Konflik Sunni-Syi’ah Timur Tengah Dibawa ke Indonesia


13252613992054086072

Mengagetkan mendengar kabar pembakaran terhadap pesantren Syi’ah di Sampang Madura. Patut diketahui sebelumnya bahwa konflik Sunni-Syi’ah adalah konflik yang sudah bertahan ratusan abad dan mengiringi perjalanan konstruksi ortodoksi Islam, baik untuk Sunni, Syi’ah, maupun aliran teologis serta politik lainnya di dalam komunitas muslim. Entah mengapa konflik ini sengaja dipelihara dari tahun ke tahun bahkan sampai pula ke Indonesia. Di era Orde baru pun pemerintah melalui instrumen agamanya yakni MUI pernah mengeluarkan fatwa tentang Syi’ah yang berujung pada himbauan agar masyarakat “harus” menaruh curiga terhadap eksistensi Syi’ah. Bahkan Kementrian agama juga merilis daftar penyimpangan Syi’ah dari arus mainstream yakni Sunni.

Dalam menanggapi pemberitaan tentang pembakaran pesantren Syi’ah berbagai reaksi bermunculan termasuk wacana transmigrasi bagi pengikut syi’ah. Jadi demi eksistensi, maka yang marginal terpaksa harus direlokasi. Apakah langkah tersebut sudah tepat? Namun yang paling menjadi pertanyaan pokok adalah adanya ketakutan pada level akar rumput. Ketakutan bahwa apa yang sudah mapan kemudian digugat oleh eksistensi kelompok lain yang berbeda. Tetapi karena tak sanggup menerima dengan dialog maka yang muncul adalah sikap reaksioner dengan alasan penyebaran aliran.

Beberapa hari lalu kita mendengar berita terbaru dari Timur Tengah tepatnya di Yaman yang melibatkan tewasnya dua orang WNI akibat serangan pemberontak Syi’ah. Entah apakah kabar tersebut bisa dikonfirmasi kebenarannya bahwa pelaku penyerangan itu dari kalangan Syi’ah atau bukan, tetapi jelas konflik antara Sunni-Syi’ah ini sengaja diungkit kembali di era modern. Sebenarnya sulit juga mengaitkan antara apa yang terjadi di Timur Tengah dengan di negeri ini, namun umat Islam di Indonesia tak bisa dilepaskan dari tradisi besar-nya yang ada di Timur Tengah. Dengan media informasi semakin terbuka maka setiap informasi akan mudah disebarkan baik melalui lisan dan cara-cara tradisional maupun melalui teknologi seperti internet. Apalagi ditambah bumbu manis surgawi membela kebenaran dan membasmi kesesatan. Tambah semarak lagi yang namanya konflik antar/intra umat beragama.

Yang patut disayangkan adalah konflik antar atau intra umat beragama di Indonesia kerap sekali berujung pada aksi kekerasan. Mengapa? sampai sekarang pun saya tak pernah mendapat jawaban pasti karena yang ada hanya spekulasi dan penyelesaian yang tidak tuntas. Lalu pasca konflik tersebut pertanyaannya adalah apakah umat Islam di Indonesia harus menerima konflik impor yang sudah berlangsung sejak ratusan abad lalu? Sebagai saudara sebangsa dan setanah air, dapatkah kita memandang bahwa mereka juga saudara-saudara kita? Apakah nurani kita telah dibutakan oleh agama jika ternyata agama memang bisa membutakan kita. Atau lagi-lagi peristiwa ini hanya pengalihan isu dan sengaja dipelihara oleh elit-elit yang punya sejuta kepentingan politik?

Indonesia, Indonesia, se-barbar itukah bangsa ini?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s