Berkaca Pada Kepribadian Otoritarianisme


Adorno, seorang filsuf dari generasi kritis pertama yang sering dibilang angkatan pertama neo-marxis, pernah kebingungan dan keheranan. Dia tak habis pikir mengapa bisa bangsa Jerman yang dijejali oleh para filsuf besar, tetapi gampang sekali dipengaruhi dan manut seperti kerbau dicucuk hidungnya oleh orang gila bernama Hitler. Dahulu ilmu pengetahuan (apakah sains, art, sastra, dll) tidak pernah terlepas dari filsafat, dunia di mana filsafat masih dijadikan sebagai pohon pengetahuan dan tidak dipreteli seperti sekarang. Sebut saja dari era Immanuel Kant, Nitzsche, Karl Marx, Weber sampai era Max Planc, Albert Einstein, dan masih banyak sederet jajaran ilmuan-ilmuan tersohor yang lahir, menetap atau paling tidak pernah bercokol di Jerman. Adalah rentetan atau mata rantai bagaimana tradisi filsafat begitu menguat di Jerman. Namun ketika Hitler berkuasa, mereka seolah sami’na wa atho’na, Hitler befiehlt wir gehorchen, kalau Hitler sudah memerintah kita tinggal mematuhi saja.

Kebingungan Adorno membawanya pada penelitian bahwa ada gejala akut yang sesungguhnya diderita oleh orang-orang yang menaati penguasa tiran dan otoriter. Gejala itu disebabkan oleh adanya kepribadian otoritarianisme, yaitu kepribadian yang dengan mudahnya tunduk pada otoritas. Ditandai oleh labilnya kondisi psikis dan malas berpikir. Daripada berpikir macam-macam, lebih baik tunduk, patuh, dan laksanakan perintah pemegang otoritas. Meskipun seseorang itu jeniusnya seperti dewa, akan tetapi jika mempunyai kepribadian otoritarianisme, justru akan sangat adaptif terhadap rezim otoriter. Kepribadian otoritarianisme menimbulkan sikap adaptif, dan sikap adaptif membuat mereka survive. Ciri lain dari pemilik kepribadian ini adalah rigidity in viewing, artinya cara pandang yang rigid, sehingga kalau melihat dunia hanya hitam-putih belaka, yang berbeda dari dirinya berarti salah semua. Kemudian ciri berikutnya adalah loyalitas terhadap nilai-nilai tradisional yang radikal.

Dalam keber-agamaan (religiosity) juga ada kepribadian-kepribadian semacam ini. Kalau mau dianalisa bisa dengan melihat praktik-praktik keber-agamaan yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Orang-orang yang memiliki kepribadian otoritarianisme, selalu menggunakan cara pandang oposisi biner keliru-benar, hitam-putih, buruk-baik, kami benar dan kalian keliru. Itulah kacamata yang digunakan.Padahal sering kan kita dengar pendakwah-pendakwah yang menyampaikan bahwa ijtihad dapat menghasilkan kebenaran atau kekeliruan, kalau benar berarti dapat dua pahala dan kalau salah dapat satu pahala. Ada pula yang mengatakan bahwa setiap kita menyampaikan kebenaran, tetapi dalam kebenaran itu ada kekeliruannya. Dan di dalam kekeliruan ada kebenarannya. Artinya di sini adalah bahwa kita tidak bisa memandang perilaku keagamaan dengan cara pandang oposisi biner tersebut.

Kepribadian otorianisme juga ditandai dengan etnosentrisme, kesetiaan yang berlebihan kepada kelompoknya, dan menganggap yang di luar kelompoknya berada dalam kekeliruan, kesesatan, kekafiran, dan sebagainya. Seperti Hitler yang terlalu memuja rambut pirang, kulit putih, dan mata biru ras aryan. Sama pula dengan orang-orang yang menganggap kelompok keagamaannya beragama paling benar. Orang-orang yang menganut agama dengan kepribadian otoritarianisme itu, keber-agamaannya disebut oleh Adorno sebagai neutralized religion, atau keberagamaan yang dinetralisir. Mereka biasanya menganut agama untuk memeroleh keuntungan praktis, atau menggunakan agama untuk memanipulasi orang lain. Semisal untuk menunjang harga dirinya, status sosialnya, ekonominya, dan sebagainya. Sekalipun apabila secara sosial mereka berada di dalam strata kelas terendah, maka mereka akan tetap bertahan dengan sikap militan disebabkan apa yang mereka taati dan jalankan berasal dari sang pemilik otoritas. Dengan berpemahaman demikian, mereka akan terus merasa bahwa mereka itulah individu-individu paling benar, pilihan, juru selamat, penghuni surga, dll.

Sekarang lihat sendiri dalam masyarakat kita, dalam bangsa Indonesia ini, ada tidak yang demikian? Jawabannya sih menurut saya banyak, bahkan bisa memobilisasi untuk melancarkan aksi kekerasan massal.

Dalam keber-agamaan (religiosity) juga ada kepribadian-kepribadian semacam ini. Kalau mau dianalisa bisa dengan melihat praktik-praktik keber-agamaan yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Orang-orang yang memiliki kepribadian otoritarianisme, selalu menggunakan cara pandang oposisi biner keliru-benar, hitam-putih, buruk-baik, kami benar dan kalian keliru. Itulah kacamata yang digunakan.Padahal sering kan kita dengar pendakwah-pendakwah yang menyampaikan bahwa ijtihad dapat menghasilkan kebenaran atau kekeliruan, kalau benar berarti dapat dua pahala dan kalau salah dapat satu pahala. Ada pula yang mengatakan bahwa setiap kita menyampaikan kebenaran, tetapi dalam kebenaran itu ada kekeliruannya. Dan di dalam kekeliruan ada kebenarannya. Artinya di sini adalah bahwa kita tidak bisa memandang perilaku keagamaan dengan cara pandang oposisi biner tersebut.

2 thoughts on “Berkaca Pada Kepribadian Otoritarianisme

  1. Sepertinya benar bahwa alam menciptakan oposisi biner seperti terlihat dalam filsafat orang awam seperti saya :segala sesuatu berpasang-pasangan. Apakah otoritarianisme akan tampak bila tanpa pengecut? Dan saya ikut heran pada analisa Adorno bila kemampuan daya pikir orang Jerman yg dipengaruhi para filsuf terkenal akan secara otomatis akan membuat mereka jadi bangsa pemberani. Sepertinya berpikir adalah satu soal dan keberanian melawan otoritariasme adalah soal yang lain..

    • jadi anda mencoba memisahkan ya, bagaimana jika ternyata faktor psikis lebih dominan daripada faktor rasional? Bagaimana jika ketidak beranian melawan otoritarianisme itu ternyata timbul akibat persetujuan alam bawah sadar terhadap otoritarianisme?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s