Gelar, Bahasa dan Status Sosial


Di Mesir Ustaz artinya professor. Kalau belum bergelar Doktor (atau dalam bahasa Arab Duktuur), maka tidak bisa merangkak naik menjadi Professor atau al-Ustaz al-Duktuur. Artinya, Ustaz adalah gelar akademis. Berbeda dengan di Indonesia yang menjadi gelar sosio-kultural sehingga fenomena munculnya Ustaz di Indonesia bak kacang goreng yang sangat mudah diperdagangkan. Punya manager, road manager, dan sebagainya. Tetapi itulah makna sosiologis yang hampir tidak bisa dilepaskan dari bahasa. Setiap kata di suatu daerah bisa jadi berubah maknanya di daerah lain. Sedangkan kata ‘Ulama, di Timur Tengah yang namanya ulama tidak terbatas pada bidang ilmu-ilmu keagamaan. Tetapi mencakup bidang-bidang lainnya, seperti pakar-pakar di bidang sains; kedokteran, fisika, dsb. Begitu juga dengan di bidang filsafat, humaniora, art, dsb. Bisa dikatakan ‘Ulama berarti kalangan intelektual karena berbentuk plural atau jamak, sedangkan bentuk singular atau mufrod-nya adalah ‘Alim.

Lalu mengapa terjadi pergeseran makna yang menyempit seperti ini? Bisa jadi dikarenakan proses transmisi keilmuan dari suatu daerah yang memiliki bahasa ibu adalah bahasa Arab ke daerah yang bahasa ibunya bukan Arab dan kemudian terjadi penyerapan bahasa. Sosok atau agen yang mentransmisikan keilmuan itu menggunakan sebutan ‘Ulama, dan materi yang ditransmisikan terbatas hanya di bidang keagamaan, maka makna sosiologisnya dilekatkan kepada kata tersebut. Akhirnya pengakuan masyarakat muncul bahwa ‘Ulama, Ustaz, Syaikh adalah sang pemegang otoritas ilmu-ilmu keagamaan dan tentunya agama itu sendiri.

Demikian pula kata Sheik atau Syaikh artinya tetua atau yang dituakan bisa dalam agama atau pimpinan politik. Seperti contohnya Syaikh Thantawi yang pernah menjabat sebagai Syaikh al-Azhar, dia juga punya gelar akademis al-Ustaz al-Duktur. Syaikh berbeda dengan rektor universitas dan kedudukannya lebih tinggi dari rektor, bisa mengeluarkan fatwa, dan mempunyai dewan Syaikh atau Masyayikh. Tetapi ada pula di tengah masyarakat orang-orang yang dipanggil Syaikh. Dulu ketika di masa Ottoman atau imperium Utsmani ada gelar Syaikh al-Islam yang ternyata juga memegang kewenangan politik yang serupa dengan seorang legislator. Meski dijabat oleh satu orang tetapi berfungsi sebagai lembaga legislatif bisa mengeluarkan fatwa di mana fatwa pada masa itu juga setingkat dengan undang-undang. Di negara-negara shi’ah atau syi’ah sekarang ini, fungsi Syaikh al-Islam semacam itu dipegang oleh orang-orang yang bergelar Ayatullah. Sementara itu di negara seperti Qatar, jabatan Emir atau pemimpin negara dipegang oleh seorang Syaikh.

Di Indonesia semua gelar-gelar ke-araban ini tereduksi menjadi gelar sosio-kultural atau lebih spesifik adalah gelar keagamaan. Bahkan lebih tumpang tindih lagi ketika ditambahkan gelar lainnya yang berasal dari istilah lokal seperti Kiai dan Tuan Guru, serta yang berasal dari silsilah kekeluargaan atau etnis seperti Habib dan Syarif. Semua saling berpadu mengurusi agama dan berlomba-lomba menempati struktur hierarki keagamaan menjadi siapa yang paling otoritatif, walaupun katanya dalam kerangka Sunni tidak ada sistem hierarki kependetaan. Karena apa? karena di Indonesia yang namanya agama terus dikerahkan untuk memasuki semua lini, dari politik hingga kultur. Agama kerap dijadikan portal untuk mengakses lingkaran elit negeri. Menariknya sampai sekarang mungkin ada Tuan Guru yang jadi Gubernur atau Kiai jadi mentri dan presiden, tetapi bagaimana dengan seorang Habib dan Ustaz?

Begitu juga dengan gelar Haji, berapa banyak orang Indonesia yang berlomba-lomba ingin dicantumkan sebagai Haji untuk meningkatkan statusnya di masyarakat. Dulu ketika tahun 2003 saya pergi Haji dari Mesir, terus terang kata Haji itu menjadi panggilan khas para penyedia jasa dorong dan pedagang untuk merayu jemaah Indonesia. Yang saya aneh pula, ada beberapa mahasiswa Indonesia yang pernah Haji dan tak pernah mencantumkan gelar Haji tersebut selama di Mesir, namun ketika pulang ke Indonesia langsung dipakailah di depan namanya. Mungkin ingin menunjukkan dirinya sudah berhaji. Tetapi jelas dalam pandangan saya motifnya adalah status sosial.

Gelar-gelar keagamaan seperti yang saya sebutkan di atas turut meningkatkan status prestise seseorang, bisa dijadikan sumber daya untuk melancarkan strategi kuasa. Apalagi kalau dipakai di Pilkada, bisa menjangkau kalangan yang lebih luas di akar rumput. Begitulah kalau tinggal di negara marketing alias makelar everything, imej adalah yang paling penting.  Sementara di lain sisi, orang-orang yang menggunakan gelar-gelar keagamaan ini mulai mendapat tantangan dari orang-orang yang menggunakan gelar-gelar akademis yang sering dibilang gelar sekuler seperti sarjana, master, doktor. Karena itu untuk menambah prestis lagi mereka pun juga memasuki wilayah tersebut. Sehingga sudah jadi Kiai, Haji, Doktor, Magister, Sarjada, ditulis panjang-panjang di kartu nama. K.H. DR. Fulan, MA, M.Hum, S.E, M…, S…, M…, S…, belum lagi kalau dia juga punya pengajian sendiri di perumahan tempat tinggalnya atau sering dipanggil shubuh-shubuh ke stasiun televisi, ditambah lagi dengan gelar Ustaz. Apa nggak tambah keren tuh.

ps. Selamat datang di era baru industrialisasi dan komersialisasi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s