Atut, Dana Hibah, dan Dinastinya


Biasanya lepas tengah malam Metro TV menampilkan tayangan-tayangan ulang. Dan semalam ketika saya bergadang, Metro Realitas membahas soal kucuran dana Hibah Gubernur Banten yang diduga digunakan untuk memenangkan dirinya dalam Pilkada Gubernur Banten tempo lalu. Sebelumnya ICW telah menemukan ada 10 lembaga penerima dana hibah yang dinilai fiktif. Bahkan ketika ditampilkan di Metro Realitas, semisal ada yayasan sosial atau lembaga pendidikan di daerah A, namun ketika ditelusuri melalui alamat yang tertera nyatanya hanya bangunan kecil tak berpenghuni, ada pula yang memang benar-benar fiktif.

Entah kebetulan atau bukan, pagi harinya saya sempat berbincang dengan kawan saya seputar pemilu di Banten. Tetapi waktu itu saya sama sekali tidak tahu tentang Banten dan seluk beluknya. Apalagi soal dana hibah tersebut. Namun yang saya tangkap dari perbincangan itu bahwa sedang ada pendirian dinasti baru yang ingin menguasai Banten, yakni dinasti keluarganya Ratu Atut, sebab beberapa jabatan penting di kepemerintahan daerah dipegang oleh orang-orang yang masih ada hubungan kekerabatan dengan keluarga besarnya. Lucu juga ya di Indonesia ini, meski bilangnya sudah berdemokrasi tetapi masih saja ada feodal-feodal kecil di tiap daerah. Dalam perbincangan itu saya juga baru tahu kalau Gubernur Banten sekarang adalah keturunan tokoh berpengaruh di Banten. Dan lagi-lagi otoritas kharisma ala pemikiran politik Weberian masih tetap laku dijadikan strategi kuasa.

Meskipun muncul isu tentang dana Hibah, tetapi tetap saja pasangan Atut-Rano memenangi pemilu. Dan di Liputan6, ada berita tersebarnya video yang memerlihatkan pejabat daerah mengarahkan anak buahnya untuk memenangkan pasangan Atut-Rano. Tetapi semua tudingan seputar dana Hibah itu ditepis oleh Rano Karno. Strategi Atut yang menggaet Rano sangat cerdik guna menahan serangan dari publik, secara Rano Karno selama ini juga merupakan figur kharismatik di mata publik. Dan sekarang kalau boleh dikatakan borokborok itu mulai muncul dipermukaan sekalipun oleh Rano dianggap sebagai black campaigne atau kampanye negatif. Tetapi bagaimana jadinya jika benar apa yang diungkap oleh ICW bahwa ada dugaan aliran dana suap, korupsi, penggelapan, dan sebagainya ke lembaga-lembaga fiktif. Masihkah para pendukung dinasti Atut ini terus menepis hal tersebut.

Namun lagi-lagi dituntut keberanian KPK untuk mengusutnya walau kondisi KPK belakangan tengah goyang. Dan akan menjadi polemik lagi apabila ternyata partai-partai politik di pusat ada yang melirik dan menjadikan kemenangan Atut sebagai potensi untuk mendulang suara. Mereka akan berusaha mendekati dinasti ini di Banten agar mau bekerjasama demi meraih suara di 2014 nanti, dikarenakan kemenangan Atut di putaran pertama yang meraup sekitar 4 juta orang atau 50% lebih, adalah prestasi sekaligus potensi tersendiri. Maka jika ada partai politik yang tak ingin kepentingan perolehan suara ini diganggu oleh KPK, mereka akan serta merta menghalang-halangi upaya pengusutan terhadap Gubernur Banten terpilih tersebut. Tapi tinggal di negara marketing, makelar everything, pasti selalu ada kompromi. Transaksi sudah menjadi bagian dari politik hari ini. Bukannya politik hukum tetapi yang ada justru hukum dipolitisir. who cares lah.

ps. agen-agen marketing harap berkumpul di Banten ASAP.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s