Alhamdulillah Jembatan Kukar Runtuh


Mari kita gunakan filosofi klise yang diterapkan oleh para ahli hikmah dalam memandang runtuhnya Jembatan Kukar, bahwa selalu ada hikmah di balik tiap peristiwa. klise banget kan rangkaian kalimat ini–kalau nggak bisa dibilang norak. Tetapi justru sangat berguna untuk meredam konflik. Ya, sebelum riuh berita tentang korupsi dalam hal pendanaan, lebih dulu dihembuskan angin sejuk berupa kata-kata hikmah. Padahal kalau kita pikirkan, bagaimana bisa Jembatan yang katanya apabila dibangun dengan hitungan kurs rupiah sekarang bisa sampai menelan dana 300 milyar rupiah itu, malah runtuh setelah beroperasi selama sepuluh tahun. Bahkan kalah kokoh dibandingkan jembatan buatan penjajah Belanda yang usianya bisa mencapai seratus tahun. Okelah mungkin kita bisa berdalih di balik kecanggihan teknologi tiap negara yang berbeda. Tetapi tanyakan sendiri seberapa rasional alasan itu disematkan untuk mewajari runtuhnya Jembatan Kukar.

Mungkin kita terlalu alergi dengan yang namanya rasionalitas. Mengapa bisa alergi? karena kalau kita bicara rasionalitas berarti kita bicara soal hal-hal yang positiv, dalam artian positivistik, berarti kita dihadapkan sesuatu yang hanya normatif belaka, seperti undang-undang, peraturan, prosedur, mekanisme, teknis, dan sebagainya. Maka dari itu lebih baik kita pakai saja konsep rasional-rasional-an ala para ahli hikmah. Sekali lagi saya ulangi mantra ampuhnya, “selalu ada hikmah di balik tiap peristiwa.” sekarang mari kita ibaratkan seperti kejadian bom bali yang mana hikmah setelah kejadian tersebut telah membuat saya, anda, dia, mereka, warga negara Indonesia dan pemerintahnya semakin waspada atas bahaya terorisme. Bahkan alarm-nya dibunyikan sedemikian nyaring sampai bikin nyaris paranoid. Namun lagi-lagi sangat berhasil meredam konflik, daripada terus-terusan sesama warga saling berseteru, lebih baik memerkuat kembali kerukunan antar umat beragama dan etnis yang kian longgar. Demikian pula pelajaran hikmah model begini bisa kita terapkan dalam peristiwa runtuhnya Jembatan Kukar.

Mirip model pendekatan ganti mengganti atau tukar menukar kata dengan kata lainnya yang berjenis sama. Bom Bali diganti Runtuhnya Jembatan Kukar. Kemudian dicari hikmah apa dibaliknya. Karena hikmah bagaikan hakikat makna yang tersembunyi di balik teks, ibarat pelajaran berharga yang dapat dipetik dari setiap peristiwa, entah suka atau duka. Jadi hikmah dari runtuhnya Jembatan Kukar bisa jadi kita semakin mewaspadai pembangunan-pembangunan infrastruktur bagi publik, serta mau lebih perduli untuk merawat yang namanya fasilitas umum. Karena fasilitas umum berarti sarana publik yang digunakan bersama-sama sehingga secara langsung atau tidak langsung membebani kita dengan tanggung jawab menjaganya.

Bukankah lebih baik begitu, setiap persoalan selalu ditanggapi dengan cara pandang ahli hikmah, maka tak ada yang perlu disalahkan karena pengalaman adalah guru terbesar, sekalipun sering kali pengalaman dibuat berdasarkan keputusan yang bodoh. Tetapi pengalaman tetap guru terbesar, dan tidak ada salahnya cara ini patut dicoba agar tidak akan ada hingar bingar soal penegakkan hukum yang carut marut, serta berita mengenai konflik kepentingan di antara elit politik yang berlarut-larut. Karena semua dihadapi dengan cara mengambil hikmah di balik peristiwa. Setiap kasus hukum akan memberikan pelajaran berharga yang ke depannya dimungkinkan penanganan yang jauh lebih baik. Kalau pun tidak kunjung membaik, masih tetap ada hikmah di baliknya, yakni agar kita selalu bersabar menghadapi segala ujian dan cobaan Tuhan. Bukankah lebih indah demikian?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s