Ayah: “Apaan tuh?”

Anak: “Penulis novel.”

Ayah: “Gajinya berapa?”

Anak: “Bukan digaji, tapi nulis buku terus dijual.”

Ayah: “Oh, jualan. Berarti dagang toh. Kalau dagang ya boleh, kan jelas halalnya.”

Anak: *tepuk jidat*

2 thoughts on “Emangnya Sastrawan Masih Jaman?

  1. Hhhmmm … bagi aisya, seorg sasterawan yg berjiwa sastera, hidup, nafas & setiap nadinya ialah sastera. Dia blh mengkritik, membahas & tahu apa yg dibicrakan. Tdk takut jika di caci atau diludah krn baginya sastera itu filosofi hidupnya yg tdk mungkin dia ingkari …
    Ni pandangan aisya la.

    Dan aisya lebih suka mengatakan yg aisya ialah ‘poetess’, pujangga puisi & sajak :))

    • situ bukan orang indonesia ya?

      terima kasih masukannya. Tetapi kalau menurut saya di jaman sekarang apalagi dalam konteks Indonesia, boleh jadi sudah tidak ada yang namanya sastrawan. Yang ada hanya novelist, story teller, bla bla bla semacamnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s