Tabur Bunga di Makam Pahlawan Adalah Bid’ah


Perburuan bid’ah di negeri ini belum tuntas bagi orang-orang Wahabi, mereka terus melompat dari mimbar ke mimbar, dari media ke media, dari acara ke acara untuk menyebarkan ajaran anti bid’ah mereka. Wahabi termasuk dari golongan-golongan puritan, atau kelompok yang ingin memurnikan agama dengan mengembalikan praktik-praktik dan ritual keagamaan sesuai dengan zaman generasi keemasan Islam, yaitu pada masa tiga abad pertama hijriah. Karena menurut mereka generasi tiga abad pertama dalam Islam adalah generasi yang paling murni dan dekat Islamnya sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi. Namun Wahabi di era sekarang tidak seperti di masa founding father-nya yaitu Muhammad Ibn Abd al-Wahab yang bersama dengan klan Saud memberontak dari imperium Ottoman atau Utsmani dan mendirikan Saudi Arabia. Sekarang ini Wahabi tidak berjuang di ranah politik, berbeda dengan jenis kelompok puritan lain yang berjuang di medan politik seperti Hizbut Tahrir, walaupun keduanya juga kadang saling serang mengatakan bid’ah atas sesama mereka.

Tetapi kalau di Indonesia ada FPI yang bergerak melakukan perburuan bid’ah secara massif dan frontal turun ke jalan. Sementara Wahabi di Indonesia jauh berbeda, gerakan mereka halus dan berkamuflase di balik pengajian-pengajian, ceramah-ceramah shubuh di televisi atau di radio, atau menyebarkan bulletin-bulletin dan juga mendirikan lembaga pendidikan. Seperti pernah saya tulis beberapa waktu lalu mengenai haram dan syiriknya Sumpah Pemuda serta Obor Sea Games, atau syiriknya ideologi selain Islam yang berarti Pancasila juga turut dibilang syirik, dan tudingan adanya gerakan pemusyrikan generasi muda melalui Song, Sports, Sex. Sekarang kembali lagi saya dengar tudingan mereka menjelang hari Pahlawan. Terus terang dan maaf saja jika saya menganggap bahwa Bekasi telah menjadi kota Wahabi, sebab ada beberapa masjid yang memang rutin mengadakan pengajian-pengajian kelompok ini.

Kelompok Wahabi selalu menyerang empat praktik utama yang menurut mereka banyak dilakukan oleh orang-orang Indonesia, yakni Syirik, Bid’ah, Takhayul, dan Khurafat. Mereka secara tegas menolak dan mempunyai misi untuk memberantas praktik-praktik tersebut di bumi Nusantara, sekalipun harus menerobos dinding budaya, seni, dan pengatas-nama-an lain yang seolah melegalkan empat hal itu. Dan menjelang hari Pahlawan, mereka kembali menyatakan bahwa bid’ah hukumnya menabur bunga di atas makam serta membangun bangunan di atas makam, karena Nabi melarang dan tidak pernah melakukannya. Oleh karena itu perayaan hari Pahlawan yang sering dilakukan oleh Presiden Indonesia dengan menabur bunga di makam para pahlawan adalah sesuatu yang bid’ah. Padahal kalau sudah dibilang bid’ah berarti hukumnya sesat sebagaimana hadis yang sering mereka ulang-ulang bahwa setiap perbuatan bid’ah itu adalah sesat, kullu bid’atin dholalah. Dan setiap kesesatan tempatnya di neraka, wa kullu dholalatin fi al-naar.

Karena pemimpin negara ini juga melakukan praktik kesesatan maka dalam anggapan mereka adalah wajar jika Indonesia selalu mendapatkan musibah dan bencana. Salah satunya yang dapat mengangkat semua krisis yang melanda di negeri ini adalah meninggalkan praktik-praktik Syirik, Bid’ah, Takhayul, dan Khurafat itu. Termasuk krisis ekonomi, pangan, pemanasan global yang sekarang melanda dunia, menurut mereka jalan keluarnya adalah umat manusia harus meninggalkan praktik-praktik di atas. Karena dengan demikian nantinya Tuhan akan menepati janjinya membuka pintu rizki. Tetapi di Indonesia saja pemimpin negaranya sudah melakukan bid’ah dan masyarakat selalu memilih pemimpin yang berbuat bid’ah, maka jelas pintu rizki tertutup bagi negeri ini.

Mereka membandingkan dengan semisal di Saudi di mana makam-makam di sana bentuknya rata dengan tanah dan hanya ada batu kecil sebagai penanda. Seperti kalau kita lihat di bukit Uhud, makam sahabat yang gugur di sana tidak berbentuk gundukan, melainkan rata tanah dan hanya diberi tiga batu sebagai penanda batas antara makam yang satu dengan yang lainnya. Sedangkan di Indonesia, sudah diberi pinggiran semen, dibangun pusara, dan terkadang ada pula yang melapisi liang kuburnya dengan menyemen tanah. Kemudian ditambah lagi dengan taburan bunga, berarti kesesatan yang dilakukan orang Indonesia sudah berpangkat-pangkat yang menandakan pangkat dosa-dosanya pula. Jadi balik lagi kesimpulannya apabila Indonesia ingin terlepas dari krisis maka harus meninggalkan praktik-praktik yang disebut Syirik, Bid’ah, Takhayul, dan Khurafat, walaupun dikemas dalam bingkai seremonial kenegaraan, budaya bangsa, seni dan sebagainya. Tetapi hidup di zaman sekarang di mana apa saja bisa dikapitalisasi, maka produksi kelompok-kelompok puritan semacam Wahabi juga bergantung pada demand pasar. Kalau pasar menjadikan mereka komoditas paling populer, ya apa boleh buat.

ps. Makanya seni pahat patung cuma berkembang di Bali dan Papua.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s