Mereka yang Natalan, Kita yang Ribut


Sabtu shubuh tanggal 24 Desember, tayangan pengajian bergentayangan di televisi. Ramai-ramai sibuk membicarakan tema yang menyerempet soal Natal. Ada yang membahas surat al-Ikhlas, ada yang terang-terangan mengulas soal ucapan selamat Natal dan menghadiri perayaan Natal. Tidak cuma di televisi tetapi di internet pun sama. Berulangkali larangan dan ulasan mengenai natal diposting dari tahun ke tahun yang isinya itu-itu saja.

Woi para pendakwah. kalian ini orang Islam. Tetapi Umat lain yang natalan mengapa kalian yang ribut. Dari tahun ke tahun umat Islam juga bisa baca tulisan atau mendengarkan ceramah kalin tentang larangan menghadiri perayaan natal dan sebagainya. Apalagi sampai membahas soal Nabi Isa segala. Terserah orang Kristen-lah mau percaya Isa itu TUhan atau bukan. Karena itu doktrin keimanan mereka. Mengapa kalian ikut campur atas doktrin ajaran agama lain.

Biasanya dalil apologetis mereka adalah dalam rangka saling menasehati antar umat Islam dan menjaga dari bahaya-bahaya yang dapat merusak akidah. Tetapi kok juntrungannya malah mengutak-atik ajaran agama lain sampai ke hal-hal periferal dan aksesoris seperti membahas soal sinterklas, sejarah pohon natal, atau menggurui orang Kristen soal tanggal 25 desember dan mitos-mitos di belakangnya.

Orang Islam selalu bangga dengan Kristologi yang lebih tepat dibilang ilmu melucuti Kristen. Tetapi ketika deretan orientalis melakukan hal serupa, menelanjangi Islam, reaksi spontan muncul berikut segala macam tudingan, “Misionaris Kristen, gerakan pemurtadan, penodaan agama.” Padahal orang Islam yang ngomong Yesus bukan Tuhan dan koar-koar di televisi juga bisa dibilang penodaan agama. Mereka bukan orang Kristen, tidak mengimani sebagaimana iman Kristiani. Eh, tiba-tiba datang sembari merinci kesesatan orang Kristen. Kalau bukan namanya penodaan agama, ya bikin rusuh. Akhirnya saling klaim siapa yang menodai agama. Semestinya poinnya adalah bagaimana menghargai dan menghormati agama serta keimanan orang lain yang berbeda. Itu saja.

Toh tetap saja banyak orang Islam yang punya sahabat atau anggota keluarga besarnya ada yang beragama Kristen, lantas mereka mengucapkan selamat sebagai tanda menghormati dan menghargai agama lain. Ikut makan-makan, mengadakan acara kumpul keluarga sebagaimana di hari Idul Fitri. Tradisi begini bukan cuma ada di Indonesia, tetapi di Timur Tengah dan Eropa atau Amerika. Meski berbeda agama tetapi tetap rukun dan menghargai serta menghormati perbedaan tersebut tanpa perlu ada gunjingan dan omongan macam-macam di belakang. Jelas bahwa bagimu agamamu dan bagiku agamaku benar-benar dipraktikkan. Tetapi mengapa di Indonesia ini kok muncul kelompok-kelompok yang masih saja “usil” atas nama dakwah dan penjaga akidah. Jualan  usang namun sengaja diulang biar marketable sampai akhir zaman.

2 thoughts on “Mereka yang Natalan, Kita yang Ribut

  1. Kalau yang membahas itu bukan orang Kristen berarti aman bro, tapi kalau yang mempermasalahkan Natal itu orang Kristen, bah… bahaya, kalau cuma mereka-mereka itu udah lama kok kayak gitu sebelum kita lahir. So, apa yang bikin kita kawatir?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s