Sastra Bukan Helm


13232401661131585453

Selang elpiji dan wadah gasnya harus distandarisasi oleh negara, begitu pun pengusaha helm juga harus membuat produk yang mesti disesuaikan dengan SNI. Karena zamannya pada sibuk men-standarisasi, eh dunia sastra pun ikut pula distandarisasi. Biasanya yang mengajukan standarisasi sastra, siapalagi kalau bukan kalangan sok moralis. Saya heran mengapa sastra harus distandarisasi. Kalau kita mau melacak jejaknya sejak zaman baheula, sebenarnya sudah ada waktu era kerajaan-kerajaan atau suku-suku. Ada yang namanya penyair istana dan jelata. Penyair istana digunakan sebagai justifikasi dan legitimasi program-progam istana. Dalam masyarakat kesukuan juga sama, ada penyair suku dan ada pula penyair dari kalangan orang-orang yang terbuang dari suku.

Di era modern ini standarisasi sastra sengaja diserukan oleh kelompok mainstream yang biasanya dari kalangan sok moralis. Sehingga jenis sastra yang dipandang tidak bermoral harus segera dibumi hanguskan. Emangnya sastra kaya helm. Sebagai produk masyarakat sastra seringkali dijadikan alat bagi kepentingan politis tiap kelompok dan golongan yang ada di dalam masyarakat. Karena di dalam masyarakat selalu ada kelompok dominan dan marjinal. Tambah runyam lagi apabila sastra digunakan alat kekuasaan oleh negara untuk menekan kelompok-kelompok yang dianggap pembangkang atau subversif. Polemik sastra di Indonesia bukan hal baru, dahulu pernah ada pertentangan antara gap Manikebu dan gap Sosialis ala Lekra. Tetapi lihat saja jejaknya sekarang ini, siapa yang berkuasa di kalangan jagad kesusasteraan Indonesia. Pihak mana yang menang, maka merekalah yang akan menentukan standarisasi sastra itu sehingga menjadi sebuah acuan mainstream dalam bersastra.

Okelah, tidak tepat rasanya jika saya langsung menohok kalangan sok moralis, karena perdebatannya adalah siapa yang dominan dan siapa yang marjinal. Akan tetapi kalau kita lihat fenomena sastra di Indonesia belakangan ini, justru yang dominan adalah sastra populer yang isinya cuma mengulang-ngulang moralitas dan inspirasi dengan kemasan termodifikasi dan setting variatif. Itu saja, tidak lebih. Contoh gamblangnya, ketika Laskar Pelangi terbit, berapa banyak karya serupa yang mengekor. Atau ketika demam Ayat-Ayat Cinta, berapa banyak novel yang juga menggunakan resep umbaran kata cinta yang menggandeng unsur agama? jawabannya adalah bejibun. Tetapi siapa yang mau membuat karya sastra berbobot seperti Pramoedya kecuali wajah-wajah lama. Sementara anak muda takut dibilang, “Sok nyastra lo.”

Akhirnya penulis muda yang timbul hanya ikut standar novel best seller mainstream. Kalau pun ada yang berbeda bisa dihitung jari. Contohnya seperti Es Ito dengan Negara Kelima dan Rahasia Meedee, atau Ayu Utami dengan Bilangan Fu-nya. Dan selebihnya adalah novel-novel terjemahan yang justru membanjiri dunia kesusasteraan Indonesia. Novel terjemahan bukannya tidak menarik, banyak sebenarnya novel terjemahan yang menarik. Tetapi saking kebanjirannya dunia sastra Indonesia dengan novel terjemahan, akhirnya terbentuklah mindset dalam diri bangsa ini bahwa sastra hanya sekedar coretan fiksi. Lalu perdebatannya sengaja diarahkan antara fiksi kacangan dan fiksi tinggi, antara yang murni estetika dan pasaran. Dan akhirnya lagi-lagi kita tak dapat apa-apa dari yang namanya sastra selain strategi penjualan untuk meraup uang secara instan. Terus terang fenomena ini membikin saya jengah. Kalau diibaratkan sastra adalah manusia, maka adanya standarisasi berarti telah mereduksi sastra menjadi manusia satu dimensi. Dan akhirnya mati, atau sekarat, atau cuma yang itu-itu saja. Beberapa kalangan mencoba menggaungkan kembali deru sastra pembebasan. Tetapi yang ada hanya pendar-pendar cahaya, kadang berpijar terang kadang temaram. Jika dunia sastra terus dibeginikan, yang ada adalah penulis tak ubahnya penjual helm belaka.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s